Sudah dua Minggu lebih sejak Rian menyatakan perasaannya. Selama itu juga aku masih mendiaminya, enggan bertegur sapa. Habisnya aku bingung harus bersikap bagaimana.
"Ki, dipanggil mbak Wid!" Seru Meli yang masih sibuk menghalau keringatnya.
"Dimana?" Balasku.
"Lapangan belakang!"
Aku mengangguk, langsung berlari ke taman belakang. Setelah sampai, aku melihat mbak Wid yang asik duduk di salah satu kursi, aku menghampirinya, ikut duduk.
"Ngapain manggil gue mbak?" Tanyaku.
"Gapapa sih. Gue mau nanya sesuatu aja."
Aku mengernyit, biasanya juga kalo nanya apa apa lewat chat, sekarang kenapa repot repot memanggilku sih?
"Seminggu terakhir gue perhatiin, lo ngehindarin banyak orang ya?"
"Ih, apaan! Ya enggak lah mbak! Ini aja gue lagi ngobrol sama lo!"
"Bukan itu maksud gue. Lu ngehindarin Jombang, Fajar, sama Kevin kan?" Tukasnya, tepat sasaran.
Memang bukan cuma Rian yang jadinya aku hindari, tapi dua orang itu juga. Kan mereka ada bareng Rian, aku cuma takut ditanya macam macam.
"Enggak kok mbak. Gue masih ngobrol sama mereka."
"Gak usah bohong dah, muka baik lo gak mendukung, Ki."
Aku menghela nafas, aduh, susah ya bohong sama mbak Wid yang biasa baca ekspresi atlet. Lebih pro dari psikolog!
"Coba cerita. Kenapa lu tiba tiba ngehindar?"
Aku menoleh, menatapnya sebentar, aku harus cerita gak ya? Ah. Akhirnya juga ku ceritakan.
🌙🌙🌙
Sebulan setelah kejadian itu, aku masih berusaha menjaga jarak dari Rian. Walaupun kadang akhirnya ada pembicaraan karena sesekali dia ke ruang medis, tapi tetap saja, aku tidak akan menanggapinya dengan banyak.
Mungkin sebagian dari kalian bilang kalo aku gak bersyukur, disukai Rian malah menghindar. Rian lho ini, seorang Rian Ardianto, bukan Rian Jombang kayak panggilannya.
Tapi, kalo kalian tahu apa alasan dibalik sikapku ini, kuharap kalian mengerti.
Hari ini para atlet hanya latihan setengah hari, agar nantinya bisa istirahat cukup. Besok mereka akan kembali bertanding, dan kali ini akan dihelat di Korea.
Dan sekarang ini aku sedang sibuk bulak balik diminta ci Susy untuk mempersiapkan segala peralatan medis untuk atlet, karena aku yang akhirnya akan diberangkatkan 'lagi' dalam pertandingan ini. Padahal tadinya aku harap bukan aku yang diberangkatkan.
Aku tersentak saat tanganku ditahan, aku menoleh, langsung memalingkan wajah.
"Bisa bicara sebentar, Ki?"
Aku menggeleng, "Gue masih banyak urusan, Jom."
Rian. Rian yang menahan lenganku. Dia gatau apa ya? Selama ini kan aku menghindarinya, dia dengan seenaknya sedekat ini.
Aku lebih tersentak lagi saat tubuhku ditarik, langsung berhadapan dengannya. Baru aku ingin berontak, pundakku langsung ditahan.
Aku menghela nafas, tahan Ki, tahan.
"Saya cuma mau bicara sebentar, Ki."
Aku memutar bola mataku malas, "Kan gue bilang, gue masih banyak urusan. Lepas, Jom."
Rian menggeleng, "Kamu kenapa sih, Ki? Kenapa ti-"
"Jombang. Lepas." Tukasku dingin.
Tapi Rian tetap menggeleng, aku menghela nafas kasar. Ki, sabar dong. Laki laki yang ada didepanmu ini besok mau tanding, kalo seni beladirinya dikeluarin sekarang, bisa bisa cidera. Lo juga yang repot.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight | Rian Ardianto
RandomDia, yang bahkan aku belum tahu namanya. Tapi hanya dengan senyumnya membuat dunia ku yang sedang gelap seketika terang. Seperti cahaya bulan ditengah malam. -Muhammad Rian Ardianto Cinta pandangan pertama? ah, ga mungkin. Cinta kan ada karena terbi...
