bab 27 : topeng

5.1K 619 45
                                        

Dikelas Kahaya tidak sengaja tertidur lagi saat jam pelajaran pertama, tetapi sebelum materi itu dijelaskan, sehari sebelumnya Kahaya telah meninjau dan menghafal mereka, sehingga saat Bu Dami memanggilnya didepan kelas mungkin karena sudah terlalu jengkel karena sudah beberapa kali Kahaya terlihat tertidur bertepatan dengan jam pelajarannya.
 
Tetapi Kahaya melihat Bu Dami selalu terdiam saat Kahaya selalu bisa menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan padanya, tetapi itu tidak menghentikan Kahaya mendapatkan kritik dan saran.
 
"Kahaya, ibu tidak ingin lagi melihatmu tertidur dijam pelajaran ibu lain kali, jangan biarkan ibu melihat ini lagi atau nilaimu akan ibu kurangi. Coba pikirkan jika ibu membiarkanmu tidur dikelas, maka nanti, semua teman-temanmu akan ikut tidur juga, lalu apakah ibu mengajari hantu dikelas ini saja?"
 
Ocehan Bu Dami yang terakhir membuat suasana yang tadi tegang menjadi mencair.
 
Meskipun kata-katanya tegas, tetapi murid lain dikelas dapat mendengar perbedaan antara Kahaya yang dimarahi, atau salah satu yang lainnya yang dimarahi dikelas ini. Melihat gadis berkuncir kuda yang berdiri dimejanya dengan pasrah itu mereka tidak tau harus merasa kasihan atau iri padanya.
 
Lili menggelengkan kepalanya saat pelajaran Bu Dami selesai, dia mengeluh dengan suara lucunya, "aku ingin tahu rahasianya Kahaya, bagikan aku rahasia, bagaimana disetiap pertanyaan kau bisa menjawab itu?"
 
Membenarkan kuncir rambut yang sedikit kusut karena tertidur tadi, Kahaya berbicara dengan nada main-main, "rahasianya adalah be-la-jar"
 
"Ukhhh" Lili membuat ekspresi ingin muntah.
 
Anak-anak lain disekeliling Kahaya tertawa mendengar itu, sebelum berkumpul mengepung Kahaya dan mulai menanyakan tentang satu persatu soal yang tidak mereka mengerti.
 
Entah sudah berapa lama, tetapi Kahaya seperti merasakan tatapaan mata yang tidak asing, dia menoleh kearah pintu, dan benar saja, Kahaya melihat Bara berdiri disana dan hanya diam melihat kearahnya.
 
Bara melihat bahwa Kahaya telah menemukannya dan hanya menatap Kahaya dengan mata rumitnya.
 
Sekali lagi, Kahaya terkadang bingung dengan apa yang dipikirkan Bara, tetapi dia tersenyum dan melambaikan tangan pada Bara, menyuruhnya masuk, baru saat itulah Bara memberikan senyumnya dan berjalan kearahnya.
 
Anak-anak yang berkumpul disekelilingnya merubah target pertanyaan mereka.
 
Tetapi dapat dilihat dengan jelas perbedaannya, saat mereka bertanya padanya akan terjadi sebuah kekacauan suara, mereka akan dengan ceroboh menanyakan ini dan itu, tetapi saat dengan Bara mereka menciptakan sebuah barisan rapi dari ujung keujung, lengkap dengan buku yang telah terbuka, bertanya dengan sangat sopan, dan lembut, untuk wanita, tentu saja ditambah dengan pipi mereka yang memerah.
 
Kahaya melihat Bara dengan pasrah, tidak tau bagaimana menjelaskan situasi yang selalu terjadi ini.
 
Tetapi Kahaya dapat merasakan sikap Bara yang tadinya terganggu karna suatu hal sekarang menjadi santai lagi.
 
Saat pertanyaan semua orang telah terjawab, mereka keluar untuk pergi kekantin, Kahaya melambaikan tangannya pada Lili yang memberi isyarat akan pergi juga.
 
"Bara, apa yang kau fikirkan di pintu tadi?" Karena akhir-akhir ini Kahaya semakin asing dengan sikap Bara yang sedikit demi sedikit bermasalah, Kahaya ingin mengetahui hal itu dengan menanyakan permasalahannya secara langsung.
 
Bara yang telah meletakkan kotak makanan yang baru diambilnya dari keranjang sepeda terdiam, lalu melanjutkan lagi saat meletakkan wadah makan Kahaya didepannya, "aku juga tidak tau, banyak hal yang kufikirkan tadi, terkadang kau sangat bersinar Kahaya, kau seperti seekor Kupu-kupu yang selalu diitari oleh banyak mahluk, itu membuatku takut"
 
Kahaya tertawa saat Bara memujinya, tetapi saat ketakutan Bara dibicarakan, Kahaya membuang tawanya karna dia tahu bahwa Bara tidak pernah bercanda, "apa yang kau takuti dari itu?"
 
