Untuk pekerjaan Bara sendiri Kahaya cukup mengerti karena dia selalu mencetak soal di warnet ini, orang mungkin hanya akan datang ke warnet untuk itu, tugas-tugas sekolah, atau kuliah yang membutuhkan mesin cetak disini.
Lagipula Bara adalah salah satu orang yang sangat langka, sekali saja Bara diajari, maka dengan hanya sekali itu dia akan mengerti bagaimana cara melakukannya
Hanya beberapa menit, dan sepertinya penjaga warnet yang masih remaja itu, sudah sangat mempercayai Bara. Dia bahkan meninggalkan konternya untuk diposisikan untuk Bara.
Kahaya melihat penjaga warnet masuk ke salah satu bilik paling dekat dengan posisi konter untuk mengawasi Bara, dan tediam.
Mungkin ini adalah uji coba apakah Bara sudah bisa mengusainya atau belum
Melihat Bara yang mengutak atik keyboard dan sesekali melihatnya, Kahaya tersenyum dan membuat isyarat bahwa dia akan menunggu disini.
Lalu Kahaya membiarkan Bara untuk membiasakan diri dalam pekerjaannya, dengan melanjutkan pencarian tentang soal yang akan dia kerjakan nanti, dia harus berusaha untuk menjadi lebih baik, bukan malah rendah diri, dan membiarkan dirinya putus asa.
Tepat pukul 12 siang, alarm Kahaya berdering dengan nada ayam berkokok yang tidak asing.
Nada itu dipilih olehnya dan Bara pada saat tengah malam mereka selesai makan dan bersantai.
Dia mengambil tas Bara yang dia bawa ke sini, dan membukanya, mengeluarkan 2 kotak makan siang miliknya dan Bara.
Kahaya berdiri dan memberikan kotak makan milik Bara.
Melihat kesamping, kearah penjaga warnet yang sepertinya asik bermain permainan, Kahaya yakin, bahwa penjaga warnet ini adalah anak dari yang mempunyai warnet, melihat betapa bebasnya dia dalam pekerjaan.
"Makan ini sambil belajar komputer, aku akan mencari soal-soal lagi" Kahaya berkata pada Bara.
Bara mengangguk, "baik Kahaya"
Beberapa hari lagi adalah pertemuan perdana Kahaya dengan kelompoknya, tetapi belum ada pemberitahuan undangan grub, dan Kahaya tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa menunggu mereka mengundangnya ke dalam kelompok, karena keterlambatan dia dalam memasukkan informasi kontak nya sendiri.
Ada pelatihan militer pada hari kedua MOS, itu terdapat dalam jadwal.
Disela-sela dia mencari soal, Kahaya akan terbiasa mencatat saat melihat soal yang dirasanya cukup mudah, itu menghemat pencetakkan kertas.
Masih ada beberapa lembar didalam tas nya yang belum dia kerjakan untuk pelajaran selain IPA dan Matematika, dia bermaksud mengerjakan itu dulu, dan mengajari Bara dengan soal Bahasa inggris.
Kahaya kurang fokus saat ini karena khawatir pada Bara yang sedang duduk dikonter, dia bisa merasakan mata Bara yang sedang mengawasinya
Handphone Bara sendiri ada padanya, mungkin Bara telah selesai belajar, dan sudah paham cara mengoperasikan apa yang diajarkan penjaga warnet dengan hanya mengulanginya sekali, dan sekarang sepertinya Bara tidak mempunyai hal untuk dilakukan lagi.
Ada satu dua orang yang membayar, Kahaya melihat betapa lancarnya Bara disana dalam melakukan pekerjaan barunya.
Dia semakin yakin, bahwa pekerjaaan ini cocok untuk Bara.
Berfikir tentang pertemuan kelompok untuk MOS lagi, pembagian kelompok juga belum diumumkan di website SMP 26, dan itu membuat Kahaya lega, bahwa pasti belum ada grub kelompok yang dibuat.
Melihat-lihat tempat Bara bekerja saat ini, ada 8 komputer dengan segala peralatannya, dan juga 8 bilik persegi kotak diruangan ini, 1 kamar mandi di pojok, dan juga hanya ada 1 lemari pendingin untuk minuman, etalase tempat tinta printer, dan berbagai macam kertas diletakkan.
Dari pukul 6 sore - 3 pagi, jika Kahaya menghitung tentang waktu bekerja nya yang selesai pada pukul 12 malam, dan hanya pada malam minggu kerjanya selesai pukul 3 pagi, maka waktu kosongnya pukul 12 sampai waktu 3 pagi itu bisa dia gunakan untuk tidur.
Dia hanya akan memasang alarm nanti tepat pukul 3 pagi untuk datang ke lapangan. Kahaya sebenarnya ingin datang ke sini, tetapi dia hanya seorang perempuan yang tidak berdaya, akan banyak bahaya yang menghampirinya jika anak gadis sepertinya keluar pada tengah malam, apalagi harus menaiki angkutan umum dulu untuk sampai ke warnet ini.
Itu berbeda dari lapangan tempat biasa Kahaya dan Bara bertemu di tengah malam, cukup dekat, dan hanya tinggal berjalan kaki.
Angkutan umum memang masih ada dijam seperti itu, hanya bus yang berhenti transportasi, karena pemberhentian jam operasi mereka adalah pukul 10 malam.
Tetapi angkutan umum di jam 3 pagi juga jarang. Angkutan umum biasa mengawali hari pada pukul 5 pagi, itu di jam-jam anak sekolah dan semua orang sibuk.
Kahaya tidak ingin Bara menjadi sulit.
Haruskah dia membeli sepeda saja?
Seperti yang Kahaya hitung, uang simpanan mereka adalah 11.401.000
Kahaya mulai membuka browser, melihat harga pasaran sepeda disana.
Jika Kahaya hanya sendirian maka dia akan lebih memilih membeli sepeda lipat, karena itu bisa di simpan di tempat yang aman. Tetapi dia bersama Bara, hanya terdapat pilihan sepeda dewasa yang memiliki keranjang kecil. Kahaya menjadi tertarik melihat tampilan sepeda.
Entah tampilan seperti ini akan ada atau tidak nanti di pasar.
Kebanyakan harga sepeda berkeranjang tidak lebih dari 2 juta, hanya 1.200 ribu, atau 1.800 ribu.
Dia akan menyisihkan 2 juta untuk membeli transportasi milik mereka ini.
Sepertinya perhitungan dia untuk menyisihkan uang naik angkutan umum sebanyak 8 ribu setiap harinya akan dilenyapkan dari rencana Kahaya, karena memiliki sepeda untuk mereka sendiri lebih membuatnya mudah dan bahagia.
Tidak perlu berganti-ganti angkutan umum, dan mereka hanya akan membawa sepeda milik mereka sendiri untuk pergi kemana pun mereka mau.
8 ribu setiap hari, jika dia mengkali untuk 9 bulan saja, maka akan menjadi 2.160 ribu, belum lagi jika mereka akan pergi ketujuan yang sangat jauh, maka mereka akan berganti-ganti angkutan umum yang membuat pengeluaran Kahaya lebih banyak dari pada jika dia membeli sepeda.
Baiklah, sepertinya mereka akan membeli besok.
Itu tidak masalah, karena sekarang Bara juga bekerja dan memperoleh uang, sehingga dia tidak perlu khawatir lagi tentang pemenuhan kebutuhan untuk mereka, karena mereka memiliki tambahan biaya untuk hidup sekarang.
Melihat banyak orang yang memiliki sepeda diusia seumuran mereka, dan nantinya disekolah juga orang-oramg memilikinya, Kahaya memikirkan bahwa sepeda juga harus mereka miliki walaupun mereka tidak memiliki orang tua untuk membelikannya.
Tepat pukul 1 lewat, Kahaya bersiap-siap untuk pulang, dia membereskan bekal makananya, dan berdiri menghampiri meja konter.
Mata Bara selalu mengawasinya, saat itu Kahaya melihat respon Bara yang melihat jam dinding, dan dia dapat merasakan kegundahan Bara karena sepertinya Bara tahu, bahwa dia akan pergi.
Kahaya meliriknya dan meminta izin pulang pada penjaga warnet terlebih dahulu. Dan menanyakan beberapa pertanyaan setelah banyak pemikiran.
"Bara, karena hari ini kerja pertamamu, Bara harus menjadi rajin, ini handphone, tidak ada larangan untuk bermain dengannya, hubungi Kahaya jika Bara membutuhkan apapun, baik?"
Bara telihat termenung, "apakah kau akan pergi sekarang Kahaya, tidak bisakah menemani sebentar lagi?"
Selalu ada rasa sakit saat Bara menatapnya seperti ini, tatapan memohonnya, Kahaya mengeraskan hatinya untuk menolak.
"Aku sangat mengantuk saat ini Bara. Barusan aku meminta keringanan untuk jam kerjamu,
2 hari lagi, kakak penjaga warnet itu mengatakan bahwa 2 hari lagi kau akan memulai pada pukul 6 sore, sampai pukul 3 pagi, sedangkan besok masih tetap di jam seperti ini, pukul 10 siang, sampai pukul 6 sore hari nanti"
"Transportasi di jam 3 pagi hampir tidak ada, di jam seperti itu angkutan umum akan lewat 1 atau 2, atau mungkin tidak sama sekali. Dari sini menuju rumahmu sangat jauh, dan membutuhkan 2 angkutan umum, jika berjalan kaki itu juga tidak mungkin. Jadi, kita akan membeli sepeda besok dipasar. Bertahan sampai jam 6 sore ini untuk bekerja, dan nanti tengah malam, jangan lupa untuk bertemu dilapangan untuk makan"
Secara tidak terduga, Bara tidak menjawab dengan anggukkan patuh seperti hari-hari lainnya, dia berkata dengan kata-kata lirih, sambil tangannya terulur untuk menangkap pergelangan tangan Kahaya, "aku tidak keberatan berapapun lamanya berada disini Kahaya, semua tempat sama saja untukku, tetapi untuk kali ini saja, bisakah kau menemaniku sebentar lagi, hanya 1 jam lagi"
Mungkin karena perubahan lingkungan yang tiba-tiba, Bara membutuhkannya untuk hadir dan membantu dia membiasakan diri.
Mendengar permohonan Bara yang dalam, hampir mustahil bagi Kahaya untuk menolak lagi, dia tidak punya pilihan lain, selain mengangguk, "baiklah, aku akan disini untuk 1 jam lagi"
Berbalik, dan akan duduk di bilik lagi, Kahaya dihentikan oleh Bara.
"Duduk saja disini" Bara menunjuk kursi di sampingnya.
Entah mengapa, ada dua kursi di konter, mungkin karena tempat konter lumayan luas, itu diisi dengan kursi.
Tidak berfikir lagi, Kahaya membuka pintu kecil untuk penutup konter dan masuk.
Duduk disebelah Bara sambil memasang alarm, mengaturnya pada pukul setengah tiga siang, Kahaya mengeluarkan buku catatannya, dan mulai mengerjakan soal-soal yang dia catat di buku itu.
Dia akan kembali nanti pukul 03.50, karena sepertinya Bara sangat membutuhkannya saat ini, tidak apa untuknya melewati jam tidur siang, lagipula nanti pada pukul 1 pagi dia bisa pulang dan tidur.
Dapat dilihat Bara terlihat sangat senang saat ada Kahaya disampingnya, dia mulai memainkan rambutnya lagi, yang membuat Kahaya sedikit geli dan kantuknya semakin menjadi-jadi.
