Hari-hari Oxy lalui, ia kembali dengan hidup monotonnya. Membolos sekolah, berkumpul dengan temannya, keluar masuk club malam dan jangan lupakan hobby nya yang kini kembali ia lakoni. Apalagi yang ia cari? Oxy mencari kesenangan pribadinya, meskipun begitu, semua usaha yang ia lakukan tidak membuatnya bahagia. Bahkan ia tidak mengerti apa definisi bahagia?
Hubungan keluarga dan percintaannya hancur di tengah jalan. Ia tersenyum getir, menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin di depannya. Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki sepertinya? Perkataan Papanya benar, ia anak tak berguna.
Oxy benci dirinya sendiri, ia menonjok keras Cermin di depannya hingga hancur. Darah segar mengucur dari buku jari-jari tangan laki-laki itu. Jangan ditanya sesakit apa rasanya? Yang jelas Oxy mati rasa.
Bagi orang yang menderita self injury atau Self harm, ia mungkin akan merasakan sensasi ketenangan dan kepuasan yang sifatnya sementara. Namun kemudian, perasaan bersalah akan muncul diikuti dengan kambuhnya rasa amarah dan frustasi yang membekap perasaannya.
Mereka sering menyakiti diri sendiri dikarenakan sulit bagi penderita self harm untuk mengendalikan atau mengungkapkan emosinya.
Tidak sampai disitu, Oxy mengambil cutter yang ada pada lacinya mejanya. Ia dengan sengaja menyayati tangannya dengan bertubi-tubi. Seakan ia benar-benar sudah tidak merasakan sakit lagi, padahal darah segar mulai mengucur kemana-mana. Bahkan sampai menetes ke lantai.
"Kenapa Tuhan nggak ambil nyawa gue dari dulu?" gumam Oxy disela kegiatan menyakiti dirinya, air mata laki-laki itu ikut menetes.
Bayangan-bayangan penyiksaan yang dilakukan Papanya kini berputar bagaikan film di kepala Oxy, ia mulai bisa mengingat kembali kejadian-kejadian mengerikan yang menimpanya saat ia masih kecil.
"Padahal Oxy nggak ngelakuin apa-apa Pa, Oxy nggak membunuh calon adik Oxy sendiri," lirihnya.
Oxy terus bermonolog. Ia sedang berada pada titik dimana ini lah hari kehancurannya. Kamar ini lah yang menjadi saksi bagaimana setiap malam laki-laki itu selalu mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Namun Oxy selalu gagal melakukannya, sebab Azka selalu berhasil menggagalkan rencananya.
"Gue mau mati!"
Brakkk!!!
Pintu kamar Oxy berhasil didobrak, Oxy menoleh kebelakang. Ia terkejut melihat seseorang yang berdiri mematung diambang pintu.
"Oxy?" lirih wanita itu sembari membekap mulutnya.
Sontak Oxy langsung menegakkan badannya, ia berjalan mundur perlahan.
"Ingin apa anda kemari?" tanya Oxy dingin.
"Oxy, ini Mama nak, apa yang kamu lakukan? Tolong jangan menyakiti dirimu sendiri! Letakkan cutter itu nak,"
Hilda meminta dengan amat sangat lembut pada putranya itu, tak ingin membuat putranya ketakutan atas kehadirannya.
Azka pun demikian paniknya, namun sebisa mungkin ia menyembunyikan itu, ia datang kemari dengan Mama nya Oxy karena atas permintaannya sendiri. Ia cukup frustasi menghadapi sahabatnya itu.
"M-mama?"
"Iya nak, ini Mama. Kemarilah nak, ayo peluk Mama mu, Mama mohon Oxy! Letakan benda itu!"
"M-mama? Mama? Apa aku punya Mama? Aku tidak punya Mama! Jangan mendekat padaku," sentak Oxy. Ia semakin berani menodongkan cutter itu pada tangannya sendiri jika Mamanya berani mendekatinya.
Hilda menggeleng kuat, tangisnya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Melihat keadaan anaknya yang kacau membuat hatinya tersayat hebat.
"Oxy, tenang dulu. Dia nyokap lo, orang yang udah berjasa ngelahirin lo, sadar Xy!" ucap Azka yang juga ikut membujuk Oxy.
KAMU SEDANG MEMBACA
OxyLeon
Fiksi RemajaTerbangun dari masa koma dan kembali melihat megahnya dunia, bahagia itu lah yang dirasakan oleh Cemara. Gadis cantik pengidap kanker darah itu harus menelan kenyataan pahit, ketika harapannya terbangun dari masa koma ia bisa melihat seseorang yang...
