bab 48 : Berpamitan

5K 623 33
                                        

Saat malam hari, ini adalah 2 hari setelah Kahaya menulis surat pengunduran dirinya, beserta alasannya untuk pindah kekota z untuk belajar di universitas binata.

Pemilik market besar tempat Kahaya bekerja jarang ada di Market, sehingga Kahaya hanya mengatakan itu kepada manager toko yang merupakan ibu paruh baya yang sangat baik hati, Kahaya berpamitan pada teman-teman sepekerjaanya disana, sebelum pergi pulang membawa tas berisi bekal, dan buku-buku yang akan dia bawa kemanapun dia berada.
 
Melihat kebelakang pada hamparan tumbuhan yang biasa dia lalui sesaat sebelum bekerja, bangunan market yang lumayan besar, Kahaya berjalan melewati lorong gelap, dengan lampu jalan yang menerangi.
 
Dia pasti akan merindukan kota ini.
 
Kahaya sangat mengingat seluk beluk kota ini yang membuatnya begitu berati memikirkan tetang sudut-sudutnya.
 
Saat sebuah kenangan tentang ibu dan ayahnya dikota ini bermunculan dibenaknya, Kahaya menghela nafas dan melihat bintang-bintang diatas langit yang terpapar indah.
 
Sebuah helaan nafas lagi terhembus diudara, Kahaya melewati akhir lorong, dan melihat Bara sudah menunggu didepan lorong, sepeda terparkir di sebelah pot besar, dengan bunga indah ditanami disana.

Mata Bara sedari tadi terpaku melihat lorong, dan saat Kahaya keluar dari lorong itu, mata mereka langsung bertemu.
 
Kahaya tersenyum dan melambai padanya, sebelum mendekati Bara dengan mempercepat.
 
Bagi manusia, melepaskan hal yang berharga, dan sudah lama dipupuk, apalagi sudah tertanam rasa sayang pada benda atau orang tersebut.

Sampai kapanpun, manusia itu tidak akan rela melepaskannya.
 
Hari ini malam minggu, Kahaya melihat tenda warung makan yang sangat ramai, tempat beradanya bu Mustofa dan pak Suroto didalam sana.

Dipagi hari, bu Mustofa dan pak Suroto tidur, disore hari pak Suroto dan bu Mustofa pergi, di saat rumah makan buka pak Suroto dan bu Mustofa sibuk bekerja.
 
Kahaya bingung akan berpamitan dan meminta maaf kapan, jadi Kahaya menunggu sampai jam 3 pagi, saat pembagian uang harian yang akan dilakukan, saat itulah mungkin waktu yang tepat.
 
Kahaya menarik nafas, sebelum memberanikan diri untuk masuk kedalam.
 
Berbeda dari yang dia harapkan, dimana kecanggungan akan berada, disini saat Kahaya berhadap hadapan dengan bu Mustofa. Bu Mustofa seperti melihatnya dengan tidak percaya, sebelum memeluk Kahaya dengan erat.
 
Sepertinya bu Mustofa menangis, karena Kahaya dapat merasakan air mata yang menetes dikulitnya, dan suaranya yang terendam. Itu membuat kahaya menangis juga.
 
Pak Suroto disamping mereka saat ini, para karyawan yang masih lama, dan ada beberapa karyawan baru yang terlihat kebingungan melihat mereka dengan tatapan bertanya-tanya, sedangkan karyawan lama melihat gambaran ini dengan terharu.
 
Permintaan maaf berakhir dengan cepat, dirumah makan ini tidak ada yang memperhatikan penutupan warung, sepertinya mereka hanya terdiam melihat kearah Kahaya yang sekarang ditanyai oleh bu Mustofa dengan begitu banyak kata kata, seperti darimana saja dia, dia bekerja dimana sekarang, dimana dia tinggal saat ini, dan lain sebagainya, yang Kahaya jawab dengan sangat jujur.
 
Saat bu Mustofa bertanya apakah Kahaya mau bekerja disini lagi, Kahaya tersenyum dengan air mata yang masih menumpuk di pipinya, menjelaskan, ‘’bu.. Kahaya datang kesini untuk meminta maaf, dan juga berpamitan’’
 
‘’Kahaya diterima di universitan binata, dikota z, kami akan berangkat besok’’
 
Dan saat kata-katanya diucapkan bu Mustofa membeku, dia menangis lagi, dan memeluk Kahaya lagi.
 
Bu Mustofa terlihat begitu sedih, yang membuat kahaya juga sedih.
 
Pulangnya, pak Suroto sudah memberikan amplop yang tidak tau kapan pak Suroto menyiapkannya tadi.

Setelah menolak beberapa kali, tetapi tidak bisa, Kahaya menerimanya dan mengatakan terimakasih kepada kedua orangtua itu.
 
Saat akan pulang, mereka bertemu dengan kak Leoni, dan kak Sugito yang telah menunggunya diluar. Posisi yang sedikit jauh dari rumah makan.
 
Kahaya langsung memeluk kak Leoni dan menyuarakan perpisahannya, sedangkan kak Sugito berbicara dengan Bara tentang hal-hal yang Kahaya tidak perhatikan.
 
Dari sana Kahaya tau bahwa apa yang dikatakan Ratna waktu itu, sebenarnya yang memberitahukan kepada bu Mustofa bahwa Ratna selalu memasukkan pacarnya dijam jam tertentu adalah kak Leoni, itu karna kak Leoni pernah berhubungan dengan laki-laki itu, dan mengetahui bahwa pemuda itu adalah seorang bajingan.
 
Dunia memang sangat kecil.
 
Dan sekarang akhirnya Kahaya tau kenapa bu Mustofa tampak telah menurunkan beberapa kilo berat badan dan terlihat begitu lelah.
 
Itu karna Ratna mengandung.
 
Ya, Ratna hamil. Sudah 7 bulan ini, 3 bulan lagi ratna akan melahirkan, dan lelaki itu melarikan diri, tidak mau bertanggung jawab.
 
Itu membuat Ratna histeris setiap hari untuk mengguggurkan kandungan itu saja.
 
Itu juga alasan Ratna yang memasuki universitas swasta yang tidak kunjung lulus harus mengambil cuti dari perkuliahannya.
 
Begitu banyak hal mendadak yang harus Kahaya terima, dan itu hampir membuatnya tidak mampu untuk memproses.
 
Bara melihat gadis itu yang masih memiliki mata sembab merah nya, dan tidak bisa bertanya- tanya, ‘’kenapa dia menangisi orang yang telah menyakitinya?’’
 
Sugito menyamping untuk melihat Bara, dengan perubahan kata-kata yang tiba-tiba dan memberikan kalimatnya, ‘’itu karna Kahaya anak yang baik’’
 
‘’Saat aku mendengar Kahaya bercerita pertengkarannya dengan Ratna, dan bagaimana pak Suroto, dan bu Mustofa membuat semuanya tidak adil. Aku sempat merencanakan untuk membakar rumah makan ini’’ Bara menunduk untuk melihat bayangannya yang ada di tanah.
 
Tawa keluar dari mulut Sugito, ‘’aku tidak tau apa kau bercanda atau serius saat mengatakan itu, tetapi tentu saja jika kau melakukannya aku akan menghentikanmu Bara’’
 
Bara ikut tertawa juga, menyapu bayangannya di tanah, dan tidak mengatakan apapun lagi.
 
Esoknya dengan membawa kedua koper yang satu dibawa oleh Bara, dan satunya dibawa olehnya sendiri, mereka berangkat ke terminal bus dengan menaiki angkutan umum.
 
Kopernya cukup kecil karena hanya ada beberapa baju sedikit yang mereka miliki.
 
Angkutan umumnya juga sangat kecil, mereka meletakan kedua koper itu ditengah-tengah tempat mereka duduk. Sangat tidak nyaman.
 
