20 | Kisah cinta Dolan & Maylani

966 115 10
                                        

"Selamat datang, Vanity!" Raina merentangkan tangannya menyambut para gadis yang sudah tak tahan ingin bertemu idolanya.

"Kalian semua ingin bertemu dengan Zevan, kan?"

"Ya!!!!" serempak para penggemar.

Bara yang sudah merasa akan terjadi hal yang tidak baik, ia beranjak mengamankan Zevan dan membawanya ke ruang istirahat.

"Dan kami! cafe mengkece! Akan membantu kalian untuk bertemu Zevan!!!"

Para penggemar Zevan, dari kalangan gadis hingga lansia bersorak ria bahagia. Lain halnya dengan kedua lelaki yang kini pikirannya dipenuhi tanda tanya karena kelakuan gadis itu, Raina.

"Tapi pertama! Semua orang harus membeli sesuatu di cafe untuk syarat bertemu Zevan!"

Layaknya semut yang berlarian untuk mengambil makanan, penggemar Zevan dengan cepat berantri ria untuk memesan, entah sebuah minuman ataupun makanan. Dengan cepat Raina berlari ke arah Ruang istirahat dan memanggil Bara.

"Bara, tunggu apa lagi? Banyak yang harus kita lakukan!" ajak Raina menghiraukan raut muka Zevan yang sudah naik pitam.

"Kau! Apa-apaan kau?!" geram Zevan. "Beraninya memanfaatkanku?!"

"Ini akan menambah kepopuleranmu Zevan, lagian siapa suruh kau kesini?" goda Raina.

Dan Bara yang akhirnya sadar bahwa kini posisinya sedang diuntungkan, ia dengan segera menali tali afron nya yang lepas dan beranjak keluar membuka pintu.

"Mau kemana kau Bar?" Zevan menyelidik.

Bara menoleh, menyunggingkan senyum. "Mencari uang."

Raina terkekeh dan mengekori langkah Bara keluar dari ruang istirahat meninggalkan Zevan yang kebingungan. Kemudian kedua manusia itu melayani pelanggan yang tidak lain mereka penggemar Zevan. Di saat Bara dan Raina sedang sibuk melayani pelanggan, Zevan berjalan mondar-mandir layaknya robot rusak yang tak tahu arah harus kemana.

Ia bingung memikirkan harus bagaimana ia sekarang?

Menelpon Satyaㅡmanajernya sepertinya bukan ide yang bagus. Zevan tahu bila ia mengatakan dimana posisinya sekarang, lelaki berumur kepala 3 itu akan mengomelinya habis-habisan.

Ia pergi tanpa izin Satya ataupun Dora.

Zevan mendudukkan bokongnya di sofa tua di ruang istirahat, menelungkupkan wajahnya ke lipatan tangan dan mengusapnya frustasi, tidak lama kemudian Raina datang membawa segelas kopi ice americano dan mengulurkannya ke arah Zevan.

"Apa lagi?" pasrah lelaki itu.

"Kopimu, kau kemari ingin minum kopi, kan?"

Zevan memalingkan muka.
"Sudah tidak berselera."

"Meskipun begitu minumlah, anggap saja sebagai tanda terimakasih."

Alis Zevan mengernyit, menatap manik mata gadis yang kini menjadi lawan bicaranya.

"Kenapa kau melakukan itu?" herannya. "Sebenci itukah?"

Raina duduk di samping Zevan di sofa tua itu. "Aku tidak membencimu."

"Bukankah mereka semua mencintaimu, Zevan?" Raina memiringkan kepalanya memperhatikan wajah Zevan.

"Tapi kenapa kau sesegan itu untuk menemui mereka?"

Zevan menoleh, membalas tatapan Raina. "Aku tahu mereka menyayangiku, tapi aku juga butuh privasi."

"Aku hanya seseorang di dunia yang butuh waktu untuk menyendiri, untuk meminum kopi. Itupun juga tidak bisa?"

Halo Tetangga!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang