Mengusap kaca yang buram karena percikan air kemudian menatap wajahnya di pantulan kaca, lalu Zevan tersenyum kecil setelah mengingat kejadian tadi pagi.
"Dasar gadis gila, beraninya menantangku."
Setelah cukup memperhatikan wajahnya di kaca, Zevan beranjak melangkah ke kulkas dan mengambil sekaleng soda. Sedang meneguk soda yang lezat, indra pendengaran Zevan yang peka menangkap suara pintu apartemennya terbuka.
"Siapa itu? Clara?"
"Taruh saja barangnya di depan pintu."
"Clara bukan pengantar barang, dan kau juga tak mempersilahkan dia untuk masuk? Astaga kasar sekali."
Zevan terkejut dan langsung keluar kamar untuk memeriksa seseorang yang telah masuk ke apartemennya.
"KㅡKAU?! BAGAIMANA KAU BISA MASUK?!" pekik Zevan kaget setelah melihat sosok Raina yang sedang berkeliling memperhatikan isi apartemennya.
"Aku tahu kau terkejut, tapi tidak bisakah kau memakai baju dulu?!"
Zevan gelagapan kaget karena menyadari bahwa tubuhnya hanya ditutupi sehelai handuk yang terlilit kokoh di pinggangnya.
"Apa hakmu memerintahku untuk memakai baju? Bila ingin telanjang pun itu hakku. Yang dipertanyakan kenapa kau disini?"
"Ya, ya itu memang hakmu. Aku kesini hanya untuk memberikan barangmu, karena Clara sedang sakit."
"Aku tak akan berlama-lama disini, karena aku menghalangi hak-hak mu itu."
"Jadi silahkan bertelanjang jika ingin, aku tidak melarang itu hakmu."
"Sampai jumpa, Zevan!"
Raina menutup pintu dan keluar, lalu Zevan menghela napas lega namun ia dikejutkan lagi karena kepala Raina tiba-tiba kembali muncul di balik pintu.
"Oh ya! Mulai besok permainan kita dimulai!"
Ya Zevan baru saja mendengar Raina berkata bahwa permainannya baru dimulai besok, tapi bagaimana bisa permainannya belum dimulai tetapi ia sudah merasa terganggu karena gadis lancang itu.
Dan ya, kenapa juga tadi ia membahas tentang hak-hak untuk telanjang.
Astaga, ini akan menambah sejarah kelam Zevan.
"Jangan menyerah dengan begitu mudah Van, kau punya harga diri."
Zevan memotivasi dirinya sendiri dengan yakin sebelum ia mengalami kesusahan tidur karena Raina yang dengan sengaja berteriak, menjerit, bernyanyi dengan gila di tengah malam hanya untuk menganggu kenyamanan Zevan.
Dan kegiatan gila yang Raina lakukan tadi sudah berlangsung selama 3 hari.
Karena kejadian itu akhirnya Zevan berkata, "Sial, aku menyerah!"
Ia segera bangkit dari tidurnya dengan lingkaran hitam yang menghiasi matanya, Zevan berjalan menuju apartemen Raina dengan tenaganya yang tersisa. Karena memang memiliki jarak 5 langkah dari apartemen Zevan, ia dengan cepat menekan bel Raina.
Pintu dibuka.
"Ada apa?"
"Mana kuemu? Aku akan memakannya, setelah itu jangan ganggu aku lagi."
Raina tersenyum iblis dan akhirnya ia menang dari Zevan.
Ia segera mempersilahkan Zevan masuk dan segera menyajikan kue yang ia buat. Jadi, sejak permainan ini dimulai Raina membuat kue setiap hari untuk berjaga-jaga bila Zevan menyerah seperti sekarang. Dan mungkin karena sudah lumayan berpengalaman, akhirnya Raina memasak tanpa membuat dapur terbakar.
"Ini makanlah."
Dengan mata yang mengantuk untuk berusaha sadar, Zevan segera memakan sepotong kue yang Raina buat dan setelah mendaratkan kuenya di mulut dengan refleks Zevan memuntahkan kue itu.
"Kenapa?" heran Raina.
"Ini keras, amis, dan menjijikkan."
"Apa?! Awas ya kㅡ"
Bruk!
"Eh? Zevan!"
.....
Raina menatap manusia tampan di hadapannya, setelah memperhatikan setiap sudut dari wajahnya Raina benar-benar tidak habis pikir, kenapa lelaki setampan ini harus menyebalkan.
Lelaki tampan tapi menyebalkan.
Yang tidak lain pasti Zevan.
Tidak bisa dipungkiri bila faktanya Zevan adalah yang tertampan dari keempat tetangga Raina, namun tak bisa dibohongi pula bila faktanya Zevan juga yang paling menyebalkan di antara mereka.
Raina sadar sekarang, sudah cukup terlena karena wajahnya ia harus bersikap realistis bila mengingat sifat kasarnya.
"Hey! Manusia, bangunlah ini sudah siang!" ujar Raina sembari menggoyang-goyangkan bahu Zevan.
Zevan perlahan membuka matanya, pandangan mata yang masih buram sedang menangkap objek wajah imut Raina yang tengah memasang ekspresi jutek. Perpaduan wajah yang aneh, tapi terlihat cukup menyenangkan untuk dilihat.
"Halo?! Tuan suka tidur kau mendengarku?" tes Raina lagi.
Zevan memperhatikan sekitar, dan memperhatikan tubuhnya terbaring di sofa empuk berwarna merah muda.
"Apa ini? Dimana aku?"
"Dimana lagi? Pastinya di rumahku," jawab Raina malas.
"APA?!BㅡBAGAIMANA BISA?!"
"Kau menculikku?!" Zevan menutupi dadanya menggunakan tangan, berlagak seseolah ia sedang berhadapan dengan wanita mesum.
"Wah aku benar-benar tidak percaya ini, kau yang datang kemari bukan aku yang menculikmu!"
"Dan kau tiba-tiba ketiduran di sofaku!"
Zevan mengingat kembali kejadian kemarin malam dan mulai menyadari betapa memalukan keadaannya sekarang.
"Baiklah kalau tentang itu, aku minta maaf."
"Tapi jam berapa sekarang?"
Raina melirik arlojinya.
"Jam 9."
"APA?!!"
"SIAL AKU ADA PEMOTRETAN HARI INI!"
Zevan segera berlari keluar dari apartemen Raina, sedangkan si pemilik apartemen masih tercengang dengan sifat Zevan yang tidak pernah ia bayangkan akan menjadi seperti ini sebelumnya.
"Aku tak tahu kalau dia bisa berteriak seperti itu." Raina bergeleng dan mengelus dadanya.
Ia pun beranjak masuk ke kamar, meraih selimut kemudian merapikan tempat tidur kesayangannya, setelah rapi Raina menatap bangga kasur itu.
"Astaga bagaimana bisa aku sangat rajin?" kekehnya bangga.
Raina berjalan menuju ruang tamu untuk menonton tv sambil mencari ide pekerjaan yang terlihat elegan namun rencananya untuk menonton tv tertunda karena ada orang yang menekan bel pintu apartemennya.
Raina membuka pintu.
"Bara?"
"Semalam, kau tidur dengan Zevan?"
.....
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Novela JuvenilRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
