Raina dan keempat tetangganya kini sudah menginjakkan kakinya di apartemen Asakita, setelah perjalanan yang sangat melelahkan terutama bagi Zevan karena ia harus pandai-pandai menahan emosi.
Semuanya beranjak keluar dari mobil, kini tengah berjalan menuju apartemen mereka masing-masing dari basement.
"Tapi kalian tadi akan pergi kemana?" Raina penasaran pada ketiga manusia yang awalnya sudah berada di mobil Leon.
"Bersantai, meminum kopi untuk menikmati malam minggu." Leon menjawab.
"Ya meskipun harus dikacaukan oleh seseorang," tambah Zevan sarkasme.
Raina berdecih. "Itu bukan salahku."
"Ini tidak penting salah siapa, yang paling terpenting sekarang, Bian kau harus menjelaskan keadaan ini." Bara menengahi.
Bian mengangguk paham.
"Baiklah, akan kujelaskan di apartemenku."
Langkah Raina terhenti, tiba-tiba muncul ide brilliant di otaknya.
"Hey, bagaimana kalau Bian menjelaskannya di apartemenku?" tawar Raina membuat semua orang menoleh ke belakang.
"Omong kosong," tanggap Zevan yang disusul oleh Leon yang bertanya, "Maksudmu?"
Raina menyilangkan tangannya di dada, lalu tersenyum. "Maksudku kalian ingin menikmati malam minggu, kan?"
"Kita bisa berbincang-bincang di rumahku!"
Bian menoleh ke arah Bara yang terlihat setuju dengan tawaran Raina, begitu juga dengan Leon yang terlihat baik-baik saja dengan tawaran itu.
"Kenapa harus di rumahmu?" Satu-satunya yang menolak, Zevan.
"Kita bisa bersenang-senang tanpamu."
Raina menggeleng meyakinkan.
"Tidak, tidak."
"Anggap saja ini permintaan maafku, lagi pula kalian gagal bersenang-senang karenaku, kan?" Raina mengangkat alisnya menantang.
"Aku juga punya banyak camilan di rumah. Bagaimana?"
....
Raina menarik ucapannya yang mengatakan bahwa hari ini adalah hari terburuk dalam hidupnya, nyatanya hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya. Lain halnya dengan gadis yang merasa bahwa hari ini adalah hari terbaik, Zevan justru merasa hari ini adalah hari terburuknya. Hari terburuk dari yang paling buruk.
Hari ini!
Raina berhasil membawa keempat pria itu masuk ke dalam rumahnya, ia sangat menantikan keadaan seperti ini. Keadaan dimana mereka bisa saling mengenal dekat dan berakhir menjadi teman.
Ya, tujuan Raina sekarang adalah menjadi teman dulu.
Setelah menjadi teman, barulah menjadi masadepan.
Bagaimana? Taktik yang cerdik bukan?
Dan kini kelima manusia itu tengah duduk di lantai yang repatnya di bawah sofa dan tengah melingkari meja kecil milik Raina. Menatap sebuah objek yang kini akan menjadi saksi bisu dari pertarungan sengit kelima anak adam disini.
Jenga.
Balok kayu yang sudah tertata rapi dan tentunya sudah ditulisi oleh setopik pertanyaan di setiap balok.
Mereka sudah siap akan memainkan itu, masa bodoh tentang rasa penasaran mereka akan penjelasan Bian soal tadi. Begitu Raina mulai menata jenga, mereka mulai menatapnya berambisi.
"Baiklah, kita hompimpah!" titah Raina memimpin.
Lampu ruang tamu yang dibiarkan meredup agar menambah sensasi menegangkan dan para cicak kini tengah berseru menyimak pertandingan sengit ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Novela JuvenilRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
