Senyuman sumringah gadis itu tak pudar-pudar dari bibirnya, matanya sibuk memperhatikan lelaki yang kini menyibukkan diri menghitung penghasilan cafe yang melonjak tinggi hari ini. Entah kenapa, Raina menjadi bangga dengan dirinya.
"Wah, ini yang pertama kalinya." takjub Bara. "5 juta sehari."
Raina bertepuk tangan ria. "Ini semua berkat usahamu Bara!"
"Tidak, ini hasil kerja kerasmu." balasnya menyergah pujian.
Kemudian lelaki itu beranjak melipata afron dan memasukkannya ke dalam loker, mengambil tas untuk bersiap pulang.
"Kau tidak dijemput Bian?" tanyanya sembari mengikat tali sepatu di bangku cafe.
"Ia lembur hari ini, tidak bisa jemput," kata Raina. "Boleh aku nebeng?"
Bara mendongak. "Tentu saja, kau pergi bersamaku dan pulang juga harus begitu."
Raina mengangguk semangat meraih tas kecil yang akan segera bertengger manis di bahunya.
"Ayo." Bara memimpin langkah, mengambil kunci motornya di saku.
Setelah mendaratkan bokongnya di sepeda motor, lelaki itu memberikan satu helmnya ke Raina dan beranjak memakai helmnya sendiri.
Krucuk, krucuk.
Tangan Bara terhenti, helm belum sampai masuk ke kepalanya, dan Raina memalingkan wajah menahan rasa malu yang menyebalkan.
"Kita makan dulu." Bara berdiri dan berjalan melangkah meninggalkan motor.
"Hah?" pekik Raina.
Bara menoleh. "Aku lapar."
Raina berlari kecil menyamakan langkahnya dengan lelaki itu, kemudian ia menatapnya.
"Makan dimana?"
Bara diam, hanya menggerakkan kepala menunjuk sebuah restoran yang ada disebrang jalan.
"Kenapa motornya gak dibawa?" Raina melihat ke arah belakang, heran.
Mendengar itu langkah Bara terhenti dan ia menoleh ke belakang, melihat motornya yang berdiam diri.
"Aku lupa," ucapnya santai yang kemudain secara tiba-tiba memutar balik arah langkahnya.
Raina hanya menggaruk kepalanya kebingungan dengan sifat Bara, padahal mereka sudah berjalan hingga menghabiskan sedikit jarak dari restoran. Dengan perasaan kikuk dan canggung, Raina hanya diam mengikutinya dari belakang.
Langkah Bara berhenti lagi.
Jangan bilang dia akan berputar arah lagi?
Raina memberhentikan langkahnya juga. Dengan seribu tanda tanya ia mengenyitkan alisnya. "Kenapa?"
"Ternyata disini kau rupanya, Bara."
Raina memiringkan kepalanya, berusaha melihat lebih jelas orang-orang yang kini menghadang jalan mereka. Bara, lelaki itu dengan segera menarik Raina ke arah belakangnya untuk melindungi gadis itu dari sekelompok pria bertubuh kekas dengan jas yang rapi.
Satu kata yang terlintas di otak Raina setelah melihat mereka adalah mafia.
Mafia? Apa-apaan ini bukan di italia.
"Ternyata kalian masih mencariku," ketus Bara.
Pria paling depan si botak gendut yang tidak terlalu kekar itu terlihat seperti pemimpin mereka, ia tersenyum licik ke arah Raina setelah menyadari keberadaan gadis di belakang tubuh Bara.
"Tentu saja ini tugasku."
"Ayahmu pasti senang, bila tahu anaknya memiliki wanita lain." sarkasme si pak botak gendut sembari melirik tajam ke arah Raina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Teen FictionRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
