Adiba memperbaiki letak kaca matanya canggung. Tatapan intens Vandra yang ada di hadapannya entah bagaimana bisa membuat dirinya benar-benar kaku. Bahkan untuk sekedar bergerak rasanya ia malu.
"Kenapa?" tanya Adiba akhirnya. Meski terasa kelu, tapi ia paksakan diri membuka suara.
Vandra malah terkekeh pelan. Ia tahu Adiba tengah salah tingkah. Reaksi cewek itu sungguh di luar dugaannya. Jika sebelumnya wajah datar itu yang akan menyambutnya, maka kali ini berbeda dan Vandra merasa bahagia karenanya.
Wajar, sebab selama satu bulan lebih semenjak Vandra mulai mendekati Adiba, ini yang pertama kalinya Vandra melihat Adiba salah tingkah hanya karena tatapannya.
"Dib, lo pernah suka sama seseorang?" tanya Vandra mengabaikan pertanyaan Adiba sebelumnya.
Adiba mengangkat wajah lalu memandang Vandra. "Pernah," jawabnya jujur. Entah apa yang merasuki Adiba sampai mau menjawab pertanyaan macam itu.
"Serius?" tanya Vandra memastikan.
Gerakan tangan Adiba yang menulis beberapa rumus terhenti. Cewek itu kembali memandang Vandra lalu bertanya, "Kenapa? Salah ya kalau orang seperti aku suka sama seseorang?"
"Bukan gitu maksud gue, Dib," ralat Vandra cepat sebelum Adiba salah paham. "Cuma yang gue denger selama ini, lo nggak pernah jatuh cinta," lanjutnya.
"Kamu percaya?"
Bukannya menjawab, Vandra malah menggaruk tengkuknya. Tentu saja ia percaya akan gosip itu, tapi pengakuan Adiba kali ini membuatnya berpikir untuk tidak menelan mentah-mentah gosip yang beredar.
"Kalau sekarang gimana? Lo lagi suka seseorang nggak?" tanya Vandra lagi.
"Udah selesai, kamu yang kumpulin." Mengabaikan pertanyaan Vandra, Adiba menyerahkan tugas kelompok kimia mereka pada cowok itu. Kebetulan sekali, mereka disatukan dalam kelompok tersebut.
Vandra tentu sangat bersyukur. Selain nilainya akan terjamin, ia juga punya kesempatan berduaan dengan Adiba. Memang, sebelum pergi karena ada urusan mendadak, Bu Siti--guru kimia mereka--memberi tugas kelompok dengan jumlah anggota dua orang dan beliau berpesan seluruh murid bisa mengerjakan tugas itu di mana saja asal tidak mengganggu kelas lain. Bahkan di kantin pun bisa sehingga sebagian teman-teman kelasnya lebih memilih di kantin sekalian untuk mengisi perut.
Sementara Adiba dan Vandra mengerjakan di taman belakang sekolah. Adiba tidak bisa menolak, Vandra memaksanya ke tempat tersebut dengan ancaman akan memberitahu Bu Siti jika ia tidak mengerti sama sekali karena Adiba tidak menjelaskan kepadanya.
Alhasil Adiba menurut. Meski demikian, Adiba sendirilah yang bersusah payah menyelesaikan tugas tersebut. Vandra tentu tak mau ambil pusing. Jika ditanya, cowok itu pasti akan mengatakan bahwa ia bukan ahlinya.
Tahu jika Vandra memang tidak mengerti, tadi Adiba sempat menawarkan diri untuk menjelaskan karena ia juga merasa bertanggung jawab atas pemahaman teman kelompoknya, tetapi Vandra menolak. Ya sudah, Adiba tidak memaksa. Toh yang rugi itu Vandra, bukan dirinya. Selama Vandra tidak mengadu macam-macam kepada Bu Siti, ia aman.
"Mau kemana?" tanya Vandra saat melihat Adiba beranjak dari duduknya.
"Kelas," jawab Adiba seadanya.
"Eh, tunggu bentar."
Vandra ikut bangkit lalu mendekatkan tubuhnya ke Adiba. Adiba membelalak kemudian mundur satu langkah.
"Ma-mau apa?" Adiba tergagap.
Vandra hendak mengangkat tangannya tetapi tidak jadi karena Adiba malah semakin beringsut menjauh. Paham akan ketakutan Adiba, Vandra mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin jika Adiba sampai salah paham pada dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vandra [Completed]
Ficção AdolescenteBlurb : Vandra tak pernah menyangka jika ia akan menaruh hati pada Adiba. Taruhan konyol yang ia lakukan bersama sahabat-sahabatnya justru berujung suka. Adiba, gadis kaku yang katanya tak mengenal cinta. Akankah Vandra mampu 'tuk memenangkan hatin...
![Vandra [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/248950879-64-k41274.jpg)