27 | Liburan ke Bali

843 98 2
                                        

Suara kicauan burung bernyanyi, embun pagi turut menghiasi bumi, matahari pula bersiap untuk datang dan pergi, dan di pagi hari ini dalam rangka menjemput bulan januari para penghuni kediaman Asakita tengah bersiap untuk pergi ke Bali.

Acara liburan tahunan seperti ini menjadi ciri khas dari Asakita.

Bersenang-senang bersama dan melupakan sejenak pahitnya hidup, dengan begitu mereka akan menjadi lebih dekat dan bersahabat, tak memandang gender ataupun usia, di Asakita semuanya setara.

Lain halnya dengan para penghuni yang sudah bersiap-siap sebelum fajar datang, ada seorang lelaki di Asakita yang dibilang cukup santai dan masih belum menyiapkan apapun hingga sang mentari datang.

"ZEVAN!! CEPATLAH!! KITA AKAN TERTINGGAL BUS!" teriak Leon dari luar pintu apartemen terdengar nyaring.

"Dia selalu berisik." Zevan memilih bersantai, mencukur kumis tipisnya.

Setelah merapikan bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu, lelaki itu menatap pantulan wajahnya di kaca dengan menopang tangan di dagu dan memperhatikan wajahnya dari sisi kanan hingga sisi kiri.

Zevan menyunggingkan senyumnya.
"Sempurna."

Beranjak memilih beberapa pakaian, setelah memilih beberapa setel pakaian yang sekiranya cukup untuk 3 hari kedepan dan menatanya di dalam tas ransel berwarna hitam.

"HEY ZEVAN!! KAU MASIH TIDUR?!!" Kali ini Bara yang berteriak, Zevan bergeleng-geleng kepala risih.

Lelaki yang sedang terlihat didesak oleh para banyak manusia di depan apartemennya, meskipun begitu tak akan mempengaruhi jiwa santai Zevan. Ia beranjak membuka laci lemari, memperhatikan deretan kaca-mata yang terta rapi dan berakhir memilih kaca-mata hitam yang menarik hati. Memakai kaca-matanya perlahan lalu berkaca untuk memastikan penampilan, kemudian tersenyum, ini baru sempurna.

Melirik jam dinding yang sudah menujukkan pukul 07:30. Zevan berlari kecil mengambil handphone, powerbank, dan tentunya aerphone.

Setelah merasa semuanya sudah siap barulah lelaki itu membuka pintu.

"Kenapa kau sangat lama?!" Leon memekik tak sabar.

Zevan menutup pintu. "Tidak ada yang menyuruhmu untuk menungguku." Ia melenggang pergi begitu saja, meninggalkan kedua temannnya yang sedari tadi setia menunggunya.

"Benar juga, seharusnya kutinggalkan saja bedebah itu di gedung horor ini sendiri."

Bara menyusul langkah Zevan meninggalkan Leon yang tengah menali sepatunya.

"HEY! TUNGGU AKU!" Leon berlari, menyamakan langkah kedua temannya.

Tas ransel hitam yang bertengger kokoh di bahu Zevan, dengan satu tali tas yang disampirkan di bahu kanan dan tali tas yang satu lagi dibiarkan begitu saja berayun seiring tempo langkahnya, terlihat sangat keren sehingga menarik atensi mata Leon.

"Kau membelinya dimana?" Leon penasaran, Zevan menjawab, " Dari penggemar."

"Woho! Aku lupa kalau kau tuan Bintang!" Leon menyenggol bahu Zevan menggoda.

Zevan tetap berjalan menghadap ke depan, tak mengindahkan godaan Leon yang membosankan.

"Tapi barangmu hanya ini?" saut Bara heran, memperhatikan tas Zevan yang bisa dibilang terlihat cukup kecil untuk bepergian 3 hari.

"Bila kekurangan pakaian aku bisa beli."

Setelah mengatakan itu Zevan terus melangkah, menghiraukan kedua temannya yang tiba-tiba menghentikan langkahnya karena kalimatnya.

Bara menghela nafas.
"Aku juga lupa kalau dia kaya."

Zevan menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang. "Ayo!"

Halo Tetangga!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang