16. Perhatian Rian

1.9K 137 1
                                        

Sekarang ini aku sedang berada di bandara keberangkatan internasional Soekarno-Hatta. Ya, aku, para atlet, dan official lain akan berangkat ke Nanning, Tiongkok.

Aku juga bingung, kenapa aku yang akhirnya diberangkatkan, ku pikir mbak Ella, habisnya kan aku baru seminggu disini.

"Ki!"

Aku menoleh, mendapati Melati yang sedang berlari sembari menenteng satu tas kecil untuk sepatu.

"Kenapa Mel?"

"Boleh nitip sepatu di koper lu gak? Koper gue ga muat!" Sambungnya.

Aku tertawa, lantas mengangguk. Wajar sih, atlet kan bawannya banyak.

Setelah memastikan koperku tertata kembali, aku menyeretnya kearah check in ticket.

Selesai check in, aku baru saja ingin mengangkat koperku agar bisa ditimbang, tiba tiba ada sepasang tangan yang menggantikannya.

"Eh? Gak apa apa kok, mas, aku bisa!"

Rian menggeleng, "Koper mu makin berat. Tadi Meli nitip sepatu, kan?"

Aku mengangguk pelan. Tapi kan sepasang sepatu tidak akan mempengaruhi sampai satu kilogram. Aku masih bisa mengangkatnya.

Aku kira setelah membantuku mengangkat koper, Rian akan kembali ke teman temannya yang lain. Tapi tidak, ia menunggu sampai koperku selesai di timbang dan di beri label. Lalu ia kembali mengangkat koperku untuk diturunkan.

"Makasih, ya mas. Aduh, jadi ngerepotin!"

"Enggak, kok. Yaudah, saya kesana dulu ya," Ujarnya yang aku jawab dengan anggukkan pelan.

"Ki!"

Seseorang yang memanggilku kini sudah ada di sampingku.

"Apasih, mbak?"

"Gue cariin tau! Lu belum sarapan kan? Nih!" Ucap mbak Wid sembari menyerahkan dua bungkus roti serta sebotol air mineral kepadaku.

"Eh yaampun, makasih mbak! Baru aja mau beli roti!"

Aku dan Mbak Wid berjalan kearah terminal untuk menunggu sembari sarapan.

"Mbak, sebentar ya!" Ucapku setelah menghabiskan satu bungkus roti, aku melupakan sesuatu!

"Ngapain lu?"

"Mau beli coffe, sebentar doang mbak!" Teriakku sambil terus berlari dan menoleh kearah mbak Wid. Duh, waktuku gak banyak!

Tapi ketika aku ingin menoleh kembali kearah jalan didepan, aku menabrak seseorang.

"Eh maaf maaf!"

"Mau kemana Ki?"

Aku mendongak, ternyata Rian.

"Mau beli coffe sebentar mas!"

Rian mengernyit, apa yang salah dari kata kata ku, sih?

"Coffe? Sepagi ini?"

"Iya, gak apa apa kok mas! Yaudah aku beli coffe dulu ya! Dikit lagi boarding!" Ujarku langsung berlari kearah kedai coffe.

Setelah menuntaskan keinginan ku, aku kembali ke mbak Wid. Dia sekarang sedang membuka tas ranselnya, mencari sesuatu.

"Mbak, mau coffe?"

Mbak Wid menoleh, "Emang lu beliin buat gue?"

"Enggak mbak, basa basi aja!"

Mbak Wid mendengus. Ya kan aku cuma mau basa basi!

"Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA328 to Tiongkok please boarding from door B3, Thank you."

"Ayok mbak!"

Moonlight | Rian ArdiantoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang