"Manusia akan menyadari kehampaan jika sesuatu yang sangat berharga baginya hilang."
🌞🌞🌞
Mentari kira dia bisa sekadar menyapa Bintang. Bahkan ketika mereka tak sengaja berpapasan, Bintang hanya melewatinya tanpa senyum sekalipun. Afika juga, dia semakin merasa bersalah sampai dia tak lagi memikirkan soal Arez. Mentari menjadi korban karena keinginannya.
"Tar, kali ini gue berharap lo nggak kayak kemarin lagi. Kalau ada cowok, kita harus selidiki dulu semuanya."
"Belajar sana sama Sadam. Nilai lo turun lagi."
"Sadam?"
"Apa? Nama gue dipanggil!" Sadam menengok ke belakang.
"Dasar Wibu!"
"Idih Kpopers suka war!"
"Dua ras terkuat saling sikut, siapa pemenangnya?" Langit berdiri di tengah mereka.
"Sukanya cewek gepeng aja!" Afika menantang Sadam.
"Lo sendiri? Cuma bisa halu!"
"Lo juga kan! Paling lebih parah!"
"Eh, lo kalau lihat cowok ganteng. Pasti bilang rahim anget."
"Bacot lo!"
"Benarkan?"
Bukkk...
"Kalian mau perang di lapangan aja, mumpung terik ini." Mentari tersenyum menutup bukunya.
"Ayo, Tar. Abang Langit beliin es krim." Langit merangkul Mentari pergi.
Afika dan Sadam masih berlanjut untuk adu mulut. Mentari memijat kepalanya mendengar suara mereka malah terdengar walau sudah jauh. Dia tahu Afika tak akan pernah kalah jika harus adu mulut lawan siapa pun itu. Apalagi ini menyangkut kesukaannya. Dia bisa untuk bertarung di medan tinju sekalipun.
"Mau beli apa?"
"Katanya lo mau beliin es krim?"
"Oh iya, mau yang lain? Gue punya uang banyak nih." Langit menunjukan beberapa lembar uang berwarna biru.
"Ini bukan uang Abah kan?" Mentari menatap Langit curiga.
"Ya bukan lah, ini hasil kerja sebulan. Gue kan jadi kuli angkut di warung. Masa nggak dibayar? Ya gue minta lah, Abah juga bilang karena gue semua pekerjaannya nggak usah bayar orang."
"Soalnya ada lo, bayarannya juga lebih kecil."
"Kayaknya gue emang diperbudak sama abah. Tapi nggak apa-apa sih, toh gue juga bisa olahraga tanpa gym." Langit memperlihatkan otot lengannya yang besar. Memang ada hasilnya jika terus angkut barang setiap hari.
"Lo ikut paskib aja sana, pasti masuk."
"Karena tahan banting ya?"
"Siapa tahu aja masuk."
"Panas! Gue item tambah item."
"Cowok kan? Takut banget item." Sindir Mentari.
"Soalnya cewek sukanya putih gitu, gue insecure."
"Langit bisa ngomong insecure?"
"Bisa kali, kebanyakan cewek zaman sekarang. Sukanya kayak cowok Korea, gue merasa kalah saing akhir-akhir ini."
"Lo kebanyakan ejek Afika, sekarang malah merasa tersaingi."
"Lo aja tipenya gitu kan?" Tanya Langit membuat Mentari terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Kaca ( END )
Fiksi RemajaIni sebuah kisah tentang sebuah pendewasaan diri dari seorang anak yang memahami apa arti sebuah cinta.
