Perpisahan memang bukan hal yang diinginkan bagi setiap manusia, melepas kepergian seseorang adalah suatu hal yang cukup sulit. Namun keadaan yang memaksa akan hal itu terjadi, kita harus apa? Jawabannya adalah melepaskan dan merelakan, melupakan? T...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌻
Gaiska dan teman-temannya kembali pulang ke rumah laki-laki itu. Sesampainya di rumah, Gaiska berjalan cepat untuk menghampiri Hani yang masih menangis dipelukan Farah.
"Maa," lirih Gaiska.
Hani mendongak menatap putranya, Gaiska lantas duduk dan memeluk mamanya, ia kembali menangis pada pelukan Hani, begitupun dengan Hani yang semakin tak kuasa menahan rasa sesak yang menjalar di hatinya.
Gaiska melepas pelukan itu lantas bertanya, "Kita harus apa, Ma?"
"Mama mau cerai dari papa kamu. Kamu setuju?" Lalu Gaiska mengangguk yakin, lelaki itu sangat setuju dengan keputusan mamanya.
"Apapun keputusan yang Mama ambil, aku dukung. Aku juga gak mau liat Mama sedih."
"Sebentar, Mama mau telpon papa kamu dulu." Hani berdiri untuk mengambil ponselnya yang berada di kamar, setelah itu ia kembali ke tempat semula. Lalu Hani mencari nomor hp Nata dan segera meneleponnya.
Tak lama panggilan tersambung. Tanpa basa-basi lagi, langsung saja Hani meminta Nata untuk pulang ke Tanah Air secepatnya.
"Cepat urus keberangkatan kamu ke Indonesia sekarang, kita perlu menyelesaikan urusan kita di pengadilan agama," ucap Hani datar.
"Sayang, dengerin penjelasan aku dulu," pinta Nata.
"Gak ada yang perlu dijelasin lagi, aku udah tau semuanya!" Geram Hani, ia langsung mematikan sambungan telpon itu secara sepihak. Hani sudah tidak mau mendengarkan omong kosong dari Nata.
Farah hanya bisa mengusap-usap bahu sahabatnya itu agar emosi perempuan itu mereda. Begitu juga dengan Gaiska, lelaki itu memegang tangan Hani dengan erat.
"Sabar ya, Ma. Gaiska bakal selalu ada di samping Mama," kata Gaiska mencoba menenangkan Hani.
"Kamu juga yang sabar ya, Nak," ucap Hani sendu. Gaiska hanya tersenyum hangat.
"Ma, Gaiska sama temen-temen izin ke belakang dulu ya," pamit Gaiska seraya melirik teman-temannya.