51. Obrolan Serius

1K 111 9
                                        

Pertengkaran Kia dan Rian berakhir sejak tadi, selesai saat Rian mengalah, membiarkan Kia menikmati segelas caramel macchiato nya.

Dan kini, mereka berdua tengah sibuk mengobrol, apa saja.

"Udah abis coffee nya? Mau lagi?" Tanya Rian saat melihat Kia menghabiskan segelas Caramel macchiato-nya.

"Boleh?" Tanya Kia semangat.

"Nggak."

Kia langsung cemberut, menatap Rian tajam. "Ngapain nanya kalo ujung ujungnya nggak boleh." Sindirnya.

"Basa basi."

"Ki. Mau nanya, boleh?" Sambung Rian hati hati.

Kia mengangguk saja, dia tahu ini akan terjadi, dan dia juga tahu apa yang akan Rian tanyakan. Dia sudah siap seandainya Rian menanyakan hal ini.

"Insiden terakhir yang bikin kita berantem besar. Itu karena apa?" tanyanya lebih hati hati.

Kia tahu, Rian pasti tidak ingin membuatnya trauma lagi, atau mungkin sedih, makanya dia bertanya dengan perlahan.

Tapi ia tidak mengira Rian akan menanyakan itu, Kia kira, Rian akan langsung bertanya 'Kemana aja selama ini?'

"Kejadian dua tahun lalu? Insiden David?"

Rian mengangguk pelan. Menatap was was Kia.

"Ah gue lupa lupa ingat, tapi sih kayaknya. Waktu itu gue mau beliin hadiah buat ulang tahun lo, sama Meli. Tapi gue kaget karena ada yang manggil gue, ternyata itu David, Meli tahu kalo gue bakal ngobrol lama, makanya dia nawarin buat bantu bayar ke kasir. Di tengah ngobrol, tiba tiba gue liat Baskhara, Jom."

Sampai sana, hanya sampai sana cukup membuat Rian merutuki dirinya sendiri, memaki perbuatannya dua tahun silam. Kevin benar, dan semua perkataannya benar.

"Maaf." Hanya kata kata itu yang mampu keluar dari mulut Rian, dia tidak tahu harus bicara apalagi.

"Kenapa? Nggak apa apa, kok. Gue selalu paham, emosi kadang bikin kita gak bisa jadi diri sendiri, Jom. Gue punya adik dua, sepupu satu, mereka bertiga termasuk orang yang agak susah kontrol emosi. Dan gue paham, gue paham banget caranya menghadapi orang kayak gitu. Nggak apa apa, bukan salah lo."

Rian menghela napas pelan, "Tapi gue keterlaluan, Ki."

Kia tertawa, menggenggam tangan Rian. "Itu sudah dua tahun yang lalu, Jom. Nggak mau move on?"

Rian menatap Kia dalam, ah, kenapa tawa nya Kia selalu menghilangkan segala kesadarannya?

"Jom?" Panggil Kia saat melihat Rian diam saja.

"Boleh minta satu permintaan nggak, Ki?" tanya Rian.

Kia mengernyit, lagi bahas kejadian lalu kok tiba tiba minta sesuatu?

"Apa?"

"Jangan ketawa lepas didepan cowok, ya."

Kia semakin mengernyit, maksud Rian apa sih?

"Kenapa emang?"

"Nanti dia jadi kayak gue, jatuh hati sama lo."

Kia tertawa, "Lucu banget cowo gue."

Rian mengembangkan senyumnya, sangat lebar.

"Apa, Ki?"

Kia tersenyum kecil, "Nggak mau ya dibilang cowo gue?"

Rian langsung menggeleng antusias. "Yaampun, Ki. Bukan gitu, gue deketin lo berbulan bulan, rela nunggu lu bertahun tahun. Masa iya gamau dibilang cowo lo?"

Moonlight | Rian ArdiantoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang