"Helo, epribadeh."
Vandra membanting tubuhnya di atas kasur king size milik Gilang. Cowok itu baru saja tiba di sana dan ia sudah membuat keributan dengan suara kerasnya.
"Apa sih lo, Van. Dateng-dateng gaduh," sinis Mahendra sembari memutar bola mata.
"Gue lagi bahagia banget."
Vandra mengguling-gulingkan tubuhnya dengan senyum lebar hingga membuat keempat cowok yang sedang duduk di karpet merah itu menatapnya heran.
"Kenapa lo? Habis menang lotre, ya?" tanya Mahesa.
Vandra bangkit dari tidurannya. Cowok itu lantas menghampiri empat sahabatnya lalu duduk bersila tepat di samping Raka.
"Tebak, siapa yang gue anterin tadi sore?" tanyanya masih dengan senyum lebar yang belum pudar.
Gilang, Mahendra, Raka, dan Mahesa mengalihkan fokus ke arah Vandra. Keempat cowok itu memandang Vandra penuh tanya. Tidak biasanya sahabat mereka itu terlihat bahagia hanya karena hal sepele macam itu.
"Siapa?" tanya Vandra lagi.
"Adiba?" jawab Gilang yang lebih mirip pertanyaan.
"Seratus persen buat lo," balas Vandra sembari mengacungkan jempolnya ke hadapan Gilang.
"Serius lo?" Mahesa masih belum yakin.
"Seriuslah, ngapain gue bohong."
"Lo seneng banget kayak gini cuma karena bisa nganterin Adiba pulang? Wah parah lo, Van. Kalau nanti pacaran gimana, ya? Ditambah mobil Gilang juga. Jangan-jangan jungkir balik lo saking bahagianya." Mahendra geleng-geleng tak habis pikir.
"Kalau gue sama Adiba pacaran, gue traktir lo pada, beneran deh."
"Kok gue nggak yakin, ya, lo bisa jadian sama Adiba."
Vandra bedecak. "Lo jangan matahin semangat gue gini dong, Dra. Gak seru lo, ah."
"Lagian lebay banget lo. Nganterin pulang aja sampai segitunya."
Vandra menyengir. "Sebenarnya bukan cuma itu aja sih yang buat gue seneng banget kaya gini." Vandra memandang sahabatnya satu-satu. "Sore tadi Papa ngasih gue jam," lanjut Vandra.
"Lo sama Om Darka udah baikan?" tanya Raka membuka suara.
Vandra menggeleng. "Nggak juga, sih. Gue masih masang muka dingin."
"Menurut gue nih, ya, lo kayaknya harus mulai semuanya dari awal. Lo harus nerima Om Darka. Kasih kesempatan buat dia perbaiki semuanya," ujar Gilang seraya menepuk pundak Vandra.
"Gue masih mikir. Gue kayak ragu gitu. Dahlah jangan bahas itu dulu. Gue ke sini mau seneng-seneng, kalau mikirin itu nggak tenang rasanya."
"Van, lo beneran suka sama Adiba atau gimana?" tanya Mahesa mewakili yang lain karena sejujurnya mereka merasa perhatian Vandra terlalu berlebihan jika hanya untuk memenangkan taruhan.
"Nah, itu juga yang mau gue omongin sama kalian makanya ngajak ngumpul gini. Jujur aja, sebenarnya gue suka sama Adiba. Gue beneran udah jatuh cinta sama dia dan, yah, gue serius deketin dia," aku Vandra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vandra [Completed]
Teen FictionBlurb : Vandra tak pernah menyangka jika ia akan menaruh hati pada Adiba. Taruhan konyol yang ia lakukan bersama sahabat-sahabatnya justru berujung suka. Adiba, gadis kaku yang katanya tak mengenal cinta. Akankah Vandra mampu 'tuk memenangkan hatin...
![Vandra [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/248950879-64-k41274.jpg)