"Ini hasilnya tuan," ucap Mark menyodorkan amplop cokelat berisi berkas.
Delon menerima berkas itu dan segera membukanya, Delon menajamkan matanya, ia cukup kaget dengan hasil yang terpampang jelas di depan matanya. Hasil tes DNA membuktikan bahwa anak itu adalah anak kandungnya.
"Kamu sudah memeriksanya dengan benar? Yang benar saja! Aku tidak percaya dengan ini!" protes Delon sembari melemparkan kertas itu ke sembarang arah.
Delon mengusap wajahnya gusar, sudah belasan tahun ia berusaha tenang dengan semua masalah yang setiap hari selalu meneror dirinya, tapi kali ini ia tak bisa menampiknya. Mau tak mau ia harus mempertanggung jawabkan apa yang telah ia perbuat.
"Saya harap tuan mau menerimanya, biar bagaimana pun dia adalah darah daging anda sendiri. Anda tidak bisa menyembunyikannya lagi tuan, sudah saatnya keluarga anda tahu yang sebenarnya."
Mark berkata dengan penuh ketegasannya, biar bagaimana pun ia juga tak bisa membiarkan masalah kian membelenggu tuannya itu. Sebagai orang yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Delon, Mark tak mau nantinya Delon akan semakin menyesal.
"Aku mungkin bisa menerimanya, Mark. Tapi bagaimana dengan istri dan anakku? Mereka tidak akan menerima kehadirannya, apalagi dengan Oxy, anak keras kepala itu pasti akan menjauhkanku dari Hilda!" Delon berkata dengan penuh keresahan.
"Mengapa anda takut dengan anak anda sendiri tuan? Bukan kah anda sudah lama membuangnya, lalu mengapa anda begitu mencemaskannya? Ingat tuan, anda akan semakin berdosa jika anda tidak mengakuinya. Tentang istri dan juga anak anda, mari kita bicarakan ini baik-baik. Karena akan lebih menyakitkan ketika mereka mengetahuinya dari mulut orang lain."
Delon semakin pusing mendengar ucapan Mark. Ia ingin cepat menyelesaikan masalahnya, tapi disatu sisi ia belum siap.
"Aku ingin kamu terus mengawasi mereka sampai aku siap untuk mengungkapnya."
"Tidak tuan, mau sampai kapan lagi anda bersembunyi? Mereka menderita tuan, hidup mereka tidak sama dengan kita. Bahkan wanita itu sampai mengalami gangguan mental!" Sanggah Mark tak terima.
Delon menggeram frustasi, ia membanting semua benda yang ada di meja kerjanya. "DIA MEMBUNUH ANAKKU, MARK! DIA MEMBUNUH AXEL, ADIKMU SENDIRI! BAGAIMANA AKU BISA MENERIMA KENYATAAN INI?!"
Delon tenggelam dalam lautan emosi, ia tak tahu harus mengambil keputusan bagaimana? Di umur yang sudah tidak muda lagi, Delon menyesali segala perbuatannya di masa muda.
"Saya mengerti, tapi orang yang mengidap gangguan jiwa tidak bisa dipenjarakan tuan. Saya juga terpukul ketika mengetahui fakta ini, saya sudah bersama dengan Axel sejak kami masih kecil, saya tahu rasanya kehilangan. Tapi tolong, jangan membuat masalah ini semakin runyam. Kita hanya manusia biasa, hanya Tuhan yang bisa membantu kita, mari kita selesaikan masalah ini."
"Bagaimana jika Hilda meninggalkanku? Bagaimana jika Oxy semakin membenciku? Bagaimana jika aku kehilangan semua yang ku miliki?" tanya Delon gusar.
Mark mengangguk mengerti, "Anda tidak akan kehilangan mereka, sebab cinta mereka lah yang akan pergi, anda sudah kehilangan cinta mereka sejak lama tuan, sejak anda mementingkan ego anda sendiri. Sejak seorang kepala rumah tangga dengan tega mengasingkan anaknya sendiri, padahal hanya dia satu-satunya harapan anda." kata Mark.
Mark benar, tanpa ia sadari ia sudah kehilangan semuanya. Delon menunduk rapuh, 12 tahun sudah ia tak lagi merasakan hangat dan utuhnya keluarga.
"Keluar lah, Mark! Aku akan memikirkan ini."
Mark pun mengangguk patuh, ia beranjak pergi dari ruang kerja Delon.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
OxyLeon
Ficção AdolescenteTerbangun dari masa koma dan kembali melihat megahnya dunia, bahagia itu lah yang dirasakan oleh Cemara. Gadis cantik pengidap kanker darah itu harus menelan kenyataan pahit, ketika harapannya terbangun dari masa koma ia bisa melihat seseorang yang...
