42. Latihan Hari Pertama

1.2K 129 15
                                        

Aku menghela nafas pelan, menatap Syifa, meminta persetujuan. Dia mengangguk pelan, meyakinkanku.

Aku memencet bel, berdoa dalam hati semoga Al gak lepas kendali.

Pintu apartemen terbuka, menampilkan seorang Aldari Ansel yang langsung menatap kakiku.

Wajahnya langsung berubah datar, menoleh kearah Rian.

"Lo apain kakak gue?" Ketusnya.

Aku langsung menggeleng, berusaha menarik lengan Al agar tidak mendekati Rian.

"Sekali lagi gue tanya sama lo. Lo apain kakak gue?"

"Eittsss! A Al! Tenang dulu dong!" Tengah Syifa langsung berdiri diantara Al dan Rian.

"Minggir, Syif."

"A Al ih! Dengerin dulu!"

"Minggir." Lirihnya dingin.

Ekspresi wajah Syifa langsung berubah ciut, kalo aku sih jangan ditanya, dari awal dia buka suara aja nyaliku udah ciut duluan.

"Al, dengerin teteh dulu! Jombang nggak ngapa ngapain, kok! Tadi-"

"Lo apain kakak gue?" Al tidak memperdulikan penjelasan ku. Dia semakin menatap Rian tajam.

"Sorry, Al. Gue gak bisa cegah Kia cidera. Tapi gue selalu berusaha jagain dia."

"Basi."

"Gue serius."

Aku memutar otak, mencari cara agar Al gak terus terusan begini.

"Teteh cidera, Al!" Tukasku terus terang.

"Jangan coba ngelindungin dia ya, teh. Aku gak suka."

"Beneran, teteh cidera."

"Jawab gue. Lo apain kakak gue?" Tanya Al, kekeuh menatap Rian tajam.

"Teteh cidera pas main badminton, Al!" Seruku kesal.

Al langsung diam, menatapku.

Aku mengangguk, "Iya. Teteh cidera pas main badminton. Udah ya, gak usah salah salahin Jombang terus."

"Kenapa teteh main badminton lagi?"

Aku mengernyit bingung, "Kenapa? Teteh nggak boleh main badminton lagi selamanya?"

"Bukan gitu, teh. Tapi Al cuma takut nanti teteh makin trauma."

"Nggak. Teteh gak apa apa, kok. Tanya Rian. Malah kamu tahu gak? Teteh menang lawan Minion! Ganda putra nomor satu di dunia!"

Al tersenyum kecil, senyum yang membuatku bernafas lega, syukurlah dia sudah tenang.

"Al seneng banget liat teteh bisa lawan trauma kayak gini."

Aku tersenyum, "Iya. Karena Jombang."

Rian langsung menatapku terkejut, ya, aku tahu dia kaget. Tapi memang benar kan? Aku bisa melawan trauma ini karena dia.

"Karena Jombang, teteh berani lagi buat main badminton, Al. Jadi kamu jangan nyalahin dia karena kejadian cidera ini. Dia selalu jagain teteh, kok."

Al diam, menggeser tubuhnya, memberikan celah di pintu masuk. "Ayo masuk, Teh. Duduk. Cidera nya baru kan? Istirahat dulu."

Aku tersenyum puas, menatap Syifa yang ikut tersenyum. Misi kali ini, berhasil!

🌙🌙🌙

Aku menatap mbak Wid kesal, sedangkan orang yang ku tatap malah tersenyum tanpa rasa bersalah. Serius, aku beneran kesal!

Moonlight | Rian ArdiantoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang