Cinta itu aneh, muncul begitu saja dengan perasaannya yang membawa euforia sementara tak memikirkan resiko belakangnya, seseolah tak meminta ijin pada si pemilik rasa, cinta itu mendominasi perasaannya begitu saja.
Ada suatu saat seseorang merasa bingung dengan perasaannya, melanturkan beberapa pertanyaan di batin dan menyimpannya di dalam hati, ia ingin mendapat jawaban namun takut untuk mengatakan. Tentang perasaannya yang jelas, dan tentang siapa orang itu yang mendominasi rasa cintanya.
Perasaan aneh itu melanda Bara.
Laura, teman kecilnya yang kini dipaksa bertunangan karena ikatan keluarga,
Atau Raina si gadis gila yang tiba-tiba datang sebagai tetangga,
Atau justru gadis yang kini berada di sampingnya? Nara?
Salahkan hati Bara yang mudah terbawa perasaan, salahkan jantungnya yang mudah berdebar, salahkan pula sifat Bara yang labil tidak memiliki pendirian.
"Huh..." Bara menghela nafas kesal.
Ia sadar kini ia tidak berada di fase dimana seorang remaja yang masih bertanya-tanya apa arti cinta, ia sadar tapi hatinya seperti menolak sadar.
"Kenapa?" heran Nara masih beratensi ke handphone.
"Tidak."
Nara menyunggingkan bibir, ia baru tahu suatu fakta bahwa Bara tidak jauh membosankannya seperti Zevan. Tapi ia lebih nyaman bersama Bara daripada Leon, karena Bara bicara seperlunya, sedangkan Leon bicara semaunya.
Bibir Nara yang sudah gatal ingin merokok, ia tak tahan dan segera mengeluarkan satu batang rokok dari sakunya. Ia menyalakan korek api.
"Hey sudah kubilang jangan merokok." Lagi, lagi. Bara mengambil rokok Nara.
Kemudian gadis itu menoleh kesal.
"Kenapa? Tidak sehat?"
Bara memangguk kemudian membukakan permen untuk gadis di sampingnya.
"Permen seperti ini juga tidak sehat untuk kesehatan gigi." Nara menolak.
Melihat penolakan Nara, dengan pasrah Bara memakan permen itu sendiri.
"Yasudah carilah pengganti permen yang lebih sehat."
Nara menyunggingkan bibir. "Aku tahu yang lebih sehat daripada permen."
"Bibirmu."
Pupil mata Bara membesar otomatis, meneguk kaliva kemudian memalingkan wajahnya yang memerah.
Ia memegang bibirnya yang masih suci.
"Bㅡbibirku?"
Tawa Nara meledak mendengar Bara yang salah tingkah dibuatnya.
"HAHAHA, AKU BERCANDA BARA!" Ia memukul pelan bahu lelaki itu.
"Kau pikir aku serius? Hahaha!" Bara menggaruk tengkuk lehernya canggung.
Mata Nara yang kian menyipit karena tawa dan bibirnya yang melebar karena senyuman sumringah itu menylurut. Matanya kini terbuka lebar, senyumannya hilang karena netranya menangkap seorang gadis asing yang berjalan menuju mereka. Bara tidak sadar akan kedatangan gadis itu.
"Bara!" panggilnya melengking membuat si pemilik nama menoleh.
Sedetik ia melihat gadis itu, Bara berdiri dari duduknya terkejut.
"Laura?" Tanpa aba-aba gadis itu memeluk Bara di hadapan Nara.
"Zevan bilang kamu ada disini, jadi aku datang. Nggak apa-apa, kan?"
Bara terdiam kemudian menoleh ke arah Nara sekilas lalu mengangguk ragu.
Laura melirik Nara. "Tetangga kamu?" lirihnya bertanya pada tunangannya. Bara mengangguk.
"Hai aku Laura tunangannya Bara, maaf ya atas kedatangannya yang tiba-tiba!" Laura mengulurkan tangannya ramah.
Nara menatap lama uluran tangan Laura, tanpa berniat untuk menjabatnya karena isi pikirannya kini penuh dengan kata ' tunangan '
"Na," panggil Bara menyadarkan lamunannya.
Nara sadar lalu menjabat tangan Laura, ia tersenyum sedikit terpaksa. "Ah iya, aku Nara tetangganya."
.....
"Kau terkejut kan, karena Bara sudah memiliki pawang?" bisik Leon memanas-manasi Nara.
Gadis itu hanya melengos pergi, menghiraukan bisikan Leon yang cakap angin. Ia lebih memilih menikmati pemandangan di Tanah Lot. Duduk di bebatuan kemudian terdiam menikmati desiran angin yang menghembus sejuk memanjakan pelipisnya.
"Seleraku orang korea, bukan Bara." Nara terus bergumam mengatakan kalimat itu untuk menyadarkan diri sendir agar ia tidak boleh jatuh hati pada lelaki itu.
Dengan embel-embel kalimat ' seleraku orang korea bukan Bara '
"Sedang apa?" Gumaman Nara berhenti seketika, ia sedikit gelagapan setelah menyadari Bara sudah duduk di sampingnya.
"Aㅡah mencari angin."
Nara membuang muka seseolah tak berani menatap lawan bicaranya, sedangkan Bara, lelaki itu memandangi jeli wajah gadis di sampingnya yang kini kian memerah dengan begitu saja.
"Kenapa?" tanya Nara yang mulai salah tingkah.
Bara tersenyum. "Cantik."
Jantung Nara rasanya ingin jatuh ke lambung setelah mendengar itu.
"Hㅡhah?" Melihat Nara kebingungan, Bara justru tersenyum dan mengalihkan pandangannya santai.
"Aku tidak paham yang kau maksud." Nara kembali terheran-heran.
"Aku membicarakanmu, maksudku kau cantik."
....
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
JugendliteraturRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
