Rasa semangat Raina menaik pagi ini, tidak alasan tertentu hanya karena pertemuan tadi malam yang sangat menyenangkan membuat gadis itu bernyanyi ceria. Raina menatap pantulan wajahnya di kaca mengaplikasikan makeup yang tipis dan membenarkan rambut. Selesai, Raina sudah siap untuk pergi bekerja.
Jemari lentiknya memegang ganggang pintu dan memperhatikan sekeliling apartemennya sebelum benar-benar menbuka pintu.
"Tidak ada yang ketinggalan, kan?" telitinya. "Oke! Tidak!"
Raina membuka pintu, dan Bara masih belum menjemputnya. Dengan begitu sekarang giliran Raina yang menjemput Bara, ia melangkah ke arah kanan lorong yang kebetulan apartemen Bara berjarak 10 langkah dari kanan apartemen Raina.
Apartemen Raina dihimpit antara apartemen Zevan dan Bian.
Zevan di sebelah kanan, dan Bian di sebelah kiri.
LeonㅡBianㅡRainaㅡZevanㅡBara
Lokasinya bisa digambarkan seperti itu.
Raina kini sudah berada tepat di depan pintu Bara, ia segera menekan bel namun atensinya teralihkan ke arah Leon yang baru saja keluar dari apartemennya.
"Selamat pagi Leon!" sapa Raina ramah yang diangguki Leon. "Selamat pagi."
Leon yang selalu memakai baju santai, terutama hoodie abu-abu itu ia memasukkan tangannya ke dalam saku dan berjalan menghampiri Raina.
"Bekerja?" tanya Leon.
"Ya, kalau kau?"
"Olahraga." Raina mengangguk ingat kalau di pagi hari, Leon akan selalu olahraga.
Leon mengulum bibirnya resah, ia ingin memberanikan diri dengan suaru persoalan yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya.
"Jadi kau tidak akan berolahraga lagi bersamaku, Rain?" tanyanya ragu.
"Aku juga sangat ingin berolahraga lagi bersamamu, tapi aku tidak ada waktu." Raina mendesah kecewa.
Mata besar Raina terbelalak, ia ingat akan suatu hal.
"Ah! Bagaimana kalau sabtu besok?"
"Aku libur!" tambahnya antusias.
Leon yang mendengar itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Baiklah! Aku akan menjemputmu besok!"
"Sedang apa kalian?" Bara keluar dari apartemennya, sudah siap untuk pergi.
"Ah tidak, hanya berbincang."
"Ayo berangkat Bara!"
Bara mengangguk, sedikit bingung memperhatikan Raina yang sudah melangkah menjauh.
Raina membalikkan badannya, dan melambaikan tangan.
"Sampai jumpa Leon!"
Leon tanpa sadar tersenyum menampakkan lesung pipinya dan melambaikan tangan untuk membalas Raina.
Untuk sekejap ia tersadar, matanya menatap lengannya yang terangkat di udara karena sendirinya hal itu membuat Leon heran dan segera menurunkan lengannya.
"Ada apa denganku?" gumamnya.
.....
Ini aneh, dan Bara juga sadar keadaan ini aneh. Sejak kapan mata Bara terikat kepada Raina, rasanya netra itu tak ingin jauh-jauh dari Raina dan ingin selalu menatapnya. Yang lebih aneh, kenapa gadis itu berlagak biasa saja. Seseolah tak ada kejadian apapun kemarin, sesulit itukah menjelaskan penyebab airmatanya? Setidaknya Bara ingin berharap kalau ia bukan penyebabnya.
Bara ingin bicara, namun tidak tahu harus berbicara apa.
Bara ingin berbasa-basi, namun takut Raina akan risih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Dla nastolatkówRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
