53. Perasaanku Untukmu

37 5 0
                                        

"Pada kenyataannya saya suka kamu!"

🌞🌞🌞

"Fik!"

"Tar!"

Afika dan Mentari menatap satu sama lain. Mereka sama-sama ingin mengatakan sesuatu. Afika menarik tangan Mentari menuju taman di belakang agar pembicaraan penting mereka tidak didengar oleh orang lain.

"Oke, gue punya cerita hot! Sadam mau ikut pameran, Tar!"

"Pameran apa?"

"Dia itu ternyata suka buat karya seni gitu. Dia dapat kesempatan pajang karyanya di pameran seni. Terus kemarin waktu kita nonton, dia suruh gue datang. Katanya harus banget datang kesana. Buat apa ya? Gue jadi deg-degan!" Teriak Afika tertahan.

"Bagus dong! Berarti acara lo sama Sadam berjalan lancar?"

"Hmm... Dia ganteng banget kemarin! Gue nggak sangka Sadam bakalan berubah jadi Oppa-Oppa Korea! Dia nggak kayak Wibu. Pokoknya ganteng banget! Lo datang sama gue ke pameran! Gue mau kasih dia bunga!" Afika mengepalkan tangannya. Dia harus memberi selamat pada Sadam yang akan memamerkan karyanya.

"Oke! Gue bakalan kesana."

"Makasih, Tar! Gue seneng banget! Terus lo mau bicara apa?" Tanya Afika pada Mentari.

"Fik, gue mau jawab perasaan Bintang sama gue. Tapi gue nggak tahu caranya bilang ke dia. Gue harus apa?"

"Hah? Lo mau pacaran sama Bintang?"

Mentari menunduk malu dan menutup wajahnya yang memerah. Dia ingin mengatakan perasaannya pada Bintang. Mentari tidak ingin menyesal seperti yang Langit katakan. Dia ingin melakukannya dan menjawab Bintang.

"Ajak aja Bintang ngobrol! Atau kasih dia sesuatu!"

"Gue bingung!"

"Hmm... Gimana kalau lo telpon dia sekarang?"

"Jangan! Jangan sekarang! Gue belum siap."

"Kapan siapnya?"

"Gue mau siapin sesuatu dulu buat Bintang. Kalau gue bikin kue terus jawab perasaannya, bagus nggak?" Mentari menggigit bibirnya.

"Pfttt... Lo jadi lucu banget sih, Tar. Bisa, sih! Sebentar lagi kan ulang tahun Bintang. Coba aja kasih dia kejutan sama jawab perasan lo!"

Mentari menganggukkan kepalanya, dia akan membuat kue saat ulang tahun Bintang. Afika tersenyum melihat temannya yang begitu malu. Pertama kalinya Mentari terlihat seperti ini dan ini berkat seorang Bintang lagi. Mungkin Afika juga harus memberikan hadiah sebagai ucapan terimakasih atas apa yang Bintang lakukan. Afika hanya ingin Mentari bahagia, itu saja.

🌞🌞🌞

"Temen lo jadi gimana? Baik-baik aja, kan?" Tanya Mentari ingin tahu.

"Baik, Tar. Maaf, kemarin saya tidak jadi ke rumah kamu."

"Ngga apa-apa! Gue nggak masalah juga. Untungnya Raka punya temen jadi mereka semua main sama-sama. Tapi ya itu, ada yang rebutan mainan jadi mereka pada nangis. Gue capek banget ngurusin anak-anak itu." Keluh Mentari.

Sejak teman-teman mamanya berdatangan, Mentari begitu sibuk kesana-kemari. Membantu mamanya, menjaga Raka, dan masih banyak lagi. Beruntung Langit juga ikut membantunya menyelesaikannya kasus anak-anak yang menangis bersamaan walau membuat Langit harus menjadi kuda-kudaan untuk menyenangkan mereka. Mentari teringat akan hal itu dan terkekeh geli sendiri.

"Sayangnya saya pergi. Lain kali saya akan ikut bantu kamu."

"Iya."

"Bin, emang temen lo kenapa?" Tanya Afika ingin tahu.

"Dia kecelakaan, mobilnya tidak sengaja tabrakan dengan mobil lain. Semuanya selamat cuma teman saya luka ditangannya."

"Ngeri juga." Afika memakan baksonya.

"Dimana kecelakaannya?" Tanya Sadam ingin tahu.

"Saya lupa nama tempatnya, saya ketemu dia di rumah sakit. Kalau tidak salah daerah Jakarta Selatan."

"Jaksel? Sekarang memang harus hati-hati banyak kecelakaan. Lo juga, Fik. Kalau pakai motor tuh jangan ngebut kayak balapan." Peringat Sadam pada Afika.

"Gue nggak ngebut!"

"Apaan! Orang lo aja bawanya kayak orang kesetanan. Mending pelan-pelan tapi sampai. Keselamatan itu nomer satu, kalau dibilangin nggak usah ngeyel." Sadam mencubit pipi Afika.

"Auhh... Sakit tahu!" Wajah Afika berubah menjadi begitu merah.

"Makanya dengerin gue!"

"Iya-iya!" Afika mengusap pipinya yang memerah.

"Kalian pacaran?" Tanya Bintang membuat dua orang itu tersedak bersamaan.

Afika dan Sadam saling pandang, mereka memalingkan wajahnya dengan wajah yang merah. Mentari menyadari satu hal, mereka memang saling menyukai. Dia menahan tawa melihat tingkah mereka yang begitu malu.

"Gue ke kelas dulu!" Sadam menyuapkan makanan terakhir ke mulutnya dan pergi.

"Hmmm... Gue mau ke toilet!" Afika berdiri dan berlari begitu cepat.

"Pfttt... Hahaha... Bintang!" Mentari tertawa. Satu pertanyaan Bintang mampu membuat dua orang pergi dari meja.

"Pertanyaan saya salah?" Tanya Bintang menunjuk dirinya.

"Mereka belum pacaran, Bin."

"Oh, saya kira mereka sudah pacaran. Mereka jadi dekat, ternyata belum." Bintang tertawa kecil.

"Ya udahlah, lagian mereka juga saling suka. Waktu itu Sadam tanya, Afika suka apa. Gue jawab suka Oppa-Oppa Korea. Kayaknya Sadam juga suka sama Afika. Afika apalagi." Mentari tersenyum.

Sadam beberapa kali bertanya padanya mengenai Afika. Makanan kesukaan, minuman kesukaan, tempat favorit, dan masih banyak lagi sampai Mentari berniat memblokir nomer Sadam. Tapi semua itu tidak bertahan lama, Sadam menjadi lebih dekat dengan Afika tanpa bantuannya.

"Kalau kamu? Apa kamu juga suka sama saya?"

Bintang menatap Mentari dalam, dia ingin tahu perasaan gadis disampingnya ini. Gadis yang disukainya begitu lama.

"Apa lo masih suka sama gue, Bin?"

"Saya masih butuh berapa lama sampai kamu sama saya? Saya bisa tunggu kamu sampai kamu suka sama saya."

"Bin, bisa tunggu sedikit lagi nggak? Kalau waktunya tiba, gue bakal jawab." Mentari tersenyum begitu manis. Dia akan menjawabnya saat ulang tahun Bintang.

Bintang menutup mulutnya dan memperhatikan senyuman Mentari yang lebih manis dari apapun.

"Saya harap jawabannya iya, Tar. Saya suka sama kamu. Suka sekali."

🌞🌞🌞

Salam ThunderCalp!🤗

Jangan lupa like, komen, dan share!

See you...

Toko Kaca ( END )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang