58. Pesta Pernikahan

51 6 0
                                        

"Masa lalu adalah kisah yang akan teringat sampai kapanpun!"

🌞🌞🌞

"Selamat Fik, akhirnya lo nikah juga!" Mentari memeluk tubuh Afika yang berbalut gaun pengantin.

"Kok datang? Katanya nggak bisa!"

"Gue tiba-tiba di pindah ke cabang pusat. Terus pas harinya lo nikah, emang takdirnya gue bisa datang nih. Selamat juga Mas Bayu! Gue nggak sangka lho, lo berani banget ajak Afika nikah." Mentari tersenyum pada Bayu di samping Afika.

Mentari telah mengenal Bayu cukup lama, dia adalah katingnya saat berkuliah dulu. Mereka cukup dekat karena memiliki satu organisasi yang sama. Mentari cukup tahu sosok Bayu seperti apa, dia tidak menyangka kakak tingkatnya akan menjadi suami sahabatnya. Nyatanya Afika bekerja di Korea seperti apa yang Afika inginkan. Berkuliah disana dan bekerja sampai Afika dan Mentari hanya berkabar lewat handphone semata. Mentari juga hanya tahu bahwa Bayu bekerja di salah satu perusahaan Jepang. Entah bagaimana bisa Bayu dan Afika saling mengenal. Tapi Mentari senang Afika melabuhkan hatinya pada Bayu. Bayu adalah laki-laki yang baik untuk Afika.

"Gue jadi nggak enak ambil sahabat lo." Bayu tersenyum lebar.

"Orangnya bucin sama lo, kok! Nanti kita bisa bicara-bicara lagi. Gue pengen banget kumpul-kumpul nih. Agenda kan!" Pinta Mentari pada Afika dan Bayu.

"Lo harus punya waktu. Foto dulu, Tar. Biar nanti bisa gue iklankan temen gue biar nikah juga. Kelamaan jomblo jadi susah kan sekarang?" Tanya Afika.

"Iya nih, kalau ada kenalin sama gue. Kalau cocok langsung nikah gue hajar. Biar mama sama papa nggak banyak tanya-tanya. Gue males pulang karena nggak mau ditanyain kapan nikah, kapan punya pacar."

"Cari aja disini, Tar. Temen gue banyak yang jomblo siapa tahu cocok." Bayu melihat orang-orang yang berdatangan. Mungkin salah satunya akan menjadi jodoh Mentari.

"Aamiin!" Mentari juga ingin segera menikah agar orangtuanya tidak menjodohkan dirinya dengan anak teman mamanya atau papanya. Jujur saja Mentari lelah walau barang sehari dirumahnya. Dia hanya bisa pasrah bahwa dia belum menemukan seseorang yang bisa singgah dihatinya.

"Gue makan dulu! Lapar banget!" Mentari mengusap perutnya.

"Cari jodoh juga sana!" Usir Afika.

Mentari tersenyum dan berjalan menuju tempat makanan berada. Dia sudah tidak tahan untuk segera memakan sesuatu. Sejak pagi dia belum memakan sesuatu selain roti dan susu. Itupun hanya sedikit baginya. Saat di Jogja dia selalu sarapan banyak hal yang di temukannya sepanjang jalan menuju kampus. Terutama nasi yang di bungkus dengan daun dengan harga yang amat murah. Hidupnya lebih bersahaja disana. Makan seadanya, hidup seadanya, Mentari jadi tahu akan hal lain tentang hidup sederhana.

"Tar! Mentari kan?" Tanya seseorang yang menepuk pundak Mentari.

"Hmm? Siapa?"

"Sadam, gue Sadam!"

"Sadam? Kok beda banget, lo tambah tua ya?" Mentari terkekeh melihat Sadam.

"Lo juga! Gue nggak lihat lo 10 tahun ini, lo jadi beda. Gue kira salah orang tadi."

"Lama nggak ketemu, ayo duduk! Gue mau makan nih!" Ajak Mentari membawa banyak makanan di tangannya.

Sadam sudah berubah banyak di mata Mentari terutama karena kisah cintanya dan Afika yang kandas beberapa tahun yang lalu. Mentari melihat perubahan Sadam yang cukup signifikan. Dia cukup terkejut Sadam akan datang ke pesta pernikahan mantannya. Apalagi Mentari tahu bahwa Sadam dan Afika putus dalam keadaan tidak baik-baik saja.

"Sibuk apa sekarang?" Tanya Mentari.

"Gue sibuk bikin komik online. Lo pasti nggak pernah lihat Ig gue, nih!"

"Sorry, gue off sosmed. Terus apa lagi?"

"Freelance aja, lo sendiri?"

"Gue kerja di perusahaan finance."

"Lo sendirian aja kesini? Langit mana?" Tanya Sadam melihat sekeliling.

"Langit? Gue nggak sama dia. Gue juga nggak tahu dia dimana. Kita nggak pernah kontakan. Habis SMA gue nggak pernah bicara lagi sama dia." Mentari memakan makanannya.

Bahkan saat di rumah, dia tidak tahu keberadaan Langit dimana. Keadaan sudah berubah banyak setelah mereka semua lulus SMA.

"Aduhh, belum kelar masalah lo berdua."

"Masalah apa? Gue nggak ada masalah apa-apa sama dia."

"Ada, tapi ini masalahnya di lo. Lo udah ketemu Bintang?"

"Belum. Gue juga nggak tahu dia." Mentari tersenyum. Dia seperti menghilang dari kehidupan orang-orang di masa lalunya dulu.

Dia tidak tahu apa yang terjadi pada mereka semua. Mentari memilih pergi dan mencari hidupnya sendiri.

"Belum kelar juga masalah lo. Eh, lo mau nggak mau tuh tangkap bunga. Kayaknya udah mau mulai." Sadam menunjuk orang-orang yang berbaris.

"Gue nggak ada pasangan, masa gue maju? Siapa yang mau nikah?"

"Siapa tahu tiba-tiba dapat cowok terus nikah. Cobain sana!"

Mentari melihat orang-orang yang semakin banyak. Mungkin saja mitos tentang lempar bunga itu benar. Mentari berdiri dan melambaikan tangan pada Afika agar dia bisa mendapatkan bunganya. Tangan Mentari terangkat sesaat bunga terlempar jauh. Bunga itu terlempar dan cukup dekat dengan Mentari. Mentari melompat bersamaan sebuah tangan besar ikut menangkap bunga yang dipegangnya. Tubuh Mentari mendarat dengan tangan yang memegangi pundaknya.

"Lo nggak apa-apa?" Tanya sebuah suara yang Mentari kenal.

"Oh, Langit!" Mentari mendongak dan melihat Langit yang semakin tinggi.

Dulu rasanya mereka memiliki tinggi badan yang tidak jauh tapi sekarang Mentari perlu mendongakkan kepalanya melihat wajah Langit. Wajah yang Mentari tidak lihat selama ini.

"Mentari?"

Langit menatap wajah Mentari yang dekat dengannya. Wajah yang dia rindukan selama ini. Langit meneliti setiap inci wajah Mentari. Wajah yang tetap cantik dan manis bagi Langit.

"Lama nggak ketemu, Tar!"

🌞🌞🌞

Salam ThunderCalp!🤗

Ketemu aja Bang Langit sama Dek Mentari!

Jangan lupa like, komen, dan share!

See you...

Toko Kaca ( END )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang