Seperti dugaan, setelah menyadari bahwa Raina benar-benar pergi dari Asakita, Leon mengurung diri di apartemennya. Menyalahkan dan mengumpat Bara sepuasnya karena ia merasa semua ini adalah hasil perbuatan lelaki itu.
Ini masih 1 minggu, sedangkan Zevan sudah tidak bisa menanggung rindu.
Lelaki itu memikirkan 1001 cara agar dapat bertemu dengan Raina. Karena handphone Raina tidak aktif semenjak hari itu, Zevan nekat memustuskan untuk bertamu di rumah Raina hari ini.
"Mau kemana kau?" tanya Leon dengan keadaan seperti orang gila.
Payah, pikir Zevan.
"Membeli martabak." Zevan pikir Martabak adalah buah tangan yang tepat untuk pembukaan hubungan dengan calon mertua.
"Oh." Leon menutup pintu.
Lelaki itu terlihat sangat lemas tak berdaya, Zevan hanya bergeleng melihat itu, ia bahkan tak separah itu saat ditinggal Raina
ㅡoke itu bohongㅡjangan dibayangkan bagaimana galaunya lelaki itu.
Setelah mengunci pintu, Zevan melangkahkan kaki namun langkahnya memelan ketika mendapati Bara yang keluar dari apartemennya.
"Apa ini? Bukankah kau sudah pindah tuan muda Kareen?" tanya Zevan sarkasme dengan memanggil marga lelaki itu.
Bara hanya diam. "Kemana Raina?"
Zevan terkekeh tak percaya, bagaimana lelaki itu menanyakan keberadaan Raina setelah membuat semua keadaan kacau.
"Raina? Bahkan kau bisa memanggil namanya selain dengan sebutan Jalang?" Rahang Zevan mengeras.
Tanpa sadar tangannya mengepal, amarahnya dapat bangkit dengan cepat bila mendengar Bara mengungkit soal Raina.
"Aku hanya bertanya."
"Jangan menanyakan itu, kau tidak pantas menanyakan keberadaannya."
Setelah mengatakan itu Zevan melenggang pergi meninggalkan Bara dengan rasa bersalahnya yang membakar hati, ia benar-benar ingin mencabik dirinya sendiri atas perbuatannya kepada Raina kemarin, setelah tahu bahwa semuanya adalah kebohongan belaka yang diucapkan kakeknya.
"Aku akan menjadi bonekamu, asal kau tidak menyakiti Nara."
Kakek terkekeh mendengarnya.
"Lalu bagaimana dengan gadis yang satunya?"
Rahang Bara mengeras mengingat perbuatan licik Raina yang diperbuat kepadanya. "Aku sudah tidak peduli dengan jalang itu!"
Mendengar itu kakek dibuat semakin terbahak-bahak oleh tawa, membuat Bara kebingungan.
"Kau percaya dengan ucapan kakek?" tanyanya. "Aku kita kau tidak akan percaya."
"Tapi ternyata kepercayaanmu pada gadis itu jauh lebih rendah daripada rasa percayamu padaku."
Mata Bara memanas mendengarnya.
"Apa yang kau maksud?!"
"Aku hanya ingin tahu mana gadis yang lebih kau cintai, ternyata gadis berambut pendek yang tak pernah tersenyum itu justru pilihanmu."
Bahu Bara naik-turun menahan amarahnya, nafasnya sudah memburu tak teratur.
"Lalu kenapa kau melakukan itu?!"
"Karena di keluarga kita tidak ada namanya poligami, kau harus mencintai satu wanita saja."
Bugh!
Bara menghantam dinding sangat keras membuat jemarinya memerah. Seandainya saja ia tak bertindak gegabah, seandainya saja ia tidak mendengarkan ucapan kakeknya, seandainya saja ia percaya kepada Raina.
Mungkin semuanya tidak akan kacau seperti ini.
Tapi kata seandainya semuanya sia-sia bagi Bara, ia hancur, sudah hancur.
"Bara!!"
Suara teriakan itu berselingan dengan suara bel apartemen Bara yang bunyi.
"Bara, kau ada di rumah?"
"Bara tolong buka pintunya!!"
Suara itu, suara yang sangat ia rindukan.
Bara membuka pintu, menatap Nara yang sudah terisak di depan pintunya. Ia memeluk Nara secepatnya. Gadis itu membalas pelukan, semakin terisak di dada Bara.
"Maaf," cicit Nara.
"Untuk?"
"Karena tidak ada di sampingmu." Nara mendongak.
Bara mengeratkan pelukannya.
"Nara, aku mengacaukan segalanya."
"Kau masih ingin bersamaku?"
"Tentu, karena kau masih Bara." Nara terkekeh yang kemudian membuat tangan Bara terangkat untuk mengusap air mata gadis itu.
"Kusarankan kegiatan kalian dilanjutkan saja di dalam apartemen," saut seseorang tiba-tiba membuat keduanya menoleh.
"ASTAGA!" pekik kaget Nara.
"Bar, sejak kapan kau punya tetangga seperti ini?" Nara meneliti Leon dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Benar-benar tidak dipercaya dia adalah Leon yang digemari banyak remaja.
Leon mendengus. "Kalian menodai mataku yang masih suci!"
"Apa aku tidak salah dengar?" tanggap Bara membuat Leon melengoskan pandangan.
"Hey Nara, tolong bilang ke lelaki di depanmu itu. Jangan mencoba bergurau dengaku, bilang kepadanya kalau aku masih marah."
Sudut bibir Bara naik membuat sebuah senyuman simpul.
"Nara, tolong bilang ke lelaki gila itu, aku minta maaf."
Nara yang menjadi perantara di antara mereka hanya menggeleng-geleng pasrah.
"Nara, bilang ke dia, aku tidak memaafkan sebelum Raina memaafkannya."
Kemudian Bara menoleh ke arah Nara lagi. "Nara, bilang kepadanya kalau Raina tidak memaafkanku apa dia tidak akan memaafkanku juga?"
"Eh Nar katakan ini kepㅡ"
"AH! Masa bodoh dengan kalian, aku pusing!" Nara meninggalkan keduanya begitu saja, menyisahkan keheningan yang mencekam.
Bara melirik Leon.
"Aku tidak memaafkanmu!" ujarnya sebelum pergi masuk apartemen.
.....
Hening, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan yang membuat Zevan tersiksa sekarang. Di tambah tatapan tajam yang tak lepas untuk memandanginya. Kenapa Ayah Raina terlihat sangat menyeramkan.
"ZEVAN!!" teriak Raina berlari dari dalam kamar langsung memeluk tubuh kekar Zevan.
Hey, jangan ditanya keadaan jantung lelaki itu sekarang, sudah berdegup kencang karena tatapan mencekam ayah Raina lalu ditambah dengan pelukan hangat Raina yang tiba-tiba. Semoga saja jantungnya tidak meleset ke lambung.
"Sebenarnya kedatangan Zevan kemari ada apa ya?" tanya Ayah Raina basa-basi.
Mood Ayah Hasan sudah menurun sejak anak gadisnya memeluk seorang pemuda langsung di depan matanya.
"Saya tidak menerima alasan basi," tambahnya lagi.
Ini aneh, perasaan Ayah Hasan tidak semenyeramkan ini dulu.
"Jadi, ada perlu apa dengan anak saya?"
"Saya rindu dengan anak Ayah."
Zevan benar-benar cari mati rupanya!
.....
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Teen FictionRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
