Rumah makan Bu Mustofa terkenal dengan bumbu ikan bakarnya, sudah 17 tahun sejak Bu Mustofa dan Pak Suroto merintis rumah makan menjadi seperti ini.
Ada banyak yang merupakan pelanggan lama, tetapi kebanyakan adalah orang baru yang mencicipi dan merasa pas pada lidah mereka.
Ada 3 gerobak yang diletakkan diluar, 1 gerobak untuk tempat minuman, 2 gerobak lainnya untuk meletakkan bumbu-bumbu karena tempat memasak, dan mencuci piring ada diluar juga.
2 etalase yang berada di dalam sebagai tempat pembungkusan, 4 orang wanita ditugaskan untuk itu, sedangkan hanya 2 karyawan laki-laki yang ditugaskan untuk memasak, 1 untuk mencuci piring, yang lainnya bertugas melayani orang-orang yang makan ditempat.
Kahaya membungkus satu demi satu pesanan dengan cermat, sembari menunggu pesanan berikutnya, dia memikirkan tentang sepeda lagi.
Ada jalan khusus sepeda, sehingga negara ini masih terlalu banyak yang memakai sepeda, ditambah dengan pajak pengendara motor atau mobil yang tinggi, kebanyakan orang kantor, atau anak sekolah yang kurang mampu dalam mencukupi hidup mereka lebih memilih untuk menaiki angkutan umum atau membeli sepeda karena kemudahan transportasi nya.
Awalnya Kahaya tidak pernah berfikir untuk memiliki sepeda karena betapa mahalnya itu, tetapi dia sekarang memiliki pendapatan dari Bara juga, dia seperti bisa bernafas lega karna sumber uang untuk kehidupan mereka bukan lagi hanya dari miliknya.
Sumber ini sangat membantu keuangan mereka yang nantinya akan mereka kumpulkan.
Lagipula nanti masih banyak lomba yang akan diikuti oleh Kahaya dan Bara untuk menambah uang yang akan mereka tabung.
Dia pernah mengikuti lomba sekolah dasar, dan memenangkan 300 ribu serta piala antar sekolah.
Tetapi disekolahnya terlalu jarang perlombaan itu ada, dan dia hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mengikuti lomba
Berfikir tentang SMP 26, pasti memiliki lebih banyak undangan untuk perlombaan semacam itu, Kahaya menjadi sangat bersemangat.
Tetapi untuk sementara, dimasa awal ini Kahaya berencana untuk fokus pada studinya dulu.
Karena mereka adalah murid dengan jalur undangan, mereka mendapat potongan harga setengahnya, namun untuk biaya SPP mereka masih harus membayar karna beasiswa masih harus didapatkan saat mereka mendapat juara umum 1, 2, dan 3.
Saat mendapat juara umum itulah mereka tidak perlu membayar SPP lagi nantinya.
Kahaya bertekat untuk mendapatkan beasiswa itu sendiri. Dia rasa dengan kepintaran Bara, itu tidak akan susah, setelah memperbaiki nilai Bahasa inggrisnya juga Kahaya yakin nilai nya akan semakin melambung.
"1 nasi nila bakar"
Bu Mustofa berteriak.
Dia membungkus nila bakar yang telah siap di wadah pembakaran.
Berbicara tentang besok saat pergi kepasar, tentu saja menaiki angkutan umum pasti lebih cepat karna itu memakai mesin, tetapi hanya jalan-jalan yang terbatas akan sanggup dilewati angkutan umum itu sendiri. Bagaimana jika Bara dan Kahaya harus menuju lokasi terpencil nanti, atau mereka harus melakukan perjalanan untuk sesuatu yang penting di jalan-jalan yang tidak ada angkutan umum disana.
Walaupun dia tidak tau, apa sesuatu yang penting itu.
"Sambalnya yang pedas ya kak" salah satu pelanggan berkata pada salah satu wanita pembungkus di sebelah Kahaya.
Wanita pembungkus itu, yang bernama Rina, memutar matanya, dan Kahaya mendengarnya berceloteh pelan, "adakah sambal yang tidak pedas?"
"Biarkan saja, mungkin dia lelah" kata Devi salah satu pembungkus lainnya yang menenangkan.
Kahaya mendengar percakapan mereka dan hanya tersenyum.
"Kahaya aku memiliki ini" Bara menyerahkannya.
Melihat uang yang entah berasal darimana, Kahaya dengan bingung menatap Bara, "darimana ini berasal?"
"Kakak warnet memberikannya padaku, dia berkata bahwa itu upah untuk membantunya hari ini"
Uang 15 ribu mungkin lebih sedikit dari harian yang didapatkan Kahaya, tetapi Bara baru bekerja hanya beberapa jam hari ini, itu mungkin pemberian dari kantong kakak penjaga warnet sendiri.
Kahaya menyimpan uang itu dan menumpuknya ditas bersama dengan uang harian yang dia masukan kedalam tas berisi kotak-kotak makan.
Kuota internet Kahaya habis, karena terlalu banyak digunakan, baru-baru ini dia belajar di youtube tentang membuat roti sarapan yang sehat, itu menghabiskan beberapa GB kuotanya hanya dalam beberapa hari, dia merasa menyesal.
Kahaya mulai memikirkan, "Bara pinjam handphone mu sebentar"
Bara merogoh sakunya, dan menyerahkan handphone itu tanpa bertanya, "disini"
Mulai membuka handphone tanpa kata sandi ini, Kahaya membuka google untuk kisaran harga sepeda lagi, melihat warna-warna dan bagaimana bentuk yang ada, Kahaya mulai berfikir tentang betapa baiknya jika mereka bisa mendapatkan sepeda yang memiliki keranjang jauh lebih besar dan memiliki penutup juga.
Bekal makan siang, dan sarapan mereka juga akan mereka bawa, tutup keranjang bisa mereka gunakan untuk mengamankan barang mereka yang penting di sepeda itu, mereka hanya akan membeli dua gembok, dan rantai kunci, sehingga akan sangat aman, dan tidak takut akan pencurian.
1 gembok untuk di kunci di rantai roda, sedangkan gembok lainnya untuk keranjang.
Kahaya ingin membeli tas untuk wadah makan itu semua, tetapi itu terlalu merepotkan jika mereka harus membawa-bawa dan menenteng 4 kotak makanan dan dua minuman itu didalam kelas, terlalu banyak barang bawaan.
Seharusnya sarapan dimakan dirumah, tetapi kondisi mereka tidak memadai untuk hal itu.
Kedua orang tuanya tidak ada lagi, dia tinggal di rumah orang ditambah Bara.
Kahaya takut Bara hanya akan dibiarkan mati kelaparan di kamar jika Kahaya tidak menemukannya.
Masuk sekolah adalah pukul 06:30 pagi.
Itu sangat pagi, hanya berjalan kaki saja Bara membutuhkan sekitar 15 menit untuk sampai dirukonya, dengan sepeda mungkin hanya 2 kali lebih cepat.
Kahaya hanya tidak punya pilihan lain selain membawa 4 kotak dan 2 minuman botol itu bersamanya untuk sarapan dan makan siang.
Lagipula makan bersama lebih menyenangkan daripada sendiri.
Dia mulai bertanya-tanya, bagaimana Bara bisa berjalan dari rumahnya ke sekolah dasarnya dulu.
SD Dharma jaya, sekolah dasar Bara dulu sangat jauh lokasinya dari pinggir sungai, daerah Bara tinggal.
Apakah dia berjalan kaki?
Saat ini langit masih gelap walaupun waktu telah menunjukan pukul 3 pagi lewat, Bara menghirup udara segar yang belum bercampur dengan apapun itu dengan nafasnya.
Melihat gadis itu sedang merenung tentang entah apa, sambil memainkan handphonenya Bara hanya memperhatikan semuanya dengan sangat cermat, berusaha mengambil gambar sebanyak-banyaknya dari gadis di sampingnya ini.
Mereka saat ini tidak duduk dirumput seperti biasa, dari minggu lalu, rumput dilapangan semakin meninggi, tidak ada tempat yang bisa mereka duduki disana.
Mereka tidak punya pilihan lain selain duduk di tangga, tempat mereka belajar setiap pagi.
Bara bisa melihat keengganan Kahaya untuk duduk disini, karna memang, duduk di atas rumput sambil memakan makanan mereka terasa lebih menyegarkan.
Mengalihkan matanya menuju lapangan di tengah, Bara mulai berfikir.
Haruskah dia memotong semuanya?
Mencabut mereka?
Saat fikirannya mulai mengembara, gadis disampingnya mengeluarkan suara.
"Aku rasa warna hitam memang bagus, haruskah kita memilih yang bewarna hitam saja? Putih menurutku juga bagus, tapi warna bersih seperti itu akan cepat kotor, bagaimana dengan warna hitam ini Bara, kita membeli yang ini besok?"
