Perpisahan memang bukan hal yang diinginkan bagi setiap manusia, melepas kepergian seseorang adalah suatu hal yang cukup sulit. Namun keadaan yang memaksa akan hal itu terjadi, kita harus apa? Jawabannya adalah melepaskan dan merelakan, melupakan? T...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌻
Hari ini adalah ujian kenaikan kelas terakhir bagi kelas 10 dan kelas 11. Sedangkan untuk kelas 12, mereka belajar di rumah selama ujian kenaikan kelas berlangsung. Diana dan Celine berada di satu ruangan yang sama yakni ruang 3, sedangkan Leoni berada diruang 4. Mereka di acak sesuai dengan absen.
Mata pelajaran terakhir adalah Seni Budaya, terdengar pelajaran yang cukup mudah. Namun, pada bagian esai harus mikir juga.
Leoni sedang mengerjakan soal esai nomor 4, sisa waktu masih 40 menit maka dari itu Leoni menulis dengan sedikit lambat. Terdengar suara bangku bergeser, salah satu teman Leoni bangkit, lalu berjalan menghampiri pengawas ujian, dia sudah selesai. Tak sampai situ, ternyata murid-murid yang lain pun mengikuti, mereka juga mengumpulkan soal ujian, lalu pulang.
Hal itu membuat Leoni tidak tenang, ingin segera cepat selesai juga. Padahal waktunya masih lumayan lama. Di ruangan pun masih tersisa 11 orang.
Leoni mempercepat menulisnya, selesai mengerjakan soal nomor 4, kini ia mulai membaca soal nomor 5.
"Sebutkan 4 tokoh-tokoh teater nontradisional!" Monolognya.
"Anjir siapa? Gue gak tau!" Serunya.
Ia memejamkan mata, mengingat nama-nama tokoh tersebut. Leoni mulai mengingat namanya, segera ia tulis, takut lupa. Sampai pada nama tokoh terakhir, Leoni lupa lagi. Ia memukul-mukul kepalanya.
"Ayo dong otak, jalan!"
"Ih siapa sih!
"Udah ah, tulis aja nama ayah gue."
Karena Leoni sudah malas untuk berpikir, ia menulis nama Ayahnya pada lembar jawaban. Setelah itu, ia bangkit dan menyerahkan soal beserta lembar jawaban kepada pengawas. Ia meraih tasnya, memasukkan alat tulis, lalu menyalami pengawas, dan bergegas pulang.
Sebelum itu, Leoni menghampiri ruangan tempat Diana dan Celine. Dilihatnya ruangan itu masih banyak murid-murid yang mengerjakan soal, tidak seperti ruangan Leoni yang dicap sebagai ruangan paling cepat selesai, sehingga membuat ruangan lain ikut terburu-buru, merasa iri ingin pulang lebih cepat juga.
Leoni duduk di kursi panjang sambil membaca novel. Matanya sudah mulai pegal membaca, ia menutup novel lalu dimasukkannya ke dalam tas. Ia mengedarkan pandangannya, matanya menangkap sosok perempuan keluar dari ruang BK (Bimbingan Konseling).
"Kak Tania!" lantas ia memanggilnya.
Tania melambaikan tangannya, lalu menghampiri Leoni.