"Kau selalu membuat orang nyaman Kahaya, aku takut saat kau semakin berkilau, aku hanya akan tertinggal dikegelapan"
 
Kahaya tertawa lagi walaupun dia ingin serius, "apa yang kau katakan? Apa kau sedang membaca puisi di pelajaran Bahasa indonesia sekarang Bara?"
 
Tidak tersenyum, Bara membalas itu dengan hanya menatapnya.
 
Tatapan matanya menyiratkan bahwa dia tidak bercanda sama sekali.
 
Kahaya tidak mengerti bagaimana merasakan perasaannya, dia terlahir dengan kemudahan untuk mendekati orang lain, semua terjadi begitu saja saat dia ingin berbicara dengan orang itu, dan orang yang dia ajak berbicara itu dengan waktu singkat akan menempel padanya, kecuali anak kedua Bu Mustofa dan Pak Suroto tentunya.
 
Kahaya tidak tau apa yang salah, tetapi selama dia tinggal diruko, obrolan antara dia dan anak Bu Mustofa dan Pak Suroto itu hanyalah sebuah anggukan, atau pengabaian. Itu sangat menyedihkan, padahal dia tidak melakukan apapun yang patut untuk diberi perlakuan seperti itu.
 
Baiklah, kembali lagi pada Bara yang memang sangat kaku, maka dari itu Lili yang seperti bunga bermekaran meloncat disana sini pun tidak bisa bergaul dengannya.
 
Bara seperti itu, dia akan tersenyum hanya pada seseorang yang dia butuhkan.
 
Contohnya seperti saat dia akan membagikan buku di kelas lain, dia akan tersenyum saat membagikan buku itu, terlihat sangat mudah didekati, berbicara dengan lancar didepan umum, tetapi menutup diri, Bara seperti mempunyai dinding, dinding yang hanya orang yang diizinkannya yang bisa lewat.
 
Semua orang mengaguminya, tetapi banyak dari mereka tidak berani mendekatinya, karena betapa Bara menjauhkan diri dari mereka, mungkin karena Bara tidak menyadari itu, maka semua orang tidak satupun yang ada mendekatinya selain Kahaya.
 
"Bagaimana janji kita dengan Rahayu, kita akan bertemu dimana untuk membahas soal-soal tentang lomba?" Saat memakan nasi goreng buatannya sendiri yang sekarang menjadi lebih enak, Kahaya bertanya dengan sendok yang ada ditangannya.
 
Sudah satu setengah tahun mereka hanya memakan nasi goreng untuk makan siang, roti telur dan selai berbagai macam untuk sarapan, nasi ikan untuk makan malam, Kahaya merupakan orang yang sangat mensyukuri apa yang dia miliki, tetapi jika terus berulang seperti ini dia juga akan merasa bosan.
 
Semuanya ditepis lagi setiap kali dia melihat kotak makan Bara yang tidak tersisa satu biji nasi pun, Kahaya menjadi bertanya-tanya apakah perasaan tentang menu yang sama setiap hari ini sama dengan perasaan Bara sendiri.
 
 
Bara menggelengkan kepalanya, dan mengusap bibir Kahaya, walaupun tidak ada nasi di bibir itu, mereka terlihat mengkilap karna minyak, dan Bara hanya memiliki dorongan untuk menyentuhnya sebelum berbicara, "itu tidak perlu, hanya kita berdua yang akan mendiskusikan tentang ini, aku hanya membutuhkannya untuk mengisi nama di daftar lomba"
 
Lihat. Ini contohnya, komentar yang dibuat Bara akan sangat menyakitkan.
 
Bara seperti memiliki 2 sisi wajah.
 
Saat dia bersamanya, kalimatnya akan sangat blak-blakan, sedangkan saat dia sedang berbicara dengan orang lain, itu akan amat manis seperti gula, Kahaya pernah melihat Bara berbicara dengan teman sekelasnya, dan teman diorganisasi osis juga beberapa kali. Saat Kahaya menyadari perbedaannya dia menjadi amat terkejut sehingga terdiam.
 
Itu seperti Bara sedang memakai sebuah topeng saat berada diluar, dan melepasnya saat dia berada didalam dindingnya sendiri.
 
Dan Kahaya seperti seseorang yang ada didalam dinding itu.
 
"Apakah itu tidak akan terlalu merepotkan Bara? Bukankah kita harus bekerja sama, mungkin Rahayu pintar dalam bidang yang tidak kita pintari, kita bisa memanfaatkan itu untuk menang" Kahaya dengan lembut memberi saran.
 
