Sudah sebulan lebih sejak Bella menikah, tidak ada yang berubah dari kami. Hanya saja, sekarang kami benar benar kehilangan Daffa. Dia memutuskan untuk tinggal di Malaysia, karena mendapatkan pekerjaan disana. Yasudah, itu kan keputusannya.
"Ki, lu dipanggil pak Surya!" Seru Bella sembari meletakkan tumpukan berkas di mejaku.
"Ngapain, La?" Tanyaku, habisnya bingung. Biasanya pak Surya tidak pernah memanggilku.
"Mana gue tau, udah sana samperin aja!"
Aku mengangguk, meletakkan ponselku di meja, "La, tolong cas-in hp gue, ya!" Seru ku langsung menutup pintu sebelum mendengar Bella mengomel.
Aku berjalan di koridor rumah sakit, membalas sapaan beberapa dokter.
Setelah sampai didepan ruangan pak Surya, aku mengetuknya pelan, "Permisi, pak,"
"Masuk,"
Aku mendorong pintu perlahan, langsung duduk ketika pak Surya mempersilahkanku.
"Bapak manggil saya?" Tanyaku perlahan, pak Surya mengangguk, merapikan berkas berkasnya.
"Kemarin ci Susy Susanti kesini, katanya butuh satu dokter yang selalu bisa stand by di PBSI. Karena waktu itu saya pernah liat foto kamu lagi nanganin cidera Rian. Maka saya putuskan, saya akan mengirim kamu ke PBSI," Jelas pak Surya.
Aku tersentak, PBSI? Bulutangkis kan?
"Soal gaji, kamu gak perlu khawatir, ci Susy pasti akan memberikan cukup gaji, dan yang pasti lebih dari gaji mu disini," Sambungnya.
Aku masih diam, berusaha memproses cepat kata kata pak Surya.
"Gimana, Ki? Kamu mau kan?"
Lamunanku buyar, "Eh, maaf pak,"
"Kenapa Ki? Kamu ragu?"
Aku mengangguk pelan, aku tidak bisa berbohong, aku memang ragu. Kemarin itu kan aku juga menangani cidera Rian karena keadaan darurat. Sekarang aku harus benar benar memastikan kesehatan atlet? Duh, aku takut salah!
"Apa yang bikin kamu ragu, Ki? Bisa coba ceritakan? Biar saya bisa yakinkan kamu,"
"Ah, saya cuma takut salah menangani, pak, mereka kan atlet, gak akan bisa sembarangan," Tukasku.
"Kamu kan juga ga sembarangan nanganin mereka,"
Aku diam, masih bimbang.
"Ki, kinerjamu disini bagus, maka dari itu saya mengirim kamu ke sana. Saya tahu, atlet itu gak boleh sembarangan ditangani, tapi kan kamu gak akan sembarangan. Saya percaya Ki, kamu bisa!"
Aku menghela nafas, sebenarnya aku juga butuh pendapatan lebih, adikku akan masuk kuliah tahun depan.
"Yasudah, pak, saya terima,"
Pak Surya tersenyum, "Bagus. Besok kamu siap siap ya, nanti lokasinya saya kirim ke wa. Juga tentang surat resign nya gak perlu dipikirin, bapak sudah urus. Kamu tinggal tanda tangan saja,"
Aku mengangguk, "Tidak ada yang mau dibicarakan lagi, pak?"
"Tidak ada, silahkan kembali ke ruangan dan nikmati ruanganmu untuk yang terakhir kalinya,"
Aku menatap pak Surya sebal, kok gitu sih? Ya meskipun memang begitu adanya.
Aku membuka pintu dan berjalan kembali ke ruangan. Mataku menatap lantai kosong, kejutan memang selalu menemani hariku. Hari ini, di hari Rabu ini, aku mendapat kejutan lagi.
"Heh, Ki! Disuruh ngapain lo sama pak Surya?" Seloroh Bella, padahal kan aku belum duduk! Baru saja buka pintu!
"Resign" balasku singkat langsung meraih ponselku dari kabel charger.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight | Rian Ardianto
De TodoDia, yang bahkan aku belum tahu namanya. Tapi hanya dengan senyumnya membuat dunia ku yang sedang gelap seketika terang. Seperti cahaya bulan ditengah malam. -Muhammad Rian Ardianto Cinta pandangan pertama? ah, ga mungkin. Cinta kan ada karena terbi...
