Jemari Raina sibuk memasukkan satu persatu kue kering ke dalam kotak makan kecil, kue kali ini berbeda dengan kue buatan Raina yang terakhir kali untuk para tetangganya.
"Amis, keras, dan menjijikkan."
Tanpa sadar Raina terkekeh sendiri setelah teringat perkataan Zevan dulu setelah mencicipi kue bolu buatannya. Namun hari ini, Raina membuat kue kering yang dibuat membentuk 5 wajah, satu perempuan dan empat laki-laki.
Raina membuat cookies wajah perempuannya terlihat seperti dirinya, rambut yang selalu diurai dan ekspresi wajah tersenyum, Raina membuat mata menggunakan topping choco chips kecil dan mulut dengan krim berwarna pink. Selesai, cookies tiruan Raina sudah jadi.
Untuk Bian, Raina menggambar cookiesnya dengan senyuman yang hangat.
Untuk milik Leon, Raina membuatnya dengan ekspresi wajah konyol khasnya.
Untuk Bara, Raina memberi ekspresi datar di cookiesnya.
Dan yang terakhir punya Zevan, digambar oleh Raina dengan alis tebal yang mengernyit marah.
Setelah sudah ditata rapi, Raina memasukkan kotak makan kecil itu ke dalam paper bag.
Ting Tong!
Raina menatap ke arah pintu apartemennya, lalu menyeret koper merah muda yang ia bawa ke Asakita untuk pertama kalinya, tak lupa gadis itu juga membawa paper bag yang berisi cookies. Setelah berada tepat di depan pintu dan sudah siap membukanya, Raina membalikkan badan menatap seluruh isi apartemennya yang kini terlihat kosong, hanya cicak-cicak dan para semut yang sering berkelahi dengan Raina yang tersisa.
Raina tersenyum sendu, merasa saatnya ia harus pergi. "Selamat tinggal."
Setelah mengatakan itu, Raina membuka pintu, menampakkan Bunda yang sudah tersenyum menunggunya, gadis itu dengan cepat memeluk Bundanya sebagai penenangan hati.
Bunda melepas pelukan, merasa heran karena anaknya yang tiba-tiba dramatis. "Kamu kenapa?"
Raina menggeleng. "Aku nggak nyangka aja, bakalan tinggal bareng Bunda lagi," kekehnya.
"Yaudah ayo." Bunda memimpin langkah, dan Raina mengekorinya di belakang, namun tiba-tiba langkah Bunda terhenti.
"Eh, nggak mau pamitan dulu sama tetangga?"
Raina menggeleng kukuh.
Melihat itu Bunda mengangguk ragu, segera melanjutkan langkahnya namun Zevan tiba-tiba keluar dari apartemennya.
"Eh, nak Zevan!" sapa Bunda membuat Zevan kebingungan.
Zevan menjabat tangan Bunda cepat dengan sopan, membuang rasa penasarannya dulu tentang sebuah koper yang kini dibawa oleh Raina, tidak tahu kenapa firasatnya tidak baik.
"Eh Bunda? Tumben kesini, Ada apa?"
Bunda terlihat kebingungan lalu menatap anaknya. "Loh, kamu belum tahu?"
"Kan, mulai hari ini Raina mengakhiri kontrak sewanya di apartemen."
Persis yang seperti Zevan duga!
Lelaki itu terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.
"Yaudah karena kamu belum tahu, coba diceritain Raina, Bunda ambil mobilnya dulu!"
Seseolah ada rasa tak rela Bundanya pergi begitu saja, Raina tak berani menatap manik mata Zevan sekarang.
"Tiba-tiba?" tanya Zevan, Raina mengangguk.
"Karena kemarin?" Raina menggeleng penuh kebohongan.
Ia memilih pergi karena perkatan Bian yang terus menghantuinya.
"Semuanya menjadi kacau, karena keberadaanmu."
Kalimat itu tidak bisa menghilang dari ingatannya.
"Kau akan kembali, kan?" tanya Zevan lagi membuat Raina menggeleng kecil.
"Ah! Tidak mau! Pokoknya kau harus kembali, titik!"
Mendengar rengekan Zevan yang terdengar memaksa, akhirnya Raina berani menatap mata lelaki itu.
"Aku tidak akan kembali," jelas Raina membuat Zevan mendesah pelan.
"Kalau kau pergi, aku sama siapa..." lirihnya yang hampir tak terdeteksi oleh indra pendengaran Raina.
Raina mengulurkan paper bag yang sedari tadi ia bawa. "Makanlah, bersama yang lain."
Dengan ragu, Zevan mengambilnya.
"Semoga rasanya enak tidak seperti yang dulu," tambah Raina.
"Ah! Masa bodoh! Pergilah kalau kau mau pergi, awas saja kalau kau merindukanku!"
Brak!
Zevan menutup pintu apartemennya kasar setelah melampiaskan semua rasa kesalnya karena ditinggalkan begitu saja, ia terdiam di balik pintu, tersender tak berdaya dan menatap paper bag yang diberikan Raina dengan tatapan hampa.
"Sialan!"
Ting tong!
Mata Zevan melebar seketika, apakah gadis itu sudah berubah pikiran? Ia dengan cepat membuka pintu.
"Raina mau kemana?" Sial, ternyata Leon.
"Pergi," jawab Zevan malas.
"Kau menyuruhku pergi?!" Leon mulai kesal.
"Maksudku, Raina yang pergi! Dia mengakhiri sewa kontraknya!"
"OMO JINJJA?!" pekik Leon dramatis, masih menanggapinya sebagai candaan.
Mungkin kalau lelaki itu tahu ucapan Zevan adalah sungguhan, mungkin dia akan mengurung diri selama 7 hari 7 malam menangis meratapi kepergian Raina.
"Aku serius, dia bahkan memberi ini sebagai ucapan pamit." Zevan mengangkat paper bag dari Raina.
Leon mengambil alih seketika lalu membuka kotak makan itu.
"Wah cookies!" ujarnya masih bergurau.
"Sebentar, bukankah ini kita?" Leon menyadari bahwa cookies buatan Raina adalah tiruan dari wajah mereka.
"Ini pasti aku, karena senyumanku paling manis." Leon menunjuk cookies yang seharusnya milik Bian dan memakannya.
Tidak tahu saja, bahwa miliknya adalah cookies dengan ekspresi wajah paling konyol disini.
"Hey punyamu yang ini!" seru Zevan menunjuk cookies dengan ekspresi konyol.
"Aku rasa yang kau makan tadi milik Bian," tambahnya.
Leon masih terdiam, mencoba mengunyah dan menelan kue kering buatan Raina.
"Coba makanlah, ini pasti punyamu," ucap Leon menunjuk cookies dengan ekspresi marah.
Zevan mendengus. "Kalau yang ini punyaku berarti ini punya Bara," ujarnya menunjuk cookies berwajah datar.
"Aku akan memakan punya Bara dulu, karena kemarin aku tidak bisa memakannya hidup-hidup, aku akan memakan cookies tiruannya!"
Setelah mengatakan itu, dengan cepat Zevan mendaratkan cookies Bara di mulutnya dan mengunyahnya penuh dendam seperti sedang memakan Bara yang asli.
Astaga Zevan bukan psikopat, ia hanya sedang kesal.
Leon berusaha mati-matian menelan cookies buatan Raina. "Astaga, Raina yang malang, sepertinya ia tidak ditakdirkan untuk bisa membuat kue."
Padahal ucapan itu ditujukan untuk Raina, tapi kenapa Zevan yang merasa tersinggung. Dengan cepat ia memakan cookies dengan ekspresi kesal yang Leon bilang itu adalah tiruan Zevan, pipi Zevan menggembung penuh kue kering yang dianggap Leon gagal.
"Mwenurutku ini enakh," ucapnya terbata-bata lalu mengambil alih kotak makan yang dibawa Leon.
"Eh mau dikemanakan yang cookies Raina?!"
Zevan menoleh, masih mengunyah.
"Awku akwan mengabwadikannyua."
.....
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Tetangga!
Teen FictionRaina datang sebagai tetangga dari keempat lelaki tampan itu. Di apartemen tua, dimana terdapat empat lelaki yang berwujud layaknya seorang pangeran dingin itu mulai terusik dengan kehadiran seorang gadis lancang yang tiba-tiba muncul sebagai tetang...