Awalnya dia meletakkan kepalanya di meja, hanya untuk beristirahat, tetapi
Hanya dalam beberapa menit, pena digenggamannya terjatuh di buku catatan, bergulir ke alas meja, matanya terpejam, dan kesadarannya hilang, walaupun dia berusaha untuk sadar, tetapi, dia menyerah, dan pasrah jatuh tertidur.
Bara melihat mata gadis itu terpejam, mendekat dan merasakan nafas nya yang rata.
Dia merapikan rambut gadis itu yang terjatuh dan menutupi sebagian wajahnya, menaruhnya di belakang telinga, melihat wajah gadis di depannya dengan seksama.
Penjaga warnet selesai dengan permainan yang dia mainkan dan melihat kearah konter, bermaksud melihat pekerja barunya, akan tetapi saat melihat anak kecil yang baru lulus sekolah dasar itu, sedang sibuk melakukan sesuatu seperti melihat pacarnya yang sedang tertidur pulas, dia menjadi sedikit terdiam.
Ckckck, anak zaman sekarang..
Menggelengkan kepalanya, dia menggerutu.
Terserah, yang paling penting adalah bagaimana disiplinnya anak lelaki itu dalam pekerjaan ini.
Hal-hal lain, itu bukan urusannya.
Lagipula melihat usia seperti itu dan sudah mencari kerja, sepertinya keuangan mereka kurang, atau mereka memang bermaksud untuk mengumpulkan uang untuk membeli sesuatu.
Apakah orang tua mereka tidak mengurus mereka?
Terserah, ada baiknya tidak mengurusi hidup orang lain.
Kahaya samar-samar bisa mendengar suara ayam berkokok, lalu beberapa detik dan suara ayam berkokok itu berhenti secara tiba tiba.
Sesuatu yang lembut menyentuh matanya yang tertutup, berkali-kali dan itu membuat Kahaya geli, dia membuka matanya, bertanya-tanya apa itu sebenarnya.
Tetapi dia disambut oleh wajah Bara yang dekat dan tersenyum malu-malu padanya
Apakah Bara baru saja mencium matanya?
Anak ini..
Kahaya balas tersenyum, dan menggosok puncak kepala Bara saat dia telah mengumpulkan jiwa nya dengan duduk tegak. Dia masih sangat mengantuk, tetapi sekarang sudah setengah tiga sore, waktu siap-siapnya adalah pukul 3 sore.
Mengambil semua tas setelah membereskan apa-apa barang yang dibawanya, Kahaya berbicara pada Bara, "aku akan bekerja dulu Bara, Bara juga harus semangat untuk mencari uang"
Bara menggapai telapak tangan Kahaya, enggan melepaskannya.
Baiklah, dia akui Bara memang sangat lengket akhir-akhir ini padanya, dia akan patuh tentang semuanya.
Tetapi saat hari-hari mereka lalui, dan Bara menjadi tau bagaimana berperilaku sebagai manusia normal yang kerap kali Kahaya ajarkan padanya, dia menjadi semakin berani hanya di faktor membuat Kahaya tidak tega untuk meninggalkannya.
Bara tau bahwa Kahaya tidak akan marah jika dia melakukan hal ini,
dan menjadi semakin berani mengekspresikan dirinya sendiri.
Itu memang bagus, tetapi juga membuat Kahaya cukup sulit.
Dengan beberapa kata bujukan yang panjang lebar tentang bagaimana nanti mereka bisa saling menghubungi, atau bagaimana nanti ditengah malam mereka akan bertemu lagi, barulah genggaman tangan Bara dilepaskan dengan sangat-sangat enggan.
Dia bahkan melihat mata Bara saat dia menunduk, terlihat sangat menyedihkan.
Perilaku itu membuat Kahaya merasa lucu, tetapi juga tidak tega.
Menaiki angkutan umum dengan dua jurusan untuk sampai ke rumah, Kahaya melihat jam di handphonenya yang memberitahukannya bahwa ini sudah pukul 03.56 sore, dia buru-buru naik ke atas dan meletakkan semua barang bawaannya, dan turun ke bawah lagi.
Ada tenda panjang yang digulung yang membuat tampilan ruko ini sangat sempit, awalnya tenda rumah makan itu di letakkan diluar, tetapi Pak Suroto, suami Bu Mustofa, merasa bahwa itu kurang aman, jadi tenda bewarna orange itu diletakkan di dalam ruko sekarang.
Dia mengambil 2 buah bak besar bewarna hitam, dan mulai mencuci kangkung di bak satunya, dan kemangi di bak satunya lagi, mencuci mereka dengan bersih, Kahaya membuang airnya
Kemudian dia duduk dan mengambil 1 kantong plastik hitam untuk wadah sampah, dan mulai memetik sayuran.
Untuk kangkung sendiri, Bu Mustofa berbelanja 20 ikat, sangat banyak, tetapi akan ada 30 ikat jika itu malam minggu, Bu Mustofa akan melebihkan barang-barang belajaannya karena akan sangat ramai pada malam itu.
Dengan gesit Kahaya memetik kangkung. Setelah selesai, dia mengambil kemangi yang hanya dibeli oleh Bu Mustofa sebanyak 5 ikat.
Selesai melakukan itu semua, Kahaya mencuci timun, dan juga kol, dia melakukan itu dan memastikan bahwa mereka benar-benar bersih sebelum meletakkannya di wadah berbeda, dan memotong timun, dan kol, meletakkan mereka di bak satu persatu, Kahaya mempersiapkan sambal di wadah
Disiapkan untuk pembungkusan nanti.
Kahaya sangat terbantu beberapa hari ini karena kak Sugito yang menakut-nakuti karyawan perempuan lain, dan berbohong pada mereka bahwa Bu Mustofa akan memecat mereka, dan mencari karyawan lelaki saja yang lebih disiplin.
Anak-anak perempuan itu menjadi lebih rajin dan akan datang pada jam 4 sore untuk melakukan tugas mereka, yaitu melakukan pembungkusan sambal dan lalapan sehingga Kahaya memiliki keringanan dalam pekerjaan ini.
Yang awalnya dia harus melakukan semua ini mencapai beberapa jam, dan sekarang hanya beberapa menit yang bisa Kahaya lakukan lebih cepat.
Dia hanya akan menyiapkan sambal di wadah, memetik kangkung, kemangi, dan memotong timun, kol untuk mereka bungkus nanti.
Baru saja dibicarakan dalam hati dan beberapa karyawan wanita, dibarengi karyawan lelaki sudah datang, menandakan itu sudah pukul 4 sore hari.
Ada banyak cerita asmara juga di rumah makan ini. Karena hanya ada 3 karyawan perempuan, itu membuat beberapa karyawan lelaki memiliki cinta segi tiga, segi empat, dan lebih dari itu. Kahaya suka mengamati semuanya dalam diam.
Pekerjaan Kahaya sudah selesai, dia naik keatas dan mempunyai waktu untuk mandi berlama-lama untuk menyegarkan badan.
Nanti dia juga akan bertemu Bara untuk makan ditengah malam. Kahaya sempat mendengar bahwa makan di tengah malam tidak baik untuk kesehatan, tetapi bagaimana lagi, pada pukul 7 malam rumah makan masih ramai, walaupun tidak, dia juga kurang nafsu sekarang saat makan tidak bersama Bara yang sudah menjadi kebiasaan.
Jadi Mereka hanya bisa makan malam di tengah malam lagipula soal kesehatan, Bara dan Kahaya hanya akan melakukan olahraga pagi dengan memutari lapangan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me, and I die (complete)
Storie d'amore"Ibu kahaya sebagai pasangan yang dari kecil telah bersama, Apa kebiasaan bapak Bara yang membuat anda takut?" Kahaya merenung, dan memikirkan, lalu membuka mulutnya. " ini. Cara dia menatapku. Tatapannya terkadang membuatku sedikit takut. Sebenarny...