"Dia terlalu berisik" mengelengkan kepalanya lagi, Bara mengemukakan kata-katanya, "aku menyesal memilihnya, lebih baik aku memilih orang yang sedikit diam"
 
Berfikir keras, Kahaya menyendok nasi dalam wadahnya sebelum mengatakan sebuah fakta yang pasti, "kalau difikir-fikir aku juga sangat berisik"
 
Dia bisa berbicara tentang sikap pelanggannya yang pemarah, kemungkinan masalah keluarga mereka sehingga mereka menjadi pemarah seperti itu, ketiga karyawan di rumah makan yang seperti membencinya, lalu tentang berbagai orang lain yang Kahaya perhatikan, anak Bu Mustofa juga termasuk tentunya.
 
Secara jujur, dia sangat amat berisik.
 
"Kau berbeda Kahaya"
 
Kahaya memikirkan hal itu dengan keras, tetapi diberi jawaban yang sama kerasnya.
 
"Jangan membandingkan kau dengan mereka"
 
Aku bahkan bisa mendengar ceritamu, suaramu sepanjang hari, melihat wajah itu, rasa kebingungan saat dia tidak bisa mendengar atau melihatnya bisa membuatnya gila.
 
Bagaimana gadis ini tidak mengerti?
 
Setelah membahas semua poin-poin tentang apa pertanyaan yang akan keluar di lomba nanti, mereka mencari tujuan untuk sama-sama mengingat.
 
Bara memegang tumpukan kertas sedangkan Kahaya disamping melafalkan ingatannya. Saat jawabannya salah Bara hanya akan mengatakan itu dengan jawaban kurang tepat dan mengoreksi kesalahannya.
 
Selanjutnya mereka berganti posisi, Kahaya bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengoreksi karena tidak ada kecacatan sama sekali dalam ingatan Bara yang sempurna.
 
Benar-benar membuat iri orang lain.
 
Karena pesan Pak Suroto yang menginginkan dia untuk membuat jadwal piket pembersihan kamar mandi, Kahaya dan Bara langsung pergi ke warnet terlebih dahulu untuk menyusun jadwal itu, sebelum Kahaya mendownload contoh soal-soal tahun-tahun sebelumnya di penyelenggaraan lomba tersebut yang mungkin ada diinternet.
 
Sebelum UAS akan ada lomba, karena mereka dibom dengan kedua acara besar yang akan datang tersebut, Kahaya selalu membawa buku untuk belajar menghafal atau mengerjakan Matematika saat dia sempat.
 
Di sepeda saat Bara memboncengnya dia membawa buku, dijalan saat dia sedang berjalan dia membawa buku, saat dia makan pun dia membawa buku, beruntung ada Bara yang menuntunnya disamping, atau jika tidak dia sudah lama tersandung batu, tertabrak orang, masuk ke lubang dijalan, atau kecelakaan lainnya.
 
Pada waktu-waktu itu Bara akan mengusulkan untuk jangan terlalu keras berfikir, tetapi Kahaya menjawab kalimat itu dengan perbedaan otak mereka, walaupun Bara tidak belajar, sekelebat lembaran soal dihadapkan padanya, dalam hitungan detik, Bara akan mampu menjawab. Lihat, betapa tidak adilnya pembagian otak jika dilihat disini.
 
Lalu saat Kahaya bahkan tertarik pada rubik, dan membeli itu seharga 8 ribu rupiah dan mengutak atik mereka selama 3 hari 3 malam tanpa bisa menyamakan warnanya, dalam hitungan menit Bara bisa menguasai hal tersebut, dengan mata polos kemudian Bara melihat padanya untuk mungkin mencari pujian yang selalu Kahaya semburkan saat Bara melakukan hal yang luar biasa
 
Kahaya berfikir untuk mencubitnya dengan keras saat itu, dan dia melakukannya, tetapi kalimat yang keluar dari mulut Bara bukan teriakan kesakitan karena cubitannya yang keras.
 
Kalimat pertama yang Kahaya dengar adalah, "Kau marah Kahaya, apa aku membuat kesalahan?"
 
Raut wajah sangat ketakutan itu membuat Kahaya menjelaskan dengan panik bahwa itu bukan salahnya.
 
Bara masih tetap Bara, dia sangat sensitif terhadap perasan Kahaya terhadapnya, saat ada kesalahan sedikit saja yang menunjukan bahwa Kahaya emosi, Bara akan sangat ketakutan.
 
Walaupun Kahaya hanya bermaksud untuk bercanda padanya, Bara selalu mengambil raut wajah Kahaya sebagai sesuatu yang sangat serius.
 
Kahaya ingin mengubah itu, tetapi bagaimanapun cara yang Kahaya berikan sepertinya tidak mempan, itu makin menjadi sebuah pertanyaan apakah Kahaya menyukai sikap ini atau tidak, dan membuat Bara semakin tertutup akan ekspresinya sendiri.
 
Kahaya tidak menginginkan itu, Kahaya tidak menginginkan Bara juga memakai topeng saat didepannya.

Leave me, and I die (complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang