Raina melempar tasnya ke sembarang arah, membuka jendela untuk mendapatkan hembusan angin yang lebih kencang untuk menenangkan perasaannya yang kini kian memanas tanpa alasan.
"Siapa ya tadi?" tanyanya pada diri sendiri, masih penasaran dengan sosok perempuan misterius di depan apartemen Bara.
"Kau tahu?" Raina bertanya ke semut-semut yang kini menyibukkan diri bergotong royong mengangkat remahan roti.
Merasa diabaikan, Raina semakin kesal. Dengan cerdik, Raina mengambil remahan roti yang akan segera berhasil masuk ke dalam sarang semut itu ia pindahkan kembali ke tempatnya. Dengan begitu para semut akan mengulangi aktivitas itu lagi dan lagi.
Satu semut terlihat diam menatap Raina tajam.
"Kenapa? Kesal?! Kalau tuan rumahmu kesal, maka kau harus kesal juga!" seru Raina berteriak ke semut.
Terlihat sedang mengadu pada temannya, semut kecil itu seseolah berkata; Lihat manusia biadab itu! Sangat menyedihkan!
Lalu mereka kembali beraktivitas untuk mengangkat rempahan roti lagi. Dan Anindita Raina maheswari yang dijuluki dengan sebutan 'manusia biadab' oleh para semut, kini ia lebih memilih beranjak ke depan kulkas untuk menyejukkan diri.
Sedang dalam zona nyaman, tiba-tiba pantatnya bergetar.
Bukan pantatnya, tapi handphone di dalam saku itu bergetar. Raina merogoh saku dan mengambil benda pipih itu, lalu mengangkat telpon.
"Halo Rain?" Itu Bian.
"Haloooo." Raina menutup pintu kulkas, melangkah masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kau terdengar lelah? Sakit?"
Raina merebahkan tubuhnya di kasur. "Tidak, hanya sedikit capek."
"Ah iya, kudengar kau olahraga bersama Bara dan Leon hari ini."
"Ya...."
"Bagaimana? Menyenangkan hari ini?"
"Tidak terlalu menyenangkan karena aku tak bertemu denganmu." Raina terkekeh sedikit menggoda.
"Kebetulan aku ingin mengajakmu pergi hari ini, tapi kau lelah jadㅡ"
"TIDAK!" Seketika Raina bangkit dari tidurnya. "Aku tidak lelah sama sekali!"
Bian terkekeh. "Baiklah aku akan menjemputmu nanti sore."
"Sampai jumpa putri cantik."
Tut.
Putri cantik? Kalimat itu terucap dari mulut Bian? Untuk Raina pula?
Jangan ditanya reaksi gadis itu sekarang.
Menggigit bantal untuk bertahan agar tidak berteriak, dan menendang-nendang kakinya gemas.
Dan para semut yang menyaksikan hanya bisa berkata: Aku kira hanya biadab, ternyata dia juga gila!
.....
Raina yang sudah bersiap sejak tadi siang, ia kini sudah cantik bak seorang putri, mengenakan dress biru muda selutut dan rambut yang dibiarkan terurai elegan, membuat seorang Raina terlihat sangat menakjubkan saat ini.
Ting tong!
"Itu pasti Bian!" seru Raina semangat, meraih tas kecil dan segera membuka pintu.
Terlihat dengan jelas Bian tersenyum, memakai baju santai ala khas Bian. Lelaki ini memang sangat jarang memakai baju formal dan sangat sering memakai baju casual.
Seperti saat ini, lelaki itu nemakai kaus putih oblong yang dibalut dengan kemeja biru kotak-kotak yang sengaja tidak dikancingkan. Untuk celana, seperti biasa celana jeans berwarna hitam. Selesai, style santai ala Abian sudah siap. Meskipun dengan gaya baju yang sederhana sudah cukup membuat lelaki itu terlihat tampan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Teen FictionRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
