"Rencana Allah yang terbaik dari segala rencana."
🌞🌞🌞
"Apaan?"
"Dia suka judul apa?" Tanya Mentari berputar-putar melihat seisi toko buku. Aroma kertas langsung menusuk hidungnya saat membuka pintu masuk. Dia menyukainya karena di rumah Mentari memiliki banyak sekali novel.
"Mana tahu gue, pokoknya di wattpad. Apa aja yang penting dari sana!"
"Gundulmu, banyak novel dari wattpad. Gue pilihan yang best seller aja!"
Langit mengangguk-angguk dan cengengesan. Dia benar-benar tak paham akan selera anak perempuan zaman sekarang. Jika dulu diberikan jepit rambut pasti senang bukan main. Kalau sekarang semuanya beralih ke benda di zaman dulu dianggap benda mahal. Langit mengekori Mentari ke rak dengan jumlah buku lumayan sedikit. Peminatnya yang menjadikan novel-novel laris manis dipasaran.
"Dia emang nggak bilang apa-apa gitu, yang lebih spesifik?" Tanya Mentari jongkok melihat buku dengan sampul warna merah muda.
"Hmm, dia itu suka banget sama yang romantis gitu. Pokoknya ceritanya akhir bahagia."
"Yaelah, nih!"
Pilihan Mentari jatuh pada buku sampul merah muda itu. Dia sudah pernah membacanya di wattpad dan akhirnya cerita di novelkan. Langit menimang-nimangnya, harganya cukup lumayan untuk kantong keringnya. Secara novel yang sedang naik daun dengan penulis terkenal.
"Tar, gue boleh minta tolong lagi nggak?"
"Apa? Pinjam uang?"
"Hehehe... Iya, nanti gue ganti di rumah!"
"Enak aja lo, lo sama gue itu lebih kaya lo. Mana yang katanya Langit yang tajir? Mbel gedes!" Mentari berkacak pinggang meninggalkan Langit.
"20 ribu aja!" Pinta Langit.
"Gini, lo sebagai cowok harusnya siapin uang lebih. Nggak modal amat lo!"
"Gue ganti deh, janji!"
"Ribet sama lo, ogah ah."
"Tar, nanti gue kenalin sama teman gue. Dia ganteng, baik, dan lo pasti suka."
"Nggak!"
"Besok gue kembaliin sekaligus traktir lo deh."
"Nggak!"
"Gue juga bakal kasih lo gratis jajan di toko gue."
"Okey! Awas lo ingkar, janji lo udah dicatat sama malaikat!"
"Iya."
🌞🌞🌞
"Kak! Teman kakak datang!" Raka berlarian ke arah kakaknya yang baru datang.
"Siapa? Afika?"
Raka menggeleng dan menarik tangan Mentari. Bukan Afika yang datang ke rumahnya. Kali ini berbeda karena dari belakang punggung laki-laki yang nampak. Laki-laki itu sedang berbicara dengan ibunya begitu akrab sampai ibunya tertawa renyah. Mentari ragu-ragu berjalan, hanya satu orang yang dia kenal sebagai temannya yaitu Langit. Lalu, siapa pemuda di rumahnya?
"Assalamualaikum!"
"Wallaikumsalam!"
Pemuda itu berbalik dan mengembangkan senyumannya. Mentari melotot terkejut, jantungnya berdetak cepat.
"Lo!"
"Hai!"
"Mama tinggal dulu, kamu temani Bintang. Katanya dia cariin kamu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Toko Kaca ( END )
Fiksi RemajaIni sebuah kisah tentang sebuah pendewasaan diri dari seorang anak yang memahami apa arti sebuah cinta.
