Tanyakan pada hatimu terlebih dahulu,mampukah ia bertahan jika berjalan di atas duri?
"Oxy!" Panggil Steve berteriak. Sungguh Steve tidak percaya dengan yang terjadi pada sahabatnya ini, benar-benar mengenaskan. Beberapa botol alkohol sudah diteguk habis oleh laki-laki itu, mata Oxy sudah sangat memerah, kepalanya juga pasti sangat pusing sekarang.
"Lo apa-apaan hah!" Bentak Steve sembari merebut segelas alkohol yang hendak ia teguk.
"Lo udah nggak waras ya? Jangan kaya gini xy!"
"Buset,gila si Oxy! Udah Steve lo mendingan bawa Oxy balik ke apartement nya, karena nggak mungkin kalau kita bawa dia pulang ke rumah." Ujar Raka yang baru saja datang ke tempat hiburan malam tersebut.
Steve memapah tubuh lemas Oxy dengan bersusah payah menuju parkiran.
"Nyusahin banget lo, mana berat lagi. Untung temen." Cibir Steve yang kesusahan saat membantu Oxy masuk ke dalam mobilnya. Mata Oxy sudah terpejam,ia tak sanggup menahan pusing yang menyerang kepalanya dengan sangat hebat.
Dengan segera Steve melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia melirik wajah sahabatnya yang terkulai lemah itu, penampilannya terlihat sangat berantakan. Ia yakin pasti Oxy sedang tertekan saat ini,meskipun ia belum mengetahui masalah apalagi yang tengah dihadapi oleh sahabatnya. Padahal sudah lama semenjak Cemara hadir di kehidupan laki-laki itu, Oxy tidak lagi datang ke Club. Sekalipun Oxy datang pada acara-acara tertentu ia bahkan tidak lagi menyentuh minuman haram itu. Ternyata Oxy sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk gadis itu, meski sebenarnya Axell dengan Oxy sangatlah berbeda.
Steve langsung membaringkan tubuh sahabatnya dikamar sesampainya ia di Apartement itu. Untung saja ia sudah menanyakan password Apartement itu pada Azka. Ah, mungkin untuk sementara waktu ia akan tinggal disini dulu sampai ia tahu masalah yang tengah dihadapi Oxy. Karena jika Oxy dibiarkan begitu saja pasti ia akan melakukan hal yang lebih parah dari ini.
*****
Nafas Cemara tercekat ketika matanya menatap nisan kekasihnya yang sudah tiada. Berulang kali ia memejamkan matanya dan membuka matanya kembali, seolah tak percaya bahwa ia telah kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidupnya. Tidak ada yang baik-baik saja dengan perpisahan, rasanya menyakitkan. Ia menatap Bundanya, kemudian Viera memeluk Cemara dengan sangat erat. Dan saat itulah Cemara tak sanggup menahan tangisnya.
"Bunda, katakan jika ini semua bohong!" Ucapnya parau.
Viera ikut meneteskan air mata, "Ara,Bunda minta maaf sayang, maafkan Bunda nak." Ia tak sanggup melihat putrinya menangis pilu dipelukannya.
"Axell sudah tenang sekarang, jangan membuatnya bersedih disana ra, Axell pasti tidak suka melihatmu menangis bukan?"
Tangis Cemara semakin pecah ketika Bundanya mengatakan hal tersebut, kenangan ketika mereka bersama sejak kecil kini membelenggu di dalam pikirannya.
'Ala mau kemana? Ini udah mau malam, nanti dicaliin Bunda!' Teriak Axell kecil menghampiri Cemara.
Cemara kecil menoleh kepada anak laki-laki yang berlari lambat itu, 'Ayo cepat, aku mau lihat senja!'
'Kalau aku besal nanti, aku mau membangun lumah yang besal disini.' Ucap Axell berandai-andai.
'Bicaralah dengan jelas!" Cemara memukul lengan Axell.
KAMU SEDANG MEMBACA
OxyLeon
Teen FictionTerbangun dari masa koma dan kembali melihat megahnya dunia, bahagia itu lah yang dirasakan oleh Cemara. Gadis cantik pengidap kanker darah itu harus menelan kenyataan pahit, ketika harapannya terbangun dari masa koma ia bisa melihat seseorang yang...
