"Manusia itu serakah!"
🌞🌞🌞
"Abah, Langitnya mana?"
"Sakit, panas badannya. Ada apa?"
"Langit sakit?" Mentari segera masuk dan berlari menuju kamar Langit.
Pagi ini sampai jam 10, Langit sama sekali tidak bisa dihubungi. Raka terus menerus mengajaknya untuk segera pergi melihat pameran yang dibicarakan Langit semalam. Mentari tidak tahu bahwa Langit akan jatuh sakit.
"Eh, Mentari!" Ibu Langit membuka pintu kamar Langit.
"Langit sakit, Bu?"
"Iya, badannya panas. Tadi udah dibawa ke dokter. Katanya dia kecapekan sama emang lagi drop lagi."
"Boleh Mentari masuk?"
"Masuk aja! Ibu mau bikinin bubur dulu buat makan obat."
Mentari masuk dan melihat Langit yang sedang berbaring dengan wajah menahan rasa sakit. Beberapa kali Langit menggeram dan merubah posisi tubuhnya mencari tempat yang nyaman untuknya tidur. Mentari menjadi tidak tega untuk melihatnya. Mungkin Langit seperti ini karena semalam. Langit juga tertidur pulas di kamar Raka.
"Lang!"
"Hmm..."
"Gue sama Raka pergi sendiri ya! Gue udah tahu tempatnya, lo istirahat aja di rumah. Lo baru sakit gini. Kecapekan banget ya semalem. Maaf, ya."
"Tar?"
"Iya?"
"Maaf ya! Gue nggak bisa sekarang, padahal gue yang ajak lo pergi."
"Nggak apa-apa! Lain kali aja perginya sama-sama. Ibu lo lagi buat bubur, nanti dimakan sama obatnya. Jangan lupa minum obat biar cepat sembuh!"
"Iya!"
"Gue pulang! Semoga cepat sembuh!" Mentari tersenyum pada Langit.
Jika saja mereka tidak pergi semalam mungkin saja Langit tidak akan sakit. Mentari menjadi sangat bersalah pada kedua orangtua Langit. Keadaan Langit masih belum stabil sampai saat ini dan itu semua juga karena kesalahan Mentari di masa lalu. Andai waktu itu... Andai saja hari itu... Mentari menutup matanya dan keluar dari kamar Langit. Harusnya mereka tidak dekat seperti ini. Harusnya mereka tidak perlu saling mengenal. Harusnya Mentari menjauhi Langit sejak dulu.
Semuanya adalah salah Mentari sendiri. Dia terlalu menerima apa yang Langit lakukan selama ini. Mentari tahu apa yang dilakukan Langit. Dia paham. Tapi, dia hanya mencoba bersikap biasa saja dan membuang semua pemikiran yang melintas diotaknya. Mulai saat ini, dia akan memberi batasan pada dirinya dan Langit. Dia tidak ingin semakin terjerat pada kesalahan dan masa lalunya. Mentari menghembuskan napasnya dan berjalan menuju rumahnya kembali. Hari ini terakhir kalinya untuknya dan Langit.
🌞🌞🌞
"Kak, saya mau masuk sama adik saya. Jadi berapa?"
"Buat anak kecil gratis. Jadi bayar satu buat orang dewasa aja!"
"Oh, ini!" Mentari memberikan uang untuk masuk ke dalam pemeran.
Mereka di beri sebuah gelang berwarna biru cerah. Raka melihat-lihatnya dan mengangkat tangannya ke atas. Warnanya mirip sebuah warna langit yang begitu cerah.
"Ini apa?"
"Gelang buat masuk! Ayo!" Mentari menggenggam tangan adiknya dan masuk ke dalam pemeran.
Pertama kalinya bagi Mentari untuk melihat pameran yang ada. Pemeran ini adalah pameran tentang lautan. Penuh dengan slogan-slogan untuk melindungi lautan yang terancam karena perbuatan manusia. Ada banyak objek tentang sampah di laut, ikan mati, naiknya permukaan air laut, dan masih banyak lagi isu yang diangkat. Mentari mendongak ke atas. Ada sebuah lukisan yang begitu indah di atas sana. Sebuah lukisan besar paus.
"Itu paus! Itu ikan pari! Itu kuda laut! Itu... Itu apa?" Tanya Raka menunjuk sebuah hewan.
"Bintang laut!"
Bukan Mentari yang menjawabnya, melainkan Bintang tersenyum pada Raka. Raka dan Mentari terdiam melihat Bintang yang datang ke acara ini. Mentari melihat sekeliling, mungkin ini sebuah kebetulan yang tidak disengaja.
"Lo kesini juga?"
"Iya, teman saya buat salah satu lukisan disini. Jadi saya pergi untuk lihat lukisannya. Kamu sama Raka, kenapa bisa disini? Saya tidak tahu kalau kamu suka pameran seni."
"Langit ajak kita berdua kemari, tapi dia baru aja sakit. Jadi gue bawa Raka. Raka pengen banget lihat pameran. Dia suka banget sama lukisan disana."
"Raka suka?" Tanya Bintang berjongkok.
"Hmm... Raka lihat lukisan ikan besar banget, terus ada patung terumbu karang. Kalau besar nanti Raka pengen buat kayak gini." Raka menunjuk satu patung yang berbentuk ombak yang menggulung ditengahnya terdapat banyak ikan dan terumbu karang.
Raka menatapnya dengan penuh ketakjuban ditambah ada banyak cahaya yang menyinarinya. Raka sangat antusias untuk melihat hal lainnya juga. Dia teringat pada papanya yang bekerja di tengah laut. Bertarung dengan ganasnya ombak dan mempertaruhkan nyawanya di kapal besar. Dia seperti melihat laut yang dilihat oleh papanya. Mentari mengusap kepala Raka.
"Bisa?" Tanya Mentari.
"Bisa, tinggal wushhh... wushhh... Jadi! Kayak di video-video itu! Raka udah pinter gambar! Kalau gambaran Raka dikasih disini bisa nggak? Raka bisa gambar paus besar!"
"Bisa, kalau Raka besar nanti. Raka pasti bisa pajang gambaran Raka disini. Belajar yang rajin dari sekarang."
"Kak Tari! Raka diajak kesini lagi ya! Nanti Raka bisa ajak Fifi juga! Sama Rudi, Dani, Iqbal, Fauzi, Intan, Sania, terus... Semuanya! Ajak kesini ya?"
Mentari mengusap dadanya berulang kali. Adiknya akan mengajak seluruh anak-anak di perumahannya untuk datang kemari. Mobil tidak akan cukup, Mentari harus menyewa bis besar. Mereka akan dikira sebagai kunjungan anak TK ke pemeran.
"Raka mau lihat tempat lain? Ada banyak tempat disini, ada juga patung yang lebih besar dari ini." Ajak Bintang.
"Mau!"
Bintang segera menggendong Raka dan mengajaknya pergi bersama. Raka tersenyum senang dan memeluk Bintang erat. Dia akan melihat banyaknya patung dan lukisan tentang laut lainnya. Raka sangat menyukainya!
"Tar, ayo!" Bintang berbalik dan melihat Mentari yang diam.
"Iya!"
🌞🌞🌞
Salam ThunderCalp!🤗
Jangan lupa like, komen, dan share!
See you...
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Kaca ( END )
Dla nastolatkówIni sebuah kisah tentang sebuah pendewasaan diri dari seorang anak yang memahami apa arti sebuah cinta.
