Oxy terbangun dari tidurnya setelah sinar matahari dengan lancang mengusik tidur nyenyaknya lewat celah-celah jendela. Oxy melemaskan otot-otot tubuhnya.
"Akhhh-" Oxy mendesah pelan, ia baru menyadari bahwa kedua tangannya terborgol. Oxy clingak clinguk kesana kemari, di kamar ini hanya ada dirinya. Lalu siapa yang berani memborgol tangannya seperti ini?
Jangan-jangan apartemennya berhantu? Apa lagi ia hanya tinggal sendirian disini.
Cklekk!
"Aaaarghhh! Pergi lo setan!" Oxy berteriak kencang sampai menendang selimut yang tadi membalut kakinya.
"Setan gundulmu!" umpat Azka.
"Sialan! Kayaknya gue mau jual apartemen ini deh, Ka. Makin lama makin ngeri gue," ujar Oxy, mendadak ia jadi merinding sendiri.
"Jadi maksud lo, lo ngatain gue demit penunggu apartemen lo gitu?"
"Jadi lo yang udah borgol tangan gue?" Tuduh Oxy.
Azka menghembuskan nafas kasar, kemudian ia duduk di tepi ranjang Oxy. "Semalem lo kesurupan, ngamuk-ngamuk gak jelas. Bahkan lo hampir bunuh diri lagi, untung gue sama Mamon dateng tepat waktu kesini. Dari pada lo gue iket pake bandat entar kesannya lo kayak hewan qurban!" jelas Azka panjang lebar.
Oxy terdiam, ia mencoba mengingat ingat kembali kejadian semalam. Ia ingat kemarin orang tuanya datang kemari, dan seperti biasa hal itu berujung dengan dirinya yang tak bisa mengontrol diri lagi.
Sial, jadi Azka mengkibulinya? Lagi pula mana mungkin ia kesurupan? Setan mana yang berani merasukinya?
"Gue gak kesurupan, bangke!" umpat Oxy.
"Bwahahaha.. jadi lo udah inget? Gue heran sama lo, lama-lama ini apartemen gak bakal ada isinya kalau semua barangnya lo bantingin kayak kemarin."
Oxy berdecak sebal, "Bodo, yang penting gue tajir!"
"Tajir doang, waras kagak!" Ledek Azka.
"Anjir lah! Lepasin cepet, gak betah gue."
"Ya sabar dong paduka Oxy anaknya kanjeng mami yang otaknya telmi setengah mati." Azka mendengus, ia membuka borgol yang mengikat kedua tangan sahabatnya itu.
"Lo ngapain masih disini?" tanya Oxy yang melihat Azka masih duduk ditempatnya.
'Demi alex gue gak papa, sumpah gak papa.' Batin Azka memilu.
Azka bangkit dan beranjak pergi dari kamar Oxy. Jadi begini rasanya merawat orang sakit jiwa? Melelahkan pikirnya. Apalagi merawat pasien sakit jiwa semacam Oxy yang tak tahu diri itu.
Ah ya, namanya juga orang sakit jiwa.
*****
Berbeda dengan Oxy, kali ini Cemara dilanda kepanikan ketika mengetahui bahwa Ichi, kucing kesayangannya itu sedang sakit saat ini. Padahal tadinya, Cemara ingin memberi makan pada Ichi, tapi Ichi terlihat lemas di kandangnya, biasanya Ichi selalu bersemangat ketika sudah berhadapan dengan makanan. Tapi kucing itu tetap tidak mau makan.
Melihat itu Cemara langsung bergegas membawanya ke dokter hewan. Ia takut terjadi sesuatu yang serius dengan kucingnya itu.
"Ichi, jangan sakit." gumam Cemara.
Biar bagaimana pun, Cemara sangat menyayangi Ichi. Ia tak bisa melihat Ichi nya tertidur cukup lama seperti saat ini.
"Tidak perlu khawatir, Ra. Ichi mengalami demam ringan, Kucing demam biasanya akibat lingkungan yang terlalu hangat atau peningkatan aktivitas otot. Jangan lupa berikan dia Vitamin B dan suplemen energi untuk Ichi, itu dapat meningkatkan nafsu makannya." ucap dokter itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
OxyLeon
Genç KurguTerbangun dari masa koma dan kembali melihat megahnya dunia, bahagia itu lah yang dirasakan oleh Cemara. Gadis cantik pengidap kanker darah itu harus menelan kenyataan pahit, ketika harapannya terbangun dari masa koma ia bisa melihat seseorang yang...
