Raina menggigit bibir bawahnya takut dan menunduk tak berani menatap manik mata tajam Bara yang kini menatapnya dingin.
"Jawab Raina!" bentaknya membuat Raina terjingkat.
Bara tak sadar kalau gadis itu sedang menahan tangisnya.
"Maaf..." cicit Raina.
Bara melangkah mendekat ke arah Raina, membuat gadis itu terhimpit ke dinding. "Aku tidak butuh permintaan maafmu, aku hanya butuh penjelasanmu."
"Jelaskan!" Bara menghantam dinding membuat Raina bergetar ketakutan.
Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Aㅡaku.... taㅡtanganku licin j-ja jadi aku menjatuhkannya tadi," lirih Raina berusaha menjelaskan dengan terbata-bata.
"Apa? Tanganmu licin? Hanya karena itu?"
"Cafe kita sudah sepi dan kau membuat pelanggan kita pergi dengan aksi konyolmu tadi!"
"Dan kau hanya bisa mengucapkan kata maaf?! Kau memang benar-benar merepotkan!"
"Menempel kepada seseorang untuk mendapatkan keundungan dan membuat seseorang itu dirugikan!"
"Kau tahu seperti apa?" Bara mengangkat alisnya.
"Parasit," bisiknya kasar di telinga Raina dan meninggalkannya di ruang istirahat.
Lutut Raina melemas, ia terjatuh. Air mata yang sudah ia tahan mati-matian itu pun menetes tanpa pemberitahuan, membasahi pipinya. Bibirnya bergetar menahan isakan, dan memikirkan hal yang telah mengacaukan pekerjaan dan hubungannya dengan Bara. Raina mengusap pipinya yang basah dan menggeleng untuk menolak percaya atas dugaannya. Ia harap dugaannya tidak benar.
"Raina, ayo keluar." Suara Bara terdengar di balik pintu yang tertutup.
"Baiklah!" seru Raina berusaha baik-baik saja. Ia segera melangkah keluar dari ruangan itu dan sudah melihat Bara yang menunggunya di depan pintu.
"Ada apa? Aku dipecat?"
Bara menarik pergelangan tangan Raina dan berjalan ke meja cafe.
"Ada Kak Yumna, anak pemilik cafe." Bara menghampiri seorang wanita yang tersenyum ke aran mereka berdua.
"Jadi ini pegawai barunya Bar?"
Bara menggeleng. "Sebentar lagi mungkin dipecat."
Alis Yumna mengernyit. "Loh kenapa?"
"Saya mengacau kak, di hari pertama bekerja." jelas Raina membuat Yumna tersenyum.
"Sepertinya tidak akan dipecat deh."
"Kok bisa?" Bara heran.
"Karena cafe kita butuh orang untuk menarik pengunjung." Perkataan Yumna membuat Bara dan Raina semakin terlihat kebingungan.
"Cafe kita kan udah vakum selama 1 minggu, dan mungkin banyak orang yang menganggap kalau cafe ini sudah tutup. Jadi kita akan promosi ulang!"
Bara mengangguk paham. "Caranya?"
"Seperti dulu," ujar santai Yumna.
Dan Bara mengingat-ingat dengan cara apa cafe ini promosi sebelumnya, setelah teringat Bara mengumpat dalam hati. Cara promosi yang kuno! Bernyanyi dan menari di depan cafe untuk mendapat perhatian orang-orang ditambah lagi mengenakan kostum yang benar-benar menggelikan.
Bara ingat ia mengenakan kostum winnie the pooh untuk promosi.
"Ah, kita masih harus promosi seperti itu?" keluh Bara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Dla nastolatkówRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
