"Kau kan yang memberitahu orangtuaku?"
Langkah Kahaya untuk mengepel lantai terhenti saat Kahaya mendengar hal itu.
"Apa.. maksudmu?"
Melihat senyum miring dari Ratna, Kahaya, sangat bingung.
Berdiri, Ratna meraih pel ditangannya dan membuang itu, "Jangan menganggapku bodoh Kahaya"
"...Apa maksudmu Ratna, aku benar benar tidak mengerti"
Sebelum mendapat jawaban, kepalanya telah miring karena rambutnya ditarik
Tarikannya sangat kuat, membuat Kahaya hanya mampu mengatakan "ahk" karena kesakitan.
"Jangan berpura-pura bodoh! Aku tau kau yang memberitahu mereka aku memasukan pacarku kedalam kamar" menarik lebih kuat lagi, Ratna rasanya ingin merontokan rambut gadis ini sekarang, "kau juga memberitahu orangtuaku bahwa kami berada didalam kamar selama 7 jam?!"
Tidak mampu memproses semua informasi karena kesakitan, Kahaya berteriak, "serius, apa kau gila ratna?!"
Dia saat ini benar benar marah.
"Aku bahkan tidak tau apapun!!" Dengan itu, Kahaya membalas dengan menarik rambut Ratna juga
Mungkin karena kebisingan ini, para karyawan yang ada dibawah berlarian naik kelantai 2 untuk melihat
Dan mereka akhirnya dilerai
Dan Kahaya hanya berhasil menggenggam beberapa helai, sementara rambutnya mungkin banyak yang sudah rontok ditangan Ratna.
Dia mungkin botak.
Karena kepalanya saat ini mati rasa karena tarikan demi tarikan.
Kahaya tidak mampu merasakan keberadaan rambutnya lagi saat ini.
Ke 23 karyawan itu masuk kedalam kamar, sehingga ruangan yang cukup besar ini dipenuhi dengan banyak orang.
Sangat penuh.
Melihat kerumunan orang lalu melihat keadaannya sendiri yang berantakan, Kahaya berfikir bahwa...
Keadaan ini sangat memalukan.
Saat itu bu Mustofa dan pak Suroto yang baru datang, langsung masuk dengan panik melihat keadaan mereka
Saat mereka disidang, Ratna yang berteriak- teriak pada kedua orang tuanya, dan bu Mustofa dengan pak suroto yang berbicara dengan lembut pada ratna, membuat fikirannya hanya linglung
Dengan,
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa dia.. ada diposisi ini?
Dan kata kata yang keluar darinya adalah, "aku ingin berhenti"
Yang membuat ketiga orang itu akhirnya memusatkan perhatian mereka padanya.
"Kahaya.. nak?" Mustofa bertanya, seperti dia baru memiliki indra pendengaran.
"Aku ingin berhenti bu" kahaya menatap mereka, mengulangi lagi.
Mereka terdiam, bahkan Ratna yang berteriak teriak tadi juga menutup mulutnya.
Semuanya akhirnya sunyi, dan dia hanya ingin mengeluarkan semua saat semua sudah menjadi seperti ini, kahaya mungkin sudah kehilangan akal, "Ratna, aku tidak tau kenapa kau membenciku dari dulu, aku tidak mengerti alasannya. Dan saat ini aku tidak ingin mengerti lagi, karena itu tidak perlu. Aku akan keluar dari sini"
"Karna aku iri padamu"
Saat kahaya beranjak dari duduknya, kahaya mendengar suara yang sangat kecil, tetapi dia tahu bahwa itu suara ratna
Tersenyum, kahaya seperti mempertanyakan dunia, "bukankah harusnya sebaliknya? Kenapa kau iri padaku, Anak yatim piatu yang tidak memiliki apa apa ini?"
"Kau memiliki segalanya! Masuk koran! Berita! Anak terpintar seprovinsi, bersama pacarmu itu! Aku, aku selalu berakhir dengan situasi dibanding-bandingkan denganmu! Itu membuatku sesak!" Suara yang hilang dari Ratna kembali lagi, dan itu semakin meledak dalam dirinya.
Bingung, kemudian semuanya membuat Kahaya tidak memikirkan resiko apapun lagi, "karna aku berusaha untuk mendapatkan itu semua Ratna! Itu semua aku capai dengan usahaku sendiri, sampai aku mimisan, jatuh sakit, ingin muntah karna terlalu banyak menghafal, sakit kepala memikirkan semua soal-soal, bekerja untuk mendapatkan uang menghidupiku nanti untuk makan, semuanya! Semuanya aku dapatkan dengan usahaku sendiri! ... Sedangkan kau? Kau? Kau hanya, terlahir dengan semuanya. Tetapi, kau tidak menghargai itu semua!"
Mendekat dan menunjuk dada Ratna dengan jari telunjuknya, kahaya mendorongnya mundur, "Jadi dimana aku salah sebenarnya? Salahkah aku untuk hanya bernafas, mencari makan, belajar seperti orang normal lakukan? Tidak. Aku tidak salah melakukan itu semua. Yang salah adalah dirimu disini. Kau tidak menghargai apa yang kau punya Ratna, karna kau tidak tau bagaimana berharganya itu untuk orang lain"
Dengan itu, semuanya terjadi begitu saja, tidak membawa apapun selain baju yang dipakainya
Di jam 5 sore saat seharusnya rumah makan sudah siap, kahaya keluar dengan berlari turun kebawah mengabaikan kak Leoni yang menghampirinya, serta semua karyawan yang ingin bertanya, lalu berjalan lagi tanpa tujuan
Saat sudah sangat jauh, Kahaya terduduk di bangku pinggir jalan, sendirian, melihat matahari yang akan berubah menjadi orange.
Kahaya baru tersadar saat lampu jalan diatas kepalanya berkedip dan menyala.
Menandakan bahwa malam telah datang.
Ternyata sudah gelap.
Dia tidak menyadarinya.
Tidak membawa uang apapun pada dirinya, handphonenya juga tertinggal di kamar, Kahaya akhirnya memiliki tujuan.
Saat Kahaya sampai di warnet, itu sudah pukul 7 malam, butuh 1 jam untuk berjalan dari tempatnya tadi
Berhenti di pintu warnet, Kahaya melihat Bara yang sekarang tengah sibuk menelpon seseorang
Dia terlihat sangat khawatir tentang sesuatu sampai tidak menghiraukan semua orang yang ingin membayar.
Saat Bara akhirnya melihat keatas, dan bertatap mata dengan nya.
Barulah kahaya meneteskan air matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me, and I die (complete)
Romantizm"Ibu kahaya sebagai pasangan yang dari kecil telah bersama, Apa kebiasaan bapak Bara yang membuat anda takut?" Kahaya merenung, dan memikirkan, lalu membuka mulutnya. " ini. Cara dia menatapku. Tatapannya terkadang membuatku sedikit takut. Sebenarny...
