47. Permintaan Kedua (Selamat Tinggal)

1K 144 38
                                        

Rian mendudukkan diri, sekali lagi meneguk air minum di botolnya. Memegangi perutnya yang terasa kosong dan terus terusan berbunyi. Ah, dia kan nggak sarapan, tentu saja akan lapar.

"Jar. Cari makan siang, yuk?"

"Gue masih kenyang, Jom. Paling nanti makan malem doang."

Rian mendengus kesal, Fajar adalah orang kesekian yang Rian ajak makan siang bersama, tapi jawaban mereka sama. Lagian juga siapa yang nggak kenyang kalo sarapan segitu banyaknya?

Tapi berbeda dengan Rian, dia harus apa sekarang? Perutnya semakin kosong.

Rian tersentak saat menyadari ada piring dipangkuannya, lengkap dengan sendok dan garpu.

Rian menatap piring itu lamat lamat, tertumpuk rapi nasi beserta chicken teriyaki. Sepertinya lezat.

Tapi kesadarannya langsung kembali, ia menoleh, menatap sang pemberi piring. Kia. Ngapain dia disini tiba tiba?

"Lo nggak sarapan, ini makan siangnya." Jelasnya, seolah mengerti tatapan Rian.

"Gue nggak laper."

*Kruukk

Rian menggeram kesal, dasar perutnya tidak bisa diajak kerjasama! Apa apaan coba itu tadi? Baru juga selesai kata katanya!

Kia tertawa pelan, "Lo bisa bilang nggak laper, tapi perut nggak bisa bohong, Jom."

"Gue beneran nggak laper." Elak Rian.

Kia menghela nafas, mengambil piring itu dari pangkuan Rian, menyendokkan nasi serta lauk.

Rian lagi lagi tersentak saat sendok itu mendarat tepat di hadapannya. Ia lagi lagi menoleh ke Kia, tapi kali ini tidak ada penjelasan apapun, yang ada hanya Kia yang menatapnya seolah menyuruhnya makan.

Rian menghela nafas bimbang, aduh, kalo dimakan, gengsi dong! Tapi kalo nggak dimakan, Rian kan lapar juga.

"Makan, Jom. Waktu istirahat nggak banyak." Seru Kia setelah selama ini Rian diam.

Rian mendengus kesal. Bodoamat deh dengan gengsinya, sekarang yang penting adalah mengisi perutnya!

Kia tersenyum kecil saat Rian menerima 'suapan' darinya. Selanjutnya, tetap Kia yang menyuapinya.

"Gue bisa makan sendiri." Tolak Rian saat lagi lagi sesendok makanan ada dihadapannya.

"Terakhir kali masakan gue yang lu makan, biar gue yang suapin."

"Ini masakan lo?"

Kia mengangguk pelan, masih sibuk mengambil lauk, sudah seperti ibu ibu yang sibuk menyuapi anaknya.

Beberapa suap setelahnya mereka saling diam, Kia fokus menyuapi, dan Rian fokus dengan kunyahannya.

"Kenapa?" Tanya Rian spontan.

"Apanya kenapa?" Jawab Kia masih menatap piring di pangkuannya.

"Kenapa lo masih mau ngomong sama gue setelah perlakuan gue ke lo?"

"Harusnya gue yang nanyain itu. Lo masih bisa ngobrol sama gue setelah yang gue lakuin ke lo, makasih, Jom."

"Itu nggak menjawab pertanyaan gue."

Kia diam, tidak membuka suara lagi.

"Kenapa lo masih mau ngomong sama gue, Ki?" Ulang Rian.

Kia memberikan suapan lagi pada Rian, lalu diam sebentar.

"Karena gue suka sama lo."

*Uhuk!

Rian langsung kelabakan, tidak siap menerima serangan itu. Kia buru buru memberinya sebotol air dan langsung disambut Rian.

Moonlight | Rian ArdiantoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang