' Menolak perobohan Asakita!! '
Di tengah terik mentari yang sibuk memberikan sinarnya ke bumi, keringat dan rasa pegal silih berganti, tak mengurungkan niat Raina untuk memperjuangkan tempat bersejarah ini.
Gadis yang sudah berpakaian serba merah dengan tali merah yang diikatkan di keningnya itu berada di depan apartemen Asakita seorang diri, menghadap deretan lelaki yang sudah ditugaskan untuk merobohkan gedung bersama truk-truk yang menyertai.
"Mbak! Ngapain?" tanyanya heran, hampir menertawakan.
Raina mengusap keringatnya.
"Seperti yang bapak lihat, saya sedang demo!"
"Buahaha." Gelak tawa mereka semakin membuat Raina memanas.
Mereka pikir Raina sedang bercanda?
"Gak ngaruh mbak! Mendingan pulang terus bobo ya? Siang bolong gini kok demo!" ujar bapak-bapak botak yang perutnya buncit.
Raina menggeleng kukuh dan menghiraukan perkataan mereka dengan mengangkat tinggi-tinggi kertas yang ia bawa.
"JANGAN ROBOHKAN ASAKITA!!" teriak Raina menggelegar.
Lalu bapak-bapak yang paling kurus yang berada di barisan tengah dari deretan, dan yang terlihat seperti seorang ketua itu hanya melirik malas lalu mengerakkan tangannya seseolah memerintah anak buahnya untuk menyingkirkan Raina. Kemudian seorang lelaki berbadan kekar seperti sumo mendekat ke arah Raina, tentunya gadis itu sempat takut namun ia tetap mengkuatkan tekadnya.
Lelaki itu menarik tangan Raina paksa namun Raina menahannya.
"Saya tidak mau!" pekik Raina yang tak didengar justru membuat si bapak semakin liar menariknya dan kasar.
"Akh!" lirih Raina kesakitan.
"Oi, oi, oi."
Suara dingin yang familiar itu...
Zevan!
Semua orang di tempat menoleh ke arah pintu utama apartemen, lalu terlihat dengan jelas empat lelaki yang melangkah mendekati Raina dengan pakaian kompak berwarna merah darah yang menambah aura mereka ketika berjalan di tengah sorotan sinar matahari. Zevan yang berjalan paling depan membawa sehelai kain lebar, tidak tahu untuk apa. Kemudian Leon yang mengikuti di belakangnya membawa tongkat bisbol yang ia bawa saat berhadapan dengan kunti, dan Bian yang lagi-lagi membawa kamera kesayangannya, Lalu Bara yang membawa beberapa makanan dan minuman.
Sebentar, mereka akan demo atau berpiknik?
Bahkan semua bapak-bapak tua di tempat tiba-tiba terdiam kaku dibuatnya, sebagian dibuat terdiam karena mengingat identitas Zevan dan Leon karena wajahnya familiar sedangkan sebagian terdiam karena merasa gugup.
Zevan mendekatkan jaraknya dengan lelaki yang menarik tangan Raina kasar, lalu ia berbisik, "Don't touch my girl."
Untuk kedua kalinya semua terdiam, sebagian terdiam karena tidak tahu artinya dan sebagian terdiam karena merinding dengan suara Zevan.
Melihat bapak-bapak itu mundur menjauh dari Raina, kemudian Zevan menggelar sehelai kain yang lebar itu di atas tanah. Kain yang tidak diketahui Raina tentang kegunaannya.
"Duduklah, " titah Zevan sembari menujuk kain yang sudah ia letakkan di tanah.
Raina menunjuk dirinya. "Aku, maksudmu?" Zevan mengangguk.
"Nanti, kita harus demo!" ujar Raina berapi-api membuat keempat lelaki itu terkekeh dibuatnya.
Sekilas juga Raina melihat Bara yang tersenyum canggung ke arahnya, apa Bara sudah memaafkannya?
"KAMI MENOLAK PEROBOHAN INI!!" teriak Leon memulai yang diikuti Raina dengan mengangkat tinggi kertas yang ia bawa.
"JANGAN ROBOHKAN ASAKITA!!" ujar serempak mereka.
"JANGAN ROBOHKAN ASAKITA!!" Kali ini semua penghuni Asakita ikut muncul dan bergabung dengan kelima manusia itu.
Sontak para pekerja yang diperintah unruk merobohkan kebingungan dibuatnya.
Bian merekam setiap detik dari moment ini, setiap detik saat mereka mengorbankan tenaganya.
Nara ikut bergabung di samping Bara, sembari membawa selembar kertas lebar yang bertuliskan,
' Mantan Jaehyun yang kini menjadi pacar Bara menolak perobohan ini! '
Bara yang membacanya terkekeh.
Untuk sesaat mereka bersatu kembali, untuk satu tujuan yang pasti yang membutuhkan pengorbanan diri. Lupakan ego masa lalu, yang penting kita harus maju. Itu motto mereka.
.....
"Maaf," ujar Bara membuat Raina tersenyum. "Seharusnya aku yang meminta maaf."
"Jangan begitu, semuanya salahku. Seharusnya aku lebih mempercayaimu." Lelaki itu menunduk, benar-benar merasa bersalah.
Bila mengingat betapa kasarnya saat ia menghina Raina dengan sebutan yang tak pantas didapat oleh gadis itu membuat Bara semakin merasa bersalah.
"Aku memaafkanmu, lupakan saja soal kemarin dan anggap saja seperti angin yang lewat."
"Jangan mengingatnya meskipun kau ingat, dan jangan mengulanginya meskipun kau lupa."
Bara mengangguk. "Terimakasih."
"Lalu, kau tidak mau meminta maaf denganku juga?" saut Zevan tiba-tiba.
Tidak tahu saja lelaki itu menguping sedari tadi karena rasa khawatirnya pada Raina yang seseolah mendarah daging.
"Kenapa aku harus minta maaf padamu?" pancing Bara.
"Hey, aku ini!" Zevan terdiam, ia bukan siapa-siapanya Raina.
Bila mengingatnya itu menyakitkan, seharusnya ia segera meminta kepastian kepada gadis itu.
"Sudahlah, ayo." Zevan menarik lengan gadis itu pergi meninggalkan Bara.
"Zevan kenapa kau menjadi seperti ini?"
Zevan memperlambat langkahnya lalu menoleh. "Karena aku menyukaimu."
"Lalu kenapa kau menguping tadi?!"
Zevan menoleh lagi dan berhenti.
"Karena aku cemburu."
"Kㅡkau! Bisa tidak jangan terlalu jujur!" kesal Raina justru membuat Zevan mengangkat alisnya menggoda.
"Kenapa? Jantungmu berdebar lagi?"
Raina berdecih. "Kalau misalnya jantungku berdebar, lalu kau juga ikut berdebar, kan?!" godanya balik.
"Raina, Zevan kemarilah!"
Raina melepas genggaman tangan Zevan lalu berlari kecil menghampiri Nara yang sudah duduk bersama yang lain, mereka tengah beristirahat. Zevan menyusul langkah Raina.
"Oy, bapakh! Mau minum atuh neng Tyeja!" goda Tejo pada bapak-bapak yang ditugaskan merobohkan gedung membuat mereka bergedik ngeri.
"Kak Raina kemana aja? Tasha rindu!" Gadis kecil itu segera memeluk Raina.
"Ulululu, Tasha rindu ya?" Tasha mengangguk gemas.
"Yang ini juga rindu." Zevan menunjuk dirinya.
"Eh cincin Nara sama Bara couplean ya?" goda Clara yang disusul godaan yang lain dengan bersorak. "CIEEE."
Nara tersenyum malu.
"Biasalah, kita minggu depan nikah."
"APA?!!!"
.....
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Teen FictionRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
