28. Rapuh

619 82 4
                                        

Percayalah rasanya menyakitkan, ketika kita tak lagi bertegur sapa, padahal hati kita masih dengan perasaan yang sama.

Oxy berjalan gontai melewati koridor sekolahnya. Banyak siswa dan siswi yang memandangnya dengan tatapan bertanya. Oxy tidak peduli, ia berjalan dengan angkuhnya. Ia tak mau dikasihani, meski sebenarnya ia miris melihat dirinya sendiri.

Beberapa lebam memang menghiasi wajah tampannya. Meskipun begitu, lebam itu seolah tidak mengurangi pesona seorang Oxylleon Hitgatama. Oxy tidak berjalan menuju kelasnya, ia lebih memilih berjalan ke kantin. Lagi pula ia belum mengisi perutnya sama sekali.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat gadis dengan rambut di kuncir kuda itu tertawa dengan teman-temannya. Syukurlah, masih ada tawa bahagia di bibir gadis itu. Oxy menghela nafasnya sejenak, lalu ia meneguhkan hatinya. Bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara keduanya.

Cemara pun begitu, ia adalah penyamar yang hebat. Memasang topengnya kuat-kuat, Cemara melakukannya. Meski ia tahu pada akhirnya ia yang akan kalah.

Oxy melewati Cemara begitu saja.

"Oxy kenapa?" Suara Gemini berhasil memutuskan pandangan Ara terhadap laki-laki itu.

Apa yang terjadi dengan laki-laki itu, Ara pun tak tahu. Tersirat rasa khawatir melihat Oxy yang terlihat tidak baik-baik saja. Lebam di sudut bibir laki-laki itu bahkan terlihat seperti luka baru. Apa laki-laki itu ikut tawuran? Di keroyok? Tetapi siapa musuhnya? Ara bahkan tidak pernah tahu apakah Oxy mempunyai musuh. Laki-laki itu terlalu tertutup.

"Yeh, ditanya malah ngelamun." Gemini menyenggol lengan sahabatnya itu.

"Lo khawatir ya sama Oxy?" Kini giliran Viola yang bertanya.

Cemara menggeleng, "Nggak tau, gue juga nggak khawatir."

"Nggak usah bohong sama diri lo sendiri ra, kita tau."

"Gue emang penghianat besar untuk diri gue sendiri." Jawab Cemara dengan menundukkan kepalanya.

"Gue yakin lo ada perasaan lebih sama Oxy, Oxy pun juga gitu ke lo, semua hanya perihal waktu. Gue juga percaya kalau kalian bisa ngelewatin ini semua."

Cemara tersenyum, sahabatnya memang yang terbaik. Gemini selalu bisa menguatkan hatinya, meski kadang sifat menjengkelkan dari Gemini membuat dirinya sangat malas berdekatan dengan sahabatnya itu.

Cemara menoleh kebelakang, dilihatnya laki-laki tampan itu menelungkupkan wajahnya di meja dengan tangan dilipat sebagai penopangnya. Ingin sekali rasanya, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Oxy, tapi lagi-lagi ego mengalahkan hatinya.

"Oxy!!!" Azka berteriak dengan keras, memanggil sahabatnya itu.

Sementara Oxy enggan untuk sekedar mengangkat kepalanya, "Jangan ganggu gue!"

"Kita latihan dulu woi, kemarin lo udah bolos. Lo kapten xy, profesional dong!"

"Lo bisa ngatur anak-anak kan? Gue pusing." Balas Oxy sekenanya.

Azka memutar bola matanya jengah, entah apa yang terjadi dengan sahabatnya ini, tetapi Azka tidak suka. Sudah seharusnya Oxy bersikap profesional, apalagi hari ini mereka akan bertanding. Tetapi apa? Oxy bahkan terlihat tidak peduli.

"C'mon man! Lo nggak bisa bersikap kaya gini, kita semua butuh lo. Lo sadar nggak sih? Lo bahkan nggak pernah dateng ke latihan bareng anak-anak. Bahkan buat nanyain gimana latihan mereka aja lo nggak pernah!"

"Lo nggak tau apa-apa!"

"Ya gue emang nggak ngerti lo kenapa, tapi lo egois! Kapten macem apa lo!"

OxyLeonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang