Disini lah kedua insan Tuhan itu termangu, terduduk di dalam ruang basket indoor. Dengan keadaan Cemara yang masih terisak, padahal matanya sudah sembab membengkak akibat terlalu lama menangis. Tak hanya matanya yang memerah, tetapi hidungnya pun juga ikut memerah.
"Masih mau lanjut nangis?" Laki-laki itu mengusap surai hitam Cemara.
"Sekarang apa yang harus gue lakuin? semua orang pasti merendahkan gue." tanya Cemara dengan parau.
"Gue percaya lo bukan cewek yang kayak gitu, ngehapus kenangan Axel dari hati lo aja susah, gimana lo mau berpaling ke cowok lain? Untuk sementara waktu, lo cuma perlu tutup telinga aja. Gue nggak tau apa yang terjadi sama lo akhir-akhir ini, satu hal yang gue sesalin. Gue nggak bisa mastiin lo baik-baik aja."
Cemara menoleh, tapi laki-laki itu tetap datar dengan pandangan lurusnya. Sedetik kemudian Cemara tersenyum meski air matanya tak berhenti menetes. Ia menyenderkan kepalanya pada bahu Oxy.
Cemara memang tidak bisa menghapus kenangan Axel entah dari pikiran maupun hatinya, bagaimana bisa ia menghapus kenangannya dengan Axel? Jika jelmaan Axel tetap ada di dunia, bahkan kini berada di sampingnya.
"Kalau aja Axel masih ada disini, dia pasti marah kalau lihat gue nangis, karena Axel nggak suka lihat Cemaranya nangis." tutur Cemara.
Oxy melirik gadis di sampingnya, tidak hanya Cemara saja yang merasakan kehilangan, tapi ia juga demikian merasakan sakitnya kehilangan. Apalagi mereka sudah lama tidak bertemu. Axel adalah pelindung bagi Oxy, Axel itu benteng kokoh, dia akan melindungi Oxy ketika Ayahnya melakukan kekerasan padanya. Axel akan senantiasa membelanya apapun yang terjadi.
"Tapi kenapa lo nggak marah kalau gue nangis?" tanya Cemara lagi.
"Karena gue bukan Axel, kenapa harus marah kalau lo nangis, itu artinya hati lo masih berfungsi. Gue nggak suka kalau lo pura-pura kuat. Kuat atau lemahnya pondasi diri setiap orang itu beda-beda." jawab Oxy.
Cemara terhenyak dengan jawaban dari mulut Oxy, tidak penah terpikirkan olehnya, Oxy bisa berbicara seperti itu. Hatinya semakin menghangat setelah mendapatkan jawaban itu. Oxy benar, setiap orang itu terlahir dengan pondasi yang berbeda.
"Boleh ceritain sesuatu tentang Axel?"
Mengapa Cemara malah memintanya untuk menceritakan sesuatu mengenai Axel? Ia tak tahu harus bercerita seperti apa. Bahkan dibandingkan dengan Cemara, Axel lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadis itu. Oxy punya saudara tapi ia sendiri. Oxy punya orang tua tapi ia sendiri. Oxy punya banyak teman, tapi lagi-lagi ia sendiri.
"Gue nggak pernah ngukir cerita bareng Axel."
"Kenapa? Lo saudara kembar Axel kan?"
Oxy beralih menatap mata Cemara, ia juga menyelipkan beberapa anak rambut yang sekiranya mengganggu wajah gadis itu. "Kenapa lo suka membuka luka yang belum mengering?"
"Gue kangen Axel, emang lo nggak kangen Axel? Kita itu jahat nggak sih, selama ini gue nganggep lo sebagai Axel, bahkan gue maksa lo buat suka sama gue, padahal nyatanya lo itu orang asing."
"Maaf, harusnya gue nggak sepengecut itu buat jujur ke lo. Maaf karena gue selalu nyakitin lo. Gue cuma pengen lo benci sama gue waktu itu, gue terpaksa ngelakuin itu ke lo."
"Kenapa harus bikin gue benci?"
"Pada dasarnya, se-menyakitkan apapun hal yang gue lakuin ke lo selama ini, itu nggak akan sesakit pas lo udah tau kenyataannya ra. Gue cuma nggak pengen lo kecewa ketika lo tau semuanya. Tapi apa? Ketika gue udah berhasil ngebuat lo benci sama gue, malah gue sendiri yang kalah dari permainan yang gue buat."
KAMU SEDANG MEMBACA
OxyLeon
Teen FictionTerbangun dari masa koma dan kembali melihat megahnya dunia, bahagia itu lah yang dirasakan oleh Cemara. Gadis cantik pengidap kanker darah itu harus menelan kenyataan pahit, ketika harapannya terbangun dari masa koma ia bisa melihat seseorang yang...
