Nb : disarankan untuk membaca part sebelumnya, biar gak lupa sama alur.
Revisi dimulai dari part ini, ada beberapa hal yang sengaja dirubah guna memperbaiki cerita agar lebih layak dibaca dan semakin menarik.
Sebab karya yang baik bukan tentang kecepatan melainkan kualitas❤
Selamat membaca...
Di penghujung sore, sekumpulan remaja menikmati sang penerang yang sebentar lagi akan mengundurkan diri. Mereka sengaja berkumpul, melepaskan beban dan penat sejenak. Mereka duduk di tepi pantai, pada hamparan pasir putih yang meninggalkan jejak. Senja tidak sementara, senja akan selalu hadir. Mereka hadir untuk menyapa senja, Oxy terduduk diam mendengarkan alunan musik yang dipetik oleh temannya, sesekali Mamon bernyanyi dengan penuh semangat hingga ia berteriak kencang. Sementara Azka, ia ikut bernyanyi ditemani dengan es kelapa muda ditangannya.
Raka merangkul pundak Oxy, menepuk-nepuknya pelan, dan kemudian ia berkata, "Sorry buat kejadian kemarin, gue kebawa emosi. Gue seneng lihat lo mau keluar dan kumpul lagi bareng anak-anak." ujarnya tersenyum.
Oxy menoleh ia membalas senyuman yang serupa, ia juga membalas dengan merangkul pundak temannya itu.
"It's okay, cuma lo harus bisa ngontrol diri lo lagi supaya orang lain nggak jadi korban lo. Gue juga berterima kasih sama lo, lo mau tanggung jawab dan thanks udah ada disaat gue down." balas Oxy.
"Nah gitu dong! Kita ini kan brother," ucap Azka mengacungkan dua jempolnya ke arah Raka dan Oxy.
Perlahan Oxy menyentuh matanya yang masih berbalut kain kasa itu, ia terkekeh dalam hati, jika dulu ia hanya beradu fisik di gelanggang, kini ia sudah mulai berani bertengkar di sekolah bahkan dengan temannya sendiri. Ini adalah kali pertama ia bertengkar hebat dengan temannya.
"Kenapa Xy? Tenang aja kali, kadar ketampanan lo nggak bakal berkurang cuma karena muka lo sekarang lebih mirip sama kapten bajak laut!" celetuk Mamon.
Sial, jadi Mamon sebenarnya memuji atau mengejeknya?
"Sadar nggak? Kita itu selalu senasib dalam segala hal, dari yang kita broken home sampai kasus percintaan kita yang sama-sama ditinggalin cewek, dan bahkan kita jadi gila karena itu." ujar Azka.
"Hal itu terjadi disinyalir karena terjadi konsleting otak yang terjadi pada leader kita dan pada akhirnya merambat pada anggota lain." sahut Mamon yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Azka.
"Lo yang konslet!"
Sementara yang lain tertawa mendengarnya, kehilangan seseorang yang berarti memang menyakitkan, namun kita juga tidak boleh kehilangan semangat untuk tetap hidup dan menjalani hari-hari selanjutnya yang sudah dipastikan akan lebih banyak kejutan.
"Gue kangen Shila," adu Raka tiba-tiba. Ia menundukan pandangannya.
"Gue juga kangen Cemara!" timpal Oxy.
Azka tersenyum kecut, "Apalagi gue, bahkan udah setahun lebih gue nggak lagi dapet kabar tentang Beta."
"Kenapa malah adu nasib sih lo pada! Lo nyindir king jomblo ini? Dasar temen, akhlaknya juga ikutan konslet!" cibir Mamon yang merasa tersindir, sebab hanya ia sendiri yang sering tertolak oleh para gadis. Padahal jika dilihat-lihat, Marcell juga tidak kalah tampan dengan teman-temannya.
"Gue kangen masakan Mama, gue kangen pelukan Papa setiap pulang kantor. Gue kangen orang tua gue disini." ucap Steve dengan pandangan lurus kedepan. Namun tak bisa disangkal lagi, sorot mata Steve tak bisa membohongi perasaan penuh luka dalam hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OxyLeon
Roman pour AdolescentsTerbangun dari masa koma dan kembali melihat megahnya dunia, bahagia itu lah yang dirasakan oleh Cemara. Gadis cantik pengidap kanker darah itu harus menelan kenyataan pahit, ketika harapannya terbangun dari masa koma ia bisa melihat seseorang yang...
