"Bukannya ingin menyimpannya, hanya saja aku tak mau dia tahu."
🌞🌞🌞
Mentari terdiam mengamati rumah Afika, di depan masih sangat sepi bahkan suara apapun tidak ada di dalam.
"Assalamualaikum, Afika."
"Wallaikumsalam, ehh.. Tari, masuk, nak. Langsung masuk aja, Afika ibu suruh masak."
Ibu Afika datang membawa lap ditangannya. Mentari salim dan tersenyum simpul. Dia bisa saja masuk, hanya saja tak enak tiba-tiba datang seperti kucing liar masuk rumah.
"Masak apa, tan?"
"Masak cemilan buat kalian, daripada beli. Lagian katanya ada temen cowok kalian kan?"
"Iya."
"Ini pertama kali Afika bawa anak cowok betulan. Biasanya cuma di kertas."
"Ohh, itu mah idolnya."
"Nggak tahu, nanti kalau temennya dateng suruh masuk aja. Ibu mau ikut arisan depan."
"Siap, nanti biar Mentari bantu Afika."
"Makasih, ya."
"Iya."
Afika anak terakhir dari dua bersaudara, kakaknya perempuan sudah menikah dan menetap di luar kota. Menjadi anak terakhir membuat Afika sedikit manja dan Mentari paham kadang sifat kekanak-kanakan Afika selalu muncul. Walau Mentari tahu temanya cukup bijak untuk beberapa waktu.
"Tar, bantu gue dong!"
"Buat apaan sih?"
"Kue, nggak tahu suruh masak ini. Kan males, ya. Gue pikir beli aja di minimarket."
"Mau nyambut calon mantu kata tante."
"Apa? Gila, gue langsung direstui."
"Emang Arez jadi kesini?"
"Dia punya urusan kalau sempat dia mampir."
"Ohh..."
"Permisi!"
Mentari mengintip dari jendela, seseorang datang memakai helm dan membawa kresek besar.
"Siapa?" Afika mencuci tangannya dan menghampiri Mentari.
"Nggak tahu."
"Fik, Tar!!! Abang Langit datang, nih!"
"Langit?"
Mentari membuka pintu dan benar saja, Langit membawa beberapa keresek besar. Dia masuk dan meletakkan semua barang bawaannya.
"Panas banget!"
"Eh, curut. Ngapain kesini?"
Afika sangat heran tahu Langit datang kerumahnya.
"Hallo, gue mau ikut belajar kelompok juga. Nilai gue kan sama kayak kalian."
"Kita nggak ngajak lo, ya!"
"Udah, gue bawa makanan juga. Tenang, gue juga sadar diri."
"Lo tadi ke rumah gue?" Tanya Mentari memastikan kehadiran Langit ke rumahnya.
"Iya, katanya lo belajar kelompok ya terus gue izin ke abah. Katanya boleh asal belajar bener, nanti suruh rekam kirim ke abah."
"Oh, pantes. Ya udah." Mentari mengangguk-angguk.
"Gurunya siapa?"
"Bintang!"
Langit terdiam beberapa saat dan mangut-mangut. Dia mengeluarkan bukunya dan duduk tegap layaknya prajurit perang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Kaca ( END )
Teen FictionIni sebuah kisah tentang sebuah pendewasaan diri dari seorang anak yang memahami apa arti sebuah cinta.
