"Eh udah di surga ya ini?"
"Belum mati ternyata," ujar salah satu lelaki, kemudian keempat orang itu pergi meninggalkan Raina tanpa penjelasan apapun.
Melihat dirinya ditinggalkan dengan otomatis Raina bangkit dari tidurnya.
"Pangeran!"
"Eh bukan! Ini kan udah di surga berarti, Bidadari!"
"Eh kalau cowok bidadari bukan ya?"
"Bidadara!"
Meskipun Raina memanggil mereka dengan tiga sebutan.
Pangeran, bidadari, dan bidadara.
Namun tidak ada satu orang pun yang kembali.
Raina melihat ke sekitarnya lalu menemukan koper merah muda kesayangannya tergeletak di ujung ruangan. Sebentar, ke surga juga harus bawa koper ya? Raina berpikir sejenak lalu mulai sadar ada yang aneh dan mulai beranggapan bahwa ia sedari tadi masih berada di dalam Asakita.
Sebentar? Eh?!
Raina segera keluar dari ruangan itu dan melihat sebuah lorong gedung, dan bisa dipastikan ini seperti sebuah apartemen.
Dan sebenarnya Asakita adalah sebuah apartemen tua di jakarta.
Jadi, Raina sedari tadi berada di dalam kastil penyihir ini?!!!
"Hah? Iㅡini mimpi kan?" gumamnya pelan.
"Ini bukan mimpi Raina."
Suara itu membuat Raina menoleh ke arah lorong kanan. Terlihat seorang perempuan mendekatinya, dan itu biasa saja. Tapi yang tidak biasa, bagaimana bisa perempuan itu mengetahui namanya ya Tuhan! Bagaiman kalau dia itu penyihir? Tapi bagaimana bisa penyihir secantik itu? Ah tidak Rain! Penyihir juga bisa menyamar.
Raina bergelut dalam pikirannya, tak sadar kalau perempuan itu kini berada tepat di depannya.
"Raina?" tes perempuan itu.
"EH! ANDA SIAPA?!!" gas Raina seraya menjauh.
Perempuan itu tersenyum cantik. Sangat cantik.
Eh Raina!!
Sadar kondisi, sadar situasi! Kamu sedang diculik penyihir!!
"Saya pemilik apartemen ini,"
"Dan kamu menjatuhkan ini tadi."
Raina melirik dari kejauhan, dan melihat KTP nya. Dengan segera Raina mengambil benda itu.
"Selamat datang di Asakita, Raina."
.....
Raina melemparkan tubuhnya di kasur, menatap dinding kamarnya lalu memeluk guling. Kemudian gadis itu menghela napas, menghela napas lagi, lalu menghela napas sekali lagi.
Ini benar-benar tidak bisa dipercaya, Raina si gadis manja itu kabur dari rumah dan berakhir pindah ke sebuah apartemen tua yang mirip seperti kastil penyihir. Setelah mendengar cerita dari Clara—sang pemilik apartemen, entah kenapa Raina tiba-tiba yakin untuk tinggal di tempat menyeramkan ini.
Alasan Raina menjadi yakin karena Clara bilang di apartemen tua ini ada empat pangeran misterius yang tinggal di apartemen ini. Dan Raina sedikit ingat soal para lelaki tampan yang entah muncul di mimpinya atau dunia nyata.
Namun setelah mendengar itu Raina belum terlalu yakin untuk tinggal. Tapi setelah Clara berkata, " Mereka akan menjadi tetangga kamu."
Setuju! Raina langsung mengeluarkan uang tunai dan tanda tangan kontrak sewa apartemen. Raina tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki tetangga seperti pangeran. Namun yang Raina takuti ialah apa benar mereka terlihat seperti pangeran?
Raina memejamkan mata, ia memilih tidur dan mulai memulai kembali kehidupannya yang baru mulai besok.
....
Kagum, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Raina sekarang. Mulai sekarang Clara akan menjadi kakak kedua Raina, ucapan Clara benar. Tetangga Raina sangat terlihat seperti pangeran. Dan keempat pria tampan yang ia temui, bukan sekedar mimpi.
"Wah, sekarang aku bingung harus memilih yang mana," ucap Raina masih dengan mata yang berbinar-binar menatap sebuah foto.
"Stop! Rain kamu harus sadar sekarang!" pekik Clara menyadarkan.
"Aku akan mengenalkan mereka satu per satu, dan dengarkan baik-baik!"
Raina mengangguk semangat.
"Jadi yang pertama!"
Clara menunjuk seseorang di foto. Seseorang dengan wajah yang terlihat hangat dengan senyumannya yang menawan, kata Clara namanya Abian. Alisnya yang tebal atau hidungnya yang mancung bukanlah poin terpenting dari Bian, yang terpenting dari seorang Bian adalah eye smilenya yang lucu.
"Oh my Godd, ini sih tipe softboy, goodboy banget kann,"
"Yang kayak tipe tetangga yang welcome banget gituu?
Clara menggeleng. "Sama sekali tidak Rain."
Lalu Clara kembali menjelaskan kalau Bian itu tipe orang yang pendiam ketika belum terlalu dekat dengan seseorang. Bahkan Clara butuh waktu 5 tahun untuk melihat eye smile dari Bian. Tapi meskipun terlihat pendiam, Bian ini yang paling perhatian dibandingkan dengan ketiga temannya yang lain.
"Oh jadi gitu, kalau begitu aku akan mencari cara agar Bian bisa tersenyum kepadaku tanpa memakan banyak waktu!" tanggap Raina semangat.
"Ya aku mendukungmu, meskipun hal itu terdengar mustahil."
Kemudian Clara menunjuk orang kedua yang ia sebut sebagai Leon. Menurut Raina senyuman Bian memang menawan, tapi senyuman Leon jauh lebih menawan. Pasalnya lesung pipi yang sangat dalam itu membuat hati Raina meluluh seketika.
"Aku jadi ingin menekan dimple nya!"
"Inget ya Rain! Sama seperti Bian, Leon ini juga tidak terlalu ramah. Tapi kalau sekali kamu sudah dekat sama dia, lelaki ini akan sangat cerewet."
"Hah cerewet?! Aku suka cowok cerewet kan lucu!" ujar Raina antusias membuat Clara geleng-geleng kepala.
Tak berselang lama, Clara menunjuk orang ketiga. Seseorang dengan ekspresi wajah yang serius dengan sedikit senyuman kecil yang mematikan. Clara bilang namanya Bara, dan orangnya jauh lebih cuek daripada Bian dan Leon. Dan sekali lagi, Clara mengingatkan Raina untuk berhati-hati dalam ucapannya.
"Ini yang terakhir."
Clara bilang dia adalah yang terdingin dari yang paling dingin. Dan Clara bilang dia adalah yang terdiam dari yang paling pendiam.
"Aku setuju!" seru Raina tiba-tiba memotong penjelasan Clara.
"Dan dia adalah yang tertampan dari yang paling tampan, kan?" Mendengar pertanyaan itu tentu saja Clara mengangguk meng iya kan.
Tapi Clara sekali lagi menegaskan kalau Raina benar-benar tidak boleh macam-macam dengan yang satu ini.
Meskipun wajahnya paling tampan dari yang lain, tapi mulutnya juga paling pedas dari yang lain.
Dia, panggil saja Zevan.
.....
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Novela JuvenilRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