Kahaya berkata-kata sambil menunjukkan gambar sepeda berkeranjang bewarna hitam.
Karena angin, dan gadis itu yang menoleh, rambutnya terurai kedepan dan menghalangi pandangannya, Bara menyentuh rambut itu dengan lembut, mengembalikannya di belakang telinganya secara perlahan, sebelum berkata dengan tersenyum, "terserah padamu saja Kahaya"
Berbulan-bulan berlalu bersama gadis ini, Bara mulai mengetahui mana yang benar, dan mana yang salah, dia sekarang mulai sadar, bahwa sikap nenek itu hanya disebut memanfaatkannya, wanita itu mengabaikannya, lelaki itu.. hanya tidak menganggapnya ada.
Dia mulai jelas tentang hal-hal tersebut.
Tetapi anehnya dia tidak merasakan emosi atau dendam tentang itu semua.
Dia hanya menganggap mereka tidak ada hubungan dengannya.
Bara melihat gadis didepannya.
Dari awal bertemu dengan gadis ini, dia tahu, hidupnya sudah bukan miliknya lagi.
Kahaya pulang pukul 4 pagi, dia menghipnotis dirinya sebelum jatuh terlelap untuk bangun pukul 7 pagi, supaya bisa pergi kepasar bersama Bara.
Karna hari ini pekerjaan Bara dimulai pukul 08.00 pagi - 03.00 sore sebelum sehari kedepan normal menjadi malam hari, pukul 06.00 sore - 03.00 pagi.
Sedangkan untuk belajar bersama dipagi hari yang biasa mereka jalani, Kahaya berencana untuk belajar di warnet saja nanti. Lagipula tempat itu memiliki kipas angin, meja, dan kursi, sehingga jauh lebih nyaman.
Dia bangun tepat pukul 7 pagi, dan mulai bersiap ke kamar mandi dengan cepat, karena terburu waktu hanya 1 jam.
Tidak baik untuk datang terlambat saat pertama bekerja, walaupun kakak penjaga warnet terlihat baik hati, tetapi Kahaya masih tidak ingin Bara menjadi tidak disiplin.
Mencuci wajah, dan menyikat giginya, Kahaya keluar dari kamar mandi dan menggantung handuknya di belakang pintu.
Tidak ada waktu untuk membuat sarapan atau makan siang sehingga Kahaya akan membawa Bara untuk makan diluar saja untuk hari yang mendesak ini.
Memilah sepuluh lembar soal yang ada diatas lemari, Kahaya memasukkan itu kedalam tas, untuk mencegahnya rusak, dia memasukkanya kedalam buku tulis terlebih dahulu.
Menghitung uang, dan meletakkanya di kotak pensil uang sebesar 2 juta rupiah itu, Kahaya menghitungnya berkali-kali sebelum yakin bahwa itu pas.
Keluar setelah mengunci pintu kamarnya, Kahaya melihat mesin cuci yang telah tertumpuk baju disana
Dia harus pulang lebih awal nanti untuk mencuci 2 bak ini, sudah 2 hari, dan menumpuk, dia biasa mencucinya 2 hari sekali, dan tidak bisa menunda lagi.
Menuruni tangga, dan keluar, Kahaya dikejutkan oleh Bara yang sudah duduk di pot besar didepan ruko.
Walaupun ini sudah sangat sering terjadi, itu masih membuat Kahaya terkejut dengan betapa Bara sangat patuh padanya.
Tadi pagi, dia mengatakan besok akan pergi ke pasar pukul 7 hanya sekali lewat, tetapi hanya sekali ucapan itu Bara akan selalu datang lebih dulu dari waktu janji yang jelas-jelas Kahaya buat sendiri.
Kapan dia datang kesini?
Pukul 6? Setengah 7?
Melihat wajah Bara yang berseri-seri saat melihatnya, Kahaya menjadi tidak ingin bertanya lagi, dan membalas senyuman pada bocah lelaki itu, membawanya pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me, and I die (complete)
Romansa"Ibu kahaya sebagai pasangan yang dari kecil telah bersama, Apa kebiasaan bapak Bara yang membuat anda takut?" Kahaya merenung, dan memikirkan, lalu membuka mulutnya. " ini. Cara dia menatapku. Tatapannya terkadang membuatku sedikit takut. Sebenarny...
