Raina pikir mereka hanya tampan di foto, nyatanya mereka jauh lebih tampan bila dilihat langsung. Raina tersenyum ceria menatap keempat pria yang berjalan beriringan di lorong, meskipun tersenyum ceria, jantung Raina tidak bisa diajak berkompromi dan masih terus saja berdisko. Menyadari ada sesosok gadis mungil yang menanti mereka dengan senyuman ceria namun terlihat bodoh, mereka terlihat bingung.
"Siapa?" lirih Bian berbisik.
"Dari penampilannya seperti penggemar gila Zevan!" seru Leon menyenggol bahu Zevan.
"Dia terlihat seperti gadis SMP, itu jelas penggemar Bara," ketus Zevan menolak.
Bara menoleh. "Sejak kapan aku memiliki penggemar?"
Leon terkekeh namun ia menghentikan senyumannya setelah menyadari mereka sudah lebih dekat dengan gadis yang terlihat sedang menanti mereka. Dan anehnya gadis itu juga berjalan mendekat ke arah mereka, dengan senyuman yang sedari tadi tak pudar dari bibirnya.
Langkah mereka berhenti dan saling bertatapan satu sama lain.
"Haiii, aku Raina! Tetangga baru kalian, panggil aja Rain tapi jangan panggil hujan hehe!" Raina mengulurkan tangannya.
"Oh iya ngomong-ngomong kita pernah berte—"
"Berisik," tukas Bara.
Raina terlihat kecewa dan menarik kembali uluran tangannya.
"Salam kenal," timpal Bian yang membuat sebuah senyuman muncul lagi di bibir Raina.
"Hujan, bisa minggir tidak?" ucap Zevan dengan suara dinginnya. Dan dengan sengaja, memanggilnya hujan.
Dengan otomatis Raina melangkah minggir untuk memberi mereka jalan namun Leon justru menatap Raina.
"Kenapa?" heran Raina.
"Hujan, nama yang bagus."
Raina kecewa. Panggilan hujan juga tidak buruk, tapi entah kenapa ada perasaan kecewa dalam hatinya. Mereka tidak seperti pangeran baik hati yang selama ini Raina impikan. Mereka dingin dan terlihat kasar.
"Sudah kubilang Rain bukan hujan!" teriak Raina sebelum memutuskan masuk ke apartemennya.
Dan keempat lelaki yang masih belum sempat masuk ke apartemennya masing-masing itu mendengar dengan jelas teriakan Raina.
"Dasar gila," kata Bara yang kemudian disetujui Zevan yang berkata, " Benar-benar gila."
Raina membanting pintu apartemennya secara kasar, ia benar-benar kesal malam ini. Ekspetasinya terhadap para pangeran itu dipatahkan oleh mereka begitu saja. Raina merebahkan tubuhnya di kasur lalu menatap ponselnya yang terus-menerus berdering.
Raina bangkit dari tidur dan duduk untuk menatap sepuluh handphonenya.
"Handphone kelima itu pasti telpon dari kak Rara."
"Kalau handphone kedua itu pasti telpon dari ayah," tambahnya.
Raina tersenyum lalu meraih handphone pertama. "Kalau ini pasti telpon dari bunda!"
Raina menjawab telpon.
"Halo Raina? Ini Bunda, Nak."
Raina tersenyum, hatinya menjadi tenang. "Iya Bunda."
"Kamu dimana sekarang? Bunda jemput kamu ya?"
"Bunda gak usah khawatirin Raina, mulai hari ini Raina gak akan jadi beban kalian lagi."
"Siapa yang bilang kamu beban? Kamu bukan beban!"
Raina terkekeh. "Mungkin gak ada yang bilang kalau Raina beban, tapi aku sadar Bunda, kalau aku ini beban."
"Jadi Bunda sama Ayah jangan khawatir, Raina gak akan ngelakuin hal-hal ekstrim."
"Iya Bunda ngerti, tapi kamu pulang dulu ya ambil atm."
"Raina bakalan cari uang sendiri Bunda, tenang aja!" seru Raina percaya diri.
"Oh iya Bun, ajarin Raina bikin kue dong,"
"Kue? Kenapa tiba-tiba pingin bikin kue?"
"Iya, untuk tetangga."
.....
Setelah membuat rencana kemarin, hari ini Raina akan memulai hari nya dengan membuat kue sebagai rasa hormat untuk para tetangga. Setelah dipikir-pikir memang ia terlalu sok asik bila mengingat mereka masih asing, dan untuk menebus kesalahannya ia memutuskan untuk membuat kue itu.
Raina memiliki sejarah memilukan dalam memasak, ia pernah ingin mencoba membuat mie instant dan berakhir dengan kebakaran kecil di dapur yang membuat panci kesayangan bundanya hangus. Semenjak hari itu Raina tidak pernah diizinkan untuk memasak. Namun, hari ini Raina akan melupakan sejarah memilukan itu dan akan membuat sejarah mengesankan yang baru.
Dengan bangga Raina menalikan tali afron ke pinggangnya. Memakai topi koki agar terlihat seperti chef yang handal.
"Oke! Mula-mula kita siapkan bahannya," titah Raina berlagak seperti chef renatta.
"Enam sendok makan tepung terigu."
"Satu bungkus chocolatos."
Tangannya beralih ke telur. "Tiga butir telur."
"Tiga sendok makan gula pasir."
"Dan yang terakhir!! Vanili!"
Raina memperhatikan bahan yang sudah ia siapkan dengan bangga dan tak berlama-lama ia mencampur semua bahan seperti instruksi yang dikatakan oleh bundanya kemarin.
Setelah adonan tercampur ia mengaduknya hingga tercampur sempurna, Raina memasukkan adonan kedalam loyang dan diletakkan ke dalam oven.
"Wah, kayaknya aku harus ikut masterchef deh!" ujarnya memuji diri sendiri sambil menepuk bangga kepalanya.
Namun nyatanya, setelah tiga jam Raina menunggu kue yang ia buat tidak ada perubahan.
"Kok gak matang ya?" heran Raina.
"Vanili udah, tepung juga udah."
Raina memperhatikan oven itu dengan begitu lamat.
"Astaga betapa bodohnya! Oven nya aja belum nyala gimana mau matang?!" pekiknya heran pada diri sendiri.
Setelah menyalakan oven, Raina merasa lelah dan membaringkan diri di sofa. Sembari menunggu kuenya matang, ia memilih untuk menonton tv.
Sayangnya, Raina yang lelah justru ketiduran dan melupakan nasib kuenya.
Hangus. Indra penciuman Raina yang tajam sedang mencium sesuatu yang berbau hangus.
"Sial!" Raina berlari ke dapur setelah sadar kalau ia memasak kue.
Raina pikir alat memasak paling aman adalah oven, tapi entah karena oven milik Clara memang sudah tua, atau karena Raina yang tidak tahu cara menggunakannya, api mulai membakar oven itu dan Raina dengan cepat menyelamatkan kuenya lalu lari meninggalkan dapur yang masih terbakar oleh api yang semakin membara.
"TOLONG!!!KEBAKARAN!!!!"
Byur.
Sebentar, ini yang terbakar dapurnya tapi kenapa Raina yang disiram?
"Maaf, kau tak apa?"
"ZEVAN!!!!!"
.....
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Teen FictionRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
