Makanan belum tiba, Kahaya menebak bahwa ini akan lama, karna orang sebanyak ini yang mengantri, belum lagi dihitung dengan orang-orang yang memesan take away diluar.
Jadi dengan tidak ingin nya Kahaya dari membuang-buang waktu, dia bersiap mengeluarkan kertas-kertas dari dalam tas nya. Tetapi tersadar bahwa tas Bara masih di pangkuannya.
Melihat tas Bara dari dekat, Kahaya merasa sedih, tampilan tas ini, sudah sepantasnya dibuang. Warna telah luntur, dan kainnya robek dimana-mana, seperti habis tercabik-cabik.
Memikirkan nenek tetangga Bara itu, Kahaya berterimakasih, sekaligus membencinya.
Uang yang didapat Bara pertahunnya pasti lumayan banyak, haruskah dia terlalu pelit hanya untuk mengeluarkan uang tidak sampai 200 ribu untuk membelikan anak ini tas baru?
Bara memiliki banyak piagam penghargaan di sekolah dasarnya, yang berarti Bara banyak memenangkan lomba-lomba. Dan itu pasti memiliki hadiah uang! Dasar nenek itu!
Kahaya melihat ke bawah, pada sepatu Bara.
Kalau difikir-fikir, apakah Bara tidak memiliki sandal biasa, disaat pertemuan mereka, Bara akan selalu memakai sepatu ini.
Baju yang Kahaya beli sangat cocok untuknya, dia juga memakai jaket denim yang membuat tampilannya sangat keren, celana jins Bara juga terlihat begitu modis. Dia sekarang telihat seperti anak normal, dan berkehidupan yang baik.
Sepatu Bara berwarna hitam, dan Kahaya tau, dari ketidaktahuan Bara tentang apapun. Haruskah dia bertanya, berapa bulan sepatu itu tidak dicuci?
Mungkin semenjak nenek itu meninggal, Bara sudah tidak ada yang mengurusnya lagi.
Meskipun dia membenci nenek itu, faktor yang membuatnya berterimakasih juga banyak. Kalau difikirkan walaupun nenek itu sendiri buta untuk uang, dia masih sedikit peduli pada Bara. Jika dibandingkan dengan orang tua Bara, dia terlihat lebih baik.
Menatap mata jernih itu, yang selalu memperhatikannya, Kahaya berbicara. "Bara, besok, ayo kita pergi ke pasar sekali lagi."
Tanpa ragu, Bara mengangguk. " baik"
Jarak mereka dekat, karna letak kursi yang saling berdempetan, Bara bisa dengan jelas melihat wajah Kahaya.
Meskipun Bara tidak bertanya, akan tetapi Kahaya mulai menjelaskannya. Menunjuk robekan-robekan di kain tas, Kahaya berkata. "Ini sudah tidak bisa dipakai lagi, kita harus membeli yang baru untukmu, bukankah sangat menyusahkan memakai tas ini. Bagaimana buku-buku mu tidak jatuh jika banyak robekan seperti ini"
Semakin dia memperhatikan tas itu, Kahaya merasa semakin sedih. Lihatlah robekan dibawah tas yang menganga ini. Bagaimanapun tas ini tidak lagi bisa berguna untuk menyimpan apapun.
Dia menggosok kepala Bara dengan simpati. "Bara lain kali, jika terjadi sesuatu dengan barang-barangmu, kau harus mengatakannya padaku, oke?"
Bara mengangguk, dan tersenyum.
Mengembalikan tas itu pada Bara lagi, Kahaya meletakkan tasnya sendiri di pangkuannya, dan mengeluarkan 5 lembar kertas yang dipisah dari sana.
"Bara, lihat ini"
Kahaya menunjuk pada salah satu lembar kertas berisi rangkaian barang-barang MOS yang diperintahkan untuk dibawa.
Masa orientasi siswa SMP 26 sangat rumit. Mereka harus membuat name tag dengan karakter kelompok masing-masing.
Kelompok akan dibagi sebulan sebelum MOS itu dilaksanakan. "Kita MOS dibulan juli, itu berarti januari, februari, maret.. em april, mei-"
"Juni" Bara meneruskan saat Kahaya terlihat kesusahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me, and I die (complete)
Romance"Ibu kahaya sebagai pasangan yang dari kecil telah bersama, Apa kebiasaan bapak Bara yang membuat anda takut?" Kahaya merenung, dan memikirkan, lalu membuka mulutnya. " ini. Cara dia menatapku. Tatapannya terkadang membuatku sedikit takut. Sebenarny...
