Bab 2: aku akan mengikutimu

12K 1.3K 27
                                        

Sebagian awan bewarna abu-abu diatas langit, dan matahari tertutupi banyak lapisan awan gelap yang membuat tugasnya untuk menyinari bumi menjadi lebih rumit.

Kahaya mengambil deretan baju yang dijemur di balkon ruko lantai 2.

Banyak dari mereka bukanlah miliknya, tetapi milik bu Mustofa, suaminya, pak Suroto, dan Ratna, anak perempuan mereka yang lebih tua 3 tahun dari Kahaya.

Hari ini adalah hari kelulusan bagi para anak sekolah.

Saat dia ingin mengambil pakaian yang di jemur dipagar balkon, sudut mata Kahaya menangkap sosok di bawah.

Kahaya melihat anak lelaki yang berdiri di pot besar pinggir jalan, memakai seragam sekolah dasar khas Negara ini, dengan warna merah bagi celana, dan putih bagi kemeja berlengan pendek nya.

Tertegun, dia terus melihat anak lelaki itu.

Mata mereka bertemu. Karna anak lelaki itu memang dari awal telah mendongak ke atas.

Entah sejak kapan anak itu memperhatikannya melakukan rutinitas menjemur baju ini. Bersuara saja tidak.

Bukankah seharusnya dia melambai, atau berteriak 'hei' setidaknya agar kahaya bisa mengetahuinya?

Kahaya mendekat kepagar balkon, dan melihat ke bawah, dia mengangkat tangannya untuk isyarat tubuh menanyakan ada apa, akan tetapi Bara hanya tersenyum menanggapinya.

" ... "

Terkadang dia merasa aneh dengan respon Bara, meskipun dia tahu, bahwa maksud meringkuk bibirnya adalah senyuman, akan tetapi hal itu seperti tidak sama dengan senyum orang normal, dan Bara melakukannya dengan sangat kaku.

Karna anak itu tidak mengerti, Kahaya memutuskan untuk pergi kebawah dan menemuinya. Kenapa Bara disini?

Dengan meletakkan pakaian kedalam bak, memakai sandal, Kahaya turun dari tangga.

Tidak ada siapapun diruko, karena bu Mustofa dan pak Suroto sedang keluar, dan Ratna sedang mengadakan acara kelulusan sekolah.

Para karyawan juga telah pulang pukul 6 tadi pagi, mereka hanya akan beristirahat di lantai 3 hanya sebentar untuk tidur singkat.

Kahaya sendiri baru pulang dari sekolahnya, karena pembagian raport, dan nilai ujian Nasional yang hanya memakan waktu beberapa jam, dia pulang cepat.

Kebanyakan teman-temannya keluar dengan keluarga mereka masing-masing untuk merayakan naiknya mereka di sekolah menengah pertama nanti.

Walaupun kebanyakkan mereka adalah anak yang kurang mampu, akan tetapi di sekolah Kahaya sebagian juga sedikit berkecukupan, sehingga orang tua mereka tidak kekurangan sedikit uang untuk dijadikan perayaan.

Banyak dari mereka yang bercerita padanya tentang kebingungan yang mereka miliki. Akan memilih SMP mana nanti mereka?

Dengan decitan pintu ruko akhirnya terbuka, menampilkan sesosok anak laki-laki. Kulitnya masih tetap pucat, jika didunia ini memang ada vampire, mungkin Bara adalah salah satunya. Kahaya melihat seragamnya yang telah usang, menguning, dan sedikit luntur, yang sangat kontras dengan warna kulitnya, dan bertanya. ''Bara, sejak kapan kau ada di sini?''

Sudut mulut Bara masih meringkuk, dan itu bertambah dalam saat Bara melihatnya. Kahaya selalu bisa melihat sinaran ketergantungan keluar dari matanya, dan itu membuatnya tidak nyaman pada awalnya, tetapi melihat betapa mengerikannya hidup Bara, dia merasakan rasa tercekik semakin dia mengenalnya.

Menanggapi pertanyaan itu, Bara menggapai lengannya, seperti biasa. Kahaya selalu merasa bahwa ini tidak baik. Dia menunggu pertanyaannya untuk dijawab, seperti biasa juga.

Leave me, and I die (complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang