41. Pengakuan?

1.2K 125 8
                                        

"Udah nih, Ki. Lo jangan kemana mana dulu, ya." Seru docta setelah memastikan kakiku dalam posisi yang benar.

Aku tersenyum, "Makasih ya, dok. Maaf ngerepotin."

"Iya dokter Kia, gak apa apa. Eh, lu tuh dokter apa atlet sih, Ki?" Balas docta, setengah meledek.

Aku mendengus kesal, penghuni pelatnas memang menyebalkan.

"Yaudah gue tinggal dulu, ya. Jom, jagain Kia lo!" Seru docta lalu ia keluar ruang medis.

Aku melihat Rian. "Jom, boleh minta tolong?"

"Apa sayang?"

Heh? Apa ini? Kenapa tiba tiba perutku seperti ada kupu kupunya ya?

"Gombal mulu lo! Tolong ambilin kotak p3k di laci."

"Buat apa? Kan lo udah diobatin."

"Udah ambilin aja!"

Rian menuruti, dia mengambil kotak p3k dan memberikannya padaku.

"Duduk." Pintaku lagi.

Rian mengernyit, "Apasih, Ki?"

Aku memutar bola mata, menggeser tubuhku sedikit.

"Eh, mau ngapain? Sebentar sebentar gue bantu." Seru Rian panik.

Aduh dia kenapa coba? Aku cuma geser dikit.

"Nggak apa apa, Jom. Sini duduk." Seruku sembari menepuk nepuk bagian kosong di kasur.

Rian tidak membantah atau menanyakan apapun lagi, dia duduk dengan santai.

Aku meraih lengan kiri Rian yang terluka akibat kuku jariku. Aduh, kayaknya habis ini aku harus gunting kuku.

Aku mulai mengoleskan beberapa obat ditangannya, sesekali dia meringis, aku tau itu perih.

"Maaf ya, Jom. Gue selalu ngerepotin lo."

"Ngerepotin kalo kita temen biasa."

Aku mengernyit, "Lah, bukannya kita temen biasa juga?"

Rian diam, menatapku dalam. "Gue suka sama lo. Jadi gue gak akan ngerasa direpotin sama lo. Ngerti kan, sayang?"

Aku menahan senyumku yang hampiiirrr saja keluar. Tenang Ki, tenang.

"Jangan gombal mulu, Jombang!"

"Dimana bagian gombalnya? Gue ngomongin fakta."

Aku menggeleng pelan, masih fokus mengobati luka di tangan Rian.

"Ki, gue suka sama lo."

"Gue tau."

"Mau jadi pacar gue, gak?"

Aku berhenti, mendongak menatap Rian.

"Nggak." Aku kembali sibuk mengobati Rian.

"Ok gak apa apa."

Aku tertawa, menghela nafas pelan. "Kok bisa ya?"

"Bisa apa?"

"Kok bisa cowo cakep, tajir, berprestasi, dan terkenal kayak lo suka sama cewe aneh kayak gue gini?"

"Dimana bagian aneh nya?"

Aku menatap Rian bingung, maksudnya gimana sih?

"Di bagian mana lo keliatan aneh, Ki? Dokter lulusan UGM yang cumlaude, jago masak, jago olahraga, cantik, pinter, bagus di bidang seni, baik, sopan, perhatian, sholehah, say-"

"Mental gue, Jom."

Rian langsung diam, aku tahu dia pasti bingung mau membantahku apalagi.

"Mental gue aneh, Jom. Gue bisa jadi orang pemberani dan dalam sekejap gue jadi orang yang penakut. Gue selalu jadi orang yang kepikiran akan sesuatu, gue bisa jadi orang yang terlalu emosional, gue jadi orang yang susah melupakan sesuatu, sekalipun hal buruk. Gue trauma, bahkan untuk hal hal sekecil main badminton, dan menurut lo gue bisa menjalin hubungan baru?" Cercahku, aku mati matian menahan air mata.

Moonlight | Rian ArdiantoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang