"Semua manusia punya masalahnya, jadi jangan menilai pada sesama. Kita semua tak pernah tahu seberapa berat masalah mereka."
🌞🌞🌞
Sepanjang jalan Mentari terdiam memikirkan reaksi Bintang yang tak memperdulikannya. Bahkan ketika mereka semua pulang hanya Arez yang mengantar termasuk meminta maaf. Tapi bukan itu yang membuat Mentari terkejut, melainkan perubahan Bintang yang dia tak tahu. Bintang bukan Bintang yang dia lihat dulu.
"Kenapa?"
"Kayaknya kita tadi salah banget, Lang."
"Hmm, iya juga. Harusnya kita juga chat Bintang mau kerumahnya. Kalau gini kayaknya kita jadi tersangka."
"Tersangka apa lagi?"
"Ya, lihat aja. Besok kalau lo ketemu, mending kasih waktu dulu. Dia paling juga syok kan. Kalau waktunya udah pas, kita minta maaf sama dia."
"Kok lo tumben bijak."
"Udah sejak dulu Bang Langit bijaksana. Lo aja kayak Afika, kebanyakan negatif thinking sama gue."
"Ya gimana ya, lo banyak negatif nya sih."
"Ganteng-ganteng gini Tar. Lo lapar nggak nih?"
"Nggak napsu makan."
Bahkan jika didepannya terpampang seluruh makanan kesukaannya. Mentari tidak akan mau makan barang sesuap pun.
"Udah malem juga, tante pasti nyariin. Mau martabak nggak? Raka suka tuh."
"Boleh deh."
"Oke, ibu negara. Mau martabak dimana?"
"Lo kan sering beli, enaknya mana?"
"Pertigaan indojuni aja."
"Lo sering beliin mantan lo itu ya?"
"Kepo!"
Mentari mencubit perut Langit keras. Dia hanya ingin bertanya saja, apa susahnya untuk menjawab.
"Auhh... Cubitan sayang lo kekencangan."
"Mau gue kasih banyak nggak cubitan sayangnya?"
"Nggak deh, satu cukup."
"Makanya tinggal jawab."
"Hmm, cuma dua kali."
"Ohh..."
"Kenapa tanya?"
"Tanya aja."
"Ya, kalau gue ke lo sih. Nggak cuma martabak Tar, kalau bisa sih sembako lebih berguna buat Tante."
🌞🌞🌞
"Tar, gue minta maaf sama lo."
Afika datang dengan wajah sembab dan kantung mata hitam gelap. Wajahnya begitu kusut, siapapun yang melihat pasti berpikir Afika baru saja mengalami sebuah gangguan pada dirinya.
"Lo habis kesurupan kuntilanak?" Sadam datang ikut memperhatikan Afika.
"Apaan sih lo! Sana pergi jauh!"
"Palingan lihatin boyband Korea lagi." Sadam pergi dengan tendangan Afika.
Mentari melihat sahabatnya dan termenung sesaat. Dia sebenarnya tahu apa yang ingin Afika katakan.
"Buat apa?"
"Gara-gara gue, lo sama Bintang jauh-jauhan kan?"
"Terus?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Kaca ( END )
Novela JuvenilIni sebuah kisah tentang sebuah pendewasaan diri dari seorang anak yang memahami apa arti sebuah cinta.
