"Sepertinya aku ingin muntah."
Zevan melotot, ia menoleh seketika.
"Apa?!"
Raina mengembungkan pipinya dan menutup mulutnya seseolah menahan. Melihat itu Zevan menjambak rambutnya frustasi dan segera mencari cara, sedang melihat sekeliling netranya menangkap rest area yang akan segera dilewati bis.
"STOP!!!!!"
Cit....
Suara berat Zevan menggelegar di penjuru ruangan bis, bahkan si sopir sampai menarik rem mendadak, untung saja tidak ada kendaraan lain di belakang bis mereka. Dan Zevan, ia tahu ini memalukan yang terpenting saat ini ialah ia tidak mau direpotkan dengan gadis yang kini terlihat akan mabuk perjalanan.
"Kenapa?" Zayn bertanya.
"Aㅡaku ingin ke toilet." Zevan mengelak mulus.
"Ya! Benar, aku juga kebelet pipis nihh," saut Tyeja a.k.a Tejo.
Zayn mengangguk. "Kita berhenti dulu pak," ujarnya pada sopir.
Setelah memakirkan bis, dengan langkah seribu bayangan Raina berlari dari bis ke arah toilet. Hal itu mendapat tatapan tanda tanya dari semua orang, terutama para tetangganya.
Bian beranjak menyusul Raina.
"Dia kenapa?" tanyanya pada Zevan.
Netra Zevan sedang terfokuskan ke handphone, ia mengacuhkan pertanyaan Bian.
Tetangga
Aku minta tolong, bisa ambilkan sikat gigiku di tas?
Zevan menghela nafas setelah membaca pesan itu, ia segera beranjak mencari tas Raina namun fokusnya teralihkan lagi pada handphone yang berdering kembali.
Tetangga
Bisa tolong rahasiakan? Ini memalukan, kumohon.
Mata Zevan berkedut terlalu fokus memperhatikan pesan dari Raina, kenapa gadis itu berfikir bahwa hal seperti ini memalukan, bukankah ini wajar untuk seorang manusia biasa?
"Hey Zevan, aku bertanya dengamu." Bian memecah lamunannya.
"Ah, maaf. Kau tanya apa?"
"Raina, dia kenapa?" Bian mengulangi pertanyaannya.
Zevan sedikit terdiam, kemudian mengerdikkan bahu. "Mungkin ingin buang air kecil?"
Bian menganga paham kemudian beranjak duduk lagi di bangkunya setelah mengetahui bahwa gadis itu baik-baik saja, namun gerak-gerik Zevan yang tengah mencari barang di tas Raina membuat Bian penasaran. Akhirnya lelaki itu mengikuti langkah Zevan yang beranjak pergi ke toilet.
Raina keluar dari toilet, dengan wajah yang begitu pucat sembari mengelus perutnya yang sakit.
Zevan mengulurkan sikat gigi yang diminta Raina, gadis itu menerimanya lalu tersenyum.
"Terimakasih." Kemudian beranjak masuk lagi kedalam toilet untuk membersihkan mulut.
Setelah beberapa menit Raina keluar dari toilet dan mendapati lelaki itu Zevan masih menunggunya sembari bersender di dinding.
"Bagaimana?" tanya lelaki itu memastikan.
Sebenarnya Raina tidak bisa menangkap dengan jelas pertanyaan yang diajukan oleh Zevan. Kenapa lelaki itu tidak bisa mengungkapkan sebuah kalimat yang jelas.
Tapi yang gadis itu yakini sekarang, ia yakin bahwa kata ' bagaimana ' itu sedang mempertanyaan keadaannya. Bukankah seperti itu?
"Em, lumayan membaik."
"Tapi masih sakit." Raina memegang perutnya sembari merogoh saku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Teen FictionRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
