"Kalian benar-benar melihat hantu?!"
Pertanyaan Clara diangguki lesu oleh kelima anak adam yang tengah duduk berdiam diri seseolah tak bernyawa. Mereka berlima sudah sibuk bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Leon yang masih terdiam merinding karena kedipan mata mbak kunti.
Bara yang masih terheran-heran mengapa bawang putih dan garamnya tidak mempan.
Biam yang kehilangan semangat karena di hasil foto, mbak kunti tidak muncul.
Raina yang masih terkejut dengan semua hal yang barusaja menimpanya.
Dan Zevan yang terdiam merutuki dirinya sendiri di dalam batin.
Karena jantung berdebar sialan kenapa ia mengatakan itu dengan gampang, harga dirinya anjlok. Yang Zevan yakini sekarang ialah bahwa tadi saat ia mengatakan itu tubuhnya pasti tengah diambil alih oleh arwah sialan, ia yakin itu! Tak mungkin Zevan yang tampan dan sempurna dengan mudah memiliki rasa cinta pada Raina.
"Kuntilanaknya berkedip ke arahku," lirih Leon masih tak percaya.
"Benarkah? Dia cantik?" Rasa penasaran Zayn dihadiahi bogeman ganas dari Clara sang istri.
Bian masih mengotak-atik kameranya. "Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa hantunya tidak muncul di kamera?"
"Namanya juga hantu!" pekik Nara.
Leon merebahkan tubuh di sofa rumah Clara, ya, karena rasa takut yang luar biasa kelima manusia itu ditambah Nara yang ikut penasaran berakhir menginap di apartemen milik Clara selaku pemilik tanah dari Asakita, karena Clara pemilik Asakita, apartemennya jauh lebih besar daripada apartemen yang lain.
Leon yang sudah terbaring di sofa, ia mencoba memejamkan mata, namun ingatannya tentang wajah kuntilanak yang berkedip ke arahnya tidak bisa hilang begitu saja.
"Sialan, Setan sama Mantan memang tidak jauh beda. Mereka sama-sama membekas di ingatan!"
Mendengar perkataan Leon membuat Nara tiba-tiba menekuk wajahnya galau.
"Jangan bicara tentang mantan, sekarang aku jadi ingat chanyeol kan!"
Bara terkekeh melihat Nara yang menggemaskan.
Raina teringat akan sesuatu.
"Tapi Zevan kenapa kau bilang mulai hari ini aku milikmu?"
Semuanya memekik kaget seketika dan menyelidik Zevan dengan tatapan tanda tanya yang diselimuti rasa ingin tahu penjelasannya.
"Aㅡaku tadi kesurupan."
"OH MY GOD! JINJJA?!" Nara terpekik kaget, pasalnya gadis itu baru kali ini melihat ada orang kesurupan.
Zevan mengangguk yakin, namun tatapan Raina menyelidik ragu.
"Sudahlah aku kembali ke apartemen." Zevan berdiri dari duduknya.
"Kau berani pulang?" tanya Leon.
Zevan yang sudah melangkah ia menoleh. "Tentu saja, aku tidak pengecut sepertimu."
Leon melempar bantal sofa ke arah Zevan namun tak tepat sasaran. Sedangkan Raina masih termenung diam memikirkan perkataan Zevan tadi, ia rasa lelaki itu berbohong tentang kesurupan, ia tidak percaya tentang itu, karena setelah Zevan mengatakan cintanya tadi rasa kepercayaan diri Raina melonjak tinggi.
Yah, beginilah nasib perempuan cantik.
Itu pikirnya.
"Rain kalau kau masih takut, nanti kau tidur bersama siapa?" Pertanyaan yang dilontarkan Bian dijawab secara tidak sadar oleh Raina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Teen FictionRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
