54. Obrolan Langit

38 5 0
                                        

"Karena kamu nanya untuk aku!"

🌞🌞🌞

"Muka lo tadi merah banget!" Tunjuk Mentari pada Afika.

"Emang iya?"

"Sadam juga sih."

Afika menunduk dan memegangi pipinya yang merah padam. Dia juga tahu akan hal itu tadi. Wajah Sadam juga amat memerah seperti dirinya. Mentari menahan tawa dan melihat gerbang yang mulai sepi.

"Gue malu, Sadam apa suka juga sama gue?"

"Mungkin aja. Besok, jangan lupa pamerannya! Lo beli bunganya belum?" Tanya Mentari.

"Belum! Apa sekarang aja? Ayo, Tar ikut gue. Gue harus beli bunga buat Sadam!"

"Gue kabari Bintang dulu. Dia masih di dalam."

Mentari
Bin, gue bareng sama Afika. Dia mau beli sesuatu jadi gue nemenin dia.

Dia tidak ingin Bintang mencarinya. Mentari naik ke atas motor Afika dan pergi bersama menuju toko bunga.

"Tar, gue harus beli yang mana?" Tanya Afika kebingungan melihat banyaknya bunga yang berjejer indah.

"Tanya aja sama kakaknya yang cocok untuk hadiah."

"Okey!"

Mentari melihat-lihat bunga yang ada. Dia juga ingin memberikan pada Bintang nantinya. Mentari tersenyum sendiri dan mencium aroma bunga disekitarnya. Ada bunga mawar, bunga tulip, dan bunga lain yang Mentari tidak tahu namanya. Dia sering melihat orang-orang yang saling memberi bunga sebagai tanda hadiah. Di hidup Mentari dia tidak pernah menerima satupun bunga dari seseorang. Apa yang akan dirasakannya menerima bunga dari orang lain?

"Tar, lo mau bunga ini nggak?" Tunjuk Afika pada bunga matahari.

"Bunga matahari?"

"Ini kan kaya nama lo, Matahari Mentari. Gue beliin ya? Lo kan bantu gue terus, gue mau kasih hadiah buat lo juga. Kak, tolong bungkusin bunga ini." Afika tersenyum pada Mentari.

"Nggak apa-apa, nih?" Tanya Mentari mendekat.

"Nggaklah, lo sahabat gue yang selalu ada dalam suka dan duka. Kali ini gue mau kasih lo sesuatu tapi emang bukan barang mahal. Gue pengen aja kasih lo hadiah."

Mentari tersenyum menyaksikan sahabatnya memberinya sebuah bunga matahari padanya. Bunga yang mirip dengan namanya. Sebuah bunga yang mengingatkan Mentari dengan dirinya sendiri.

"Makasih, Fik. Ternyata gini rasanya dikasih bunga sama orang lain. Gue seneng banget!"

"Hahaha... Lo itu harus banyak-banyak seneng, Tar. Jadi gue orang pertama dong? Kasian Bintang besok jadi orang kedua."

"Fik, apa lo mau ini juga? Bunga ini kayak lo banget!" Mentari menunjuk sebuah bunga dengan warna merah muda yang indah. Bunga mawar pink.

"Gue ada banyak di rumah. Kalau lo mau beliin gue, album K-Pop aja! Hehehe..."

"Mau lo!" Mentari melihat bunganya sayang. Dia juga akan memberitahu mamanya untuk menanam bunga matahari di rumahnya. Sangat banyak sampai memenuhi segala penjuru rumah.

Toko Kaca ( END )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang