Raina terkekeh geli melihat Zevan yang baru saja dituntun Tasha untuk mengatakan cantik, entah Tasha yang lucu atau Zevan yang lucu, Raina tidak tahu, intinya mereka berdua sangat lucu!
"Kau tidak ingin membeli apapun Zevan?"
Zevan menggeleng. "Sudah selesai?" Matanya memperhatikan deretan tas belanja yang sudah berada di genggaman tangan Raina.
Raina mengangguk. "Iya sudah, Tasha mau beli apa?"
Gadis kecil itu menggeleng dan mengusap matanya pelan. "Tasha mau pulang, ngantuk..."
Zevan segera mengangkat tubuh mungil Tasha lalu menyenderkan kepala Tasha di bahunya.
"Ayo," ujar Zevan sembari menggenggam tangan kiri Raina.
"Tangannya kenapa?" Raina memekik kaget.
"Karena kalau tidak digandeng, kau tidak akan jalan."
Kemudian lekaki itu memimpin langkah dan Raina mengekori langkahnya, masih dengan genggaman tangan yang tak kunjung lepas. Saat itu Raina baru tahu sisi Zevan yang lain, ternyata ia sifatnya jauh berbeda dari perkiraan Raina, meskipun sejak saat itu Raina tahu kalau Zevan adalah lelaki baik, itu tak mengubah fakta akan hatinya yang masih menjadi milik Bian.
Padahal mencintainya adalah hal yang menyakitkan, tetapi kenapa tidak bisa dihentikan?
.....
"Wah," lirih Leon mengagumi seorang gadis cantik di hadapannya.
Raina dengan dress biru muda di malam hari sungguh membuat kesehatan jantung terancam.
"Dia mau kemana?" Leon penasaran karena Raina membawa cukup banyak barang, terlihat seperti akan bepergian.
Zevan berdecih. "Kau tidak tahu? Dia akan mengunjungi orang tuanya." Lelaki itu merasa bangga sendiri karena hanya dirinya yang tahu tentang Raina.
Pintu apartemen Bian terbuka. Mata lelaki itu langsung tertuju pada Raina yang melewati pintunya.
"Mau kemana Rain?"
Raina menghentikan langkah lalu menoleh. "Ah, ke rumah orang tua."
Melihat Bian dan Raina tengah berbincang, kedua lelaki yang sedari tadi memperhatikan Raina dari jauh itu mendekat karena penasaran dengan yang mereka bicarakan.
"Sendirian?" tanya Leon tiba-tiba menyaut.
Raina mengangguk. "Iya, mungkin nanti naik bis?"
"Aku akan mengantarmu." Zevan mengambil alih semua barang yang Raina bawa, seseolah sudah siap untuk mengantarnya.
"Tidak, biar aku saja. Aku tahu jalan rumah Rara," ujar Bian.
Leon mengambil paksa barang milik Raina dari tangan Zevan. "Biar aku saja yang mengantarmu! Mobilku lamborghini!"
"Lamborghini tapi imitasi," tukas Zevan mengundang gelak tawa Bian.
"Hahaha, benar sekali!"
Leon menggeram kesal. "Kalian meragukanku?!"
"Biar aku saja yang mengantar Raina," saut Bara tiba-tiba yang baru saja pulang kerja.
"Kau mau mengantar Raina dengan sepeda motor bututmu itu?" tanya Leon remeh justru membuat Bara acuh mengerdikkan bahu.
"Tapi Raina kau lebih suka naik sepeda motor, kan?"
Raina terdiam, semuanya menanti jawaban. Ini sebenarnya sebuah kesempatan yang baik karena semua orang berebutan untuk mengantarnya, tetapi tidak tahu kenapa ia merasa tertekan dengan keadaan ini.
"Jadi Raina, kamu ingin diantar siapa?"
Raina mengulum bibirnya dan menjawab.
"Aku ingin berangkat bersama Bian!"
Zevan yang awalnya merasa santai karena sudah yakin kalau gadis itu akan memilihnya ia tiba-tiba melotot dan menggeram kesal.
"Kau yakin?" tanyanya dingin.
"Ya, yakin!"
"Tapi mobilku lebih luas daripada mobil Bian," ucap Leon lagi mencoba mengambil alih hati Raina.
"Tapi naik sepeda motor lebih seru Rain!" seru Bara meyakinkan.
Sedangkan Bian si pemenang dari perdebatan ini dengan santai memainkan kunci mobil dan mengambil barang bawaan Raina dari Leon secara paksa.
"Oke, aku akan pergi dulu teman-teman!" pekik Raina pamit, lalu melangkah pergi melewati ketiga lelaki itu.
Zevan terkekeh tak percaya.
"Teman? Ck, omong kosong!" gerutunya.
Leon mendengus malas. "Apakah ini yang dinamakan prenjon?!"
"Friendzone, dungu!" koreksi Bara ngegas.
Bian tersenyum menang lalu melambaikan tangan menggoda.
"Sampai jumpa teman-teman!" Namun sebelum lelaki itu melangkah pergi, jalannya dihadang oleh Bara.
Bara menatap tajam manik mata Bian, kemudian ia mengangkat jari telunjuknya di depan wajah Bian, seseolah sedang mengancam.
Setelah melakukan itu ia pergi.
Bian hanya menggeleng heran, kemudian segera melangkah lagi namun langkahnya terhentikan lagi untuk kedua kalinya, kali ini Leon yang menghadang jalannya.
Lelaki itu menggerakkan ibu jari dari pangkal leher kanan lalu menggerakkannya tajam ke arah pangkal leher kiri.
Sring!
Suara pedang sudah siap berperang dengan Bian, dan seseolah setelah ia mengantar Raina, nyawanya akan segera ditebas oleh Leon.
Bian hanya mendengus malas lalu mencoba melangkah lagi, karena tahu ia sudah tertinggal langkah Raina jauh, namun jalannya dihadang lagi, kali ini Zevan.
Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu menatap tajam Bian seseolah tak ada hubungan pertemanan di antara mereka, tangan kanan Zevan terangkat.
Perlahan....
Cring!
Jari tengah yang melambangkan rasa kekesalan Zevan membuat Bian memekik kaget. Kemudian lelaki itu mendekatkan bibirnya ke arah telinga Bian dan berbisik,
"Raina is mine." Setelah mengatakan itu Zevan pergi setelah menyenggol bahu Bian sengaja.
Sebenarnya Bian tahu kalau semua perilaku absurd yang dilakukan oleh para sahabatnya adalah hanya lelucon belaka, tetapi rasanya Zevan sangat menghayati leluconnya, apalagi saat lelaki itu melemparkan tatapan tajam dan mengacungkan jari tengah, rasanya lelaki itu benar-benar melakukannya tulus dari hati.
Bian sampai tidak habis pikir.
"BIAN, AYO!!" teriak Raina yang sudah berjalan di ujung lorong.
Lamunan Bian terbubarkan.
"Baiklah tunggu!"
"Aku akan mengikuti mereka."
"KAU GILA?!!"
.....
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Novela JuvenilRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