Butuh 3 hari 2 malam untuk sampai ke kota z jika menaiki bus. Sepanjang hari mereka dibus, di perhentian pengistirahatan mereka makan di tempat yang dituju oleh bus itu sendiri yang kebanyakkan adalah rumah makan 24 jam.
 
Makanan di peristirahatan begitu mahal, tetapi Kahaya tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menghemat karena mereka sedang dimasa tidak bisa memikirkan apa-apa karena kelelahan perjalanan.
 
Ini adalah pertama kalinya Kahaya melakukan perjalanan jauh yang membuatnya sangat bersemangat.
 
Tetapi kelelahan juga melanda sehingga dia tidak mampu ntuk membuang tenaga memikirkan berapa banyak uang yang keluar dari dompet karena perjalanan ini.
 
Kota z merupakan kota yang sangat terkenal karena jembatannya yang sangat besar, dan sungai yang memisahkan antara kedua kota, yang mampu disatukan oleh pembangunan jembatan yang dikatakan banyak mengorbankan beribu-ribu nyawa dizaman dahulu.
 
Melewati jembatan itu dengan kagum yang diwarnai dengan warna merah, dan ada jam yang digantung di tengah jembatan sebagai estetika, Kahaya berseru takjub.
 
Kota terbersih nomor 1 dinegara ini yang bahkan membuang sampah sembarangan dapat dipenjarakan.
 
Disepanjang jalan yang tidak ditemukan sampah sama sekali itu Kahaya mengeluarkan handphone nya dan mengambil beberapa foto untuk mengabadikan.
 
Kahaya menyewa tempat dilokasi dekat universitas binata yang cukup sederhana.
 
Tetapi karena uang hidup disini sangat mahal, tidak dapat dipungkiri bahwa tempat tinggal mereka yang terdiri dari 1 kamar, dengan satu kamar mandi, dan ruang tamu kecil, serta dapur itu memungut 2 juta sendiri untuk perbulannya.
 
Bangunannya seperti rumah susun, sangat tinggi dan memiliki berpuluh puluh tempat tinggal di gedungnya.
 
Turun dari terminal bus di kota z, Kahaya menaiki taksi yang merogoh koceknya sebesar 100 ribu rupiah untuk sampai ke tempat penyewaannya.
 
Kahaya menghela nafas hanya untuk menyadarkan dirinya bahwa tidak apa karna mereka belum tau apa-apa tentang transportasi kota ini, dan juga belum memiliki sepeda.
 
Bara membawa kedua koper itu, karena Kahaya langsung pergi kearah penjaga penyewaan rumah ini, untuk menyewa 1 tempat tinggal.
 
Dia mengambil jurusan akutansi S1, jika Kahaya dapat melakukan yang terbaik dia bisa lulus hanya dengan 3 setengah tahun, sedangkan Bara mengambil jurusan kedokteran, Bara membutuhkan waktu yang lebih lama, dan uang, yang lebih dan lebih banyak lagi.
 
3 setengah tahun paling cepat untuk mengambil S1 nya, kemudian mengambil profesi selama 2-3 tahun, setelah lulus Bara juga harus melewati ujian kompetensi dokter baik teori maupun praktik, dan jika gagal disalah satu ini, Bara harus mengulang lagi tahun depan untuk kelulusannya. Jika sudah mengarungi semua hal itu, barulah Bara akan diangkat sumpah pemuda. Dan setelah itu, Bara baru resmi menjadi seorang dokter.
 
Jadi dapat diasumsikan, bahwa Bara akan resmi menjadi seorang dokter setelah menjalani pembelajaran praktik maupun teori itu paling cepat adalah 6 tahun.
 
Biaya untuk menjadi seorang dokter minimal 150 juta. Dan itu masih minimal.
 
Kahaya tidak menentang apa yang Bara pilih karena Kahaya memiliki uang sebesar itu juga, dan dia juga yakin dengan kemampuan Bara sendiri dalam mencapai tujuannya tersebut.

Leave me, and I die (complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